Mengenal Filosofi Sunda Menjaga Alam Lewat Wisata Desa Sukamurni di Garut

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menjajal sektor pariwisata di Desa Sukamurni, Kabupaten Garut.  Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menjajal sektor pariwisata di Desa Sukamurni, Kabupaten Garut. Foto: kumparan

Di tengah berkembangnya destinasi wisata yang menawarkan berbagai wahana dan atraksi modern, Desa Sukamurni di Kabupaten Garut, menghadirkan konsep berbeda.

Desa yang berada di kawasan kaki Gunung Cikuray ini menawarkan pengalaman wisata berbasis kearifan lokal, dengan mengajak pengunjung memahami bagaimana masyarakat Sunda sejak dahulu membangun hubungan harmonis dengan alam.

Tidak mengandalkan fasilitas wisata besar-besaran, Desa Sukamurni memilih menjadikan kehidupan masyarakat, cerita leluhur, kondisi hutan, hingga pengetahuan tradisional mengenai tata ruang sebagai daya tarik utama.

Konsep yang dikembangkan pun bukan sekadar menghadirkan sebuah desa sebagai destinasi wisata, melainkan menjadikan kehidupan masyarakat desa itu sendiri sebagai pengalaman yang dapat dipelajari para pengunjung.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Berkah Tani, Hendra Anggara, mengatakan konsep tersebut sengaja dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda dari pengelolaan destinasi wisata pada umumnya.

"Jadi bukan desa wisata, yang dikembangkan wisata desa. Yang kita tawarkan pada wisatawan tata nilai masyarakat Sunda, terutama dalam hal hubungan dengan alam," ujar Hendra, Minggu (8/11/2026).

Menurutnya, potensi wisata Desa Sukamurni tidak hanya terletak pada keindahan bentang alam di kaki Gunung Cikuray, tetapi juga pada pengetahuan masyarakat mengenai lingkungan yang diwariskan secara turun-temurun.

Pengetahuan tersebut menjadi dasar dalam pengelolaan kawasan hutan, pemanfaatan sumber daya alam, hingga penentuan ruang kehidupan masyarakat.

Hendra menjelaskan, pengembangan wisata Desa Sukamurni berangkat dari pengetahuan tradisional masyarakat Sunda yang dikenal dengan metode Patanjala. Hal itu berkaitan dengan pengaturan dan pemanfaatan ruang berdasarkan karakteristik alam serta kondisi daerah aliran sungai (DAS).

Ilustrasi Gunung Cikuray. Foto: Ivan Effendy Halim/Shutterstock

Dalam tradisi Sunda, dijelaskan Hendra, Gunung Cikuray juga dikenal dengan nama Gunung Larang Srimanganti, yang dikaitkan dengan naskah kuno Amanat Galunggung.

Naskah kuno tersebut menjadi salah satu rujukan pengetahuan masyarakat Sunda mengenai hubungan manusia dengan alam, termasuk pentingnya menjaga kawasan ekologis.

Gunung Cikuray, menurutnya, memiliki peranan penting sebagai kawasan hulu sejumlah aliran sungai, di antaranya Cikaengan dan Ciwulan yang mengalir menuju pantai selatan Jawa, serta beberapa sub-DAS Cimanuk yang bermuara ke wilayah pantai utara.

Melalui pendekatan Patanjala, pengelolaan kawasan dibagi menjadi tiga bagian, yakni larangan, tutupan, dan baladahan.

“Kawasan larangan merupakan wilayah yang harus dijaga dan tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan. Sementara kawasan tutupan dapat dimanfaatkan secara terbatas, sedangkan baladahan menjadi ruang untuk kegiatan produksi masyarakat,” jelasnya.

Prinsip itulah yang kemudian diterapkan LPHD Berkah Tani dalam mengelola kawasan Perhutanan Sosial seluas 856 hektare yang berada di DAS Cipasang, bagian dari sub-DAS Ciwulan.

Dari hasil pemetaan menggunakan metode Patanjala, diketahui bahwa hanya sekitar 180 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai kawasan produksi. Adapun sebagian besar wilayah lainnya ditetapkan sebagai kawasan tutupan dan larangan untuk menjaga fungsi ekologisnya.

Kondisi tersebut mendorong pengelola mencari sumber ekonomi alternatif yang tidak harus bergantung pada pemanfaatan lahan secara langsung. Salah satu pilihannya adalah mengembangkan wisata berbasis pengetahuan lokal dan pengalaman kehidupan masyarakat.

Berbeda dengan wisata alam yang umumnya menawarkan panorama pegunungan atau aktivitas rekreasi, konsep wisata Desa Sukamurni mengajak pengunjung memahami hubungan antara nama tempat dengan kondisi lingkungannya.

Hendra mencontohkan, banyak nama wilayah di Jawa Barat yang diawali dengan kata "Ci". Dalam pengetahuan Patanjala, penamaan tempat tersebut memiliki keterkaitan dengan karakteristik alam dan keberadaan sumber air.

Hal serupa juga ditemukan pada sejumlah nama kampung di Desa Sukamurni yang memiliki hubungan dengan tanda-tanda alam di sekitarnya. Para wisatawan nantinya diajak menjelajahi kawasan tutupan bersama pemandu yang telah mendapatkan pembekalan mengenai pengetahuan lokal.

Dalam perjalanan tersebut, pengunjung tidak hanya mendengarkan cerita, tetapi juga melihat secara langsung kondisi alam yang menjadi dasar penamaan suatu kawasan.

"Nanti pemandu yang telah dididik akan menjelaskan bagaimana nama suatu tempat identik dengan kondisi alamnya. Ada tanda-tanda alam yang bisa dilihat dan tanda alam itu yang jadi dasar penamaan tempat," ucap Hendra.

Menurutnya, cara tersebut sekaligus memperkenalkan etika komunikasi masyarakat Sunda yang mengajarkan seseorang untuk tidak membicarakan sesuatu sebelum mengetahui atau menyaksikannya secara langsung. Prinsip tersebut dikenal melalui ungkapan "Hamo Dibasa Mun Can Disaba".

"Hamo Dibasa Mun Can Disaba, itu etika komunikasi masyarakat Sunda. Jadi pengunjung bukan hanya dijelaskan, tapi juga bisa melihat langsung tanda atau ciri alam yang jadi alasan penamaan tempat," katanya.

Menjajal sektor pariwisata di Desa Sukamurni, Kabupaten Garut. Foto: kumparan

Melalui pengalaman tersebut, wisatawan diharapkan memperoleh pemahaman mengenai cara masyarakat Sunda membaca kondisi alam sekaligus menentukan batas pemanfaatan lingkungannya.

Pengunjung juga dapat mempelajari alasan suatu kawasan ditetapkan sebagai wilayah tutupan maupun baladahan berdasarkan karakteristik ekologisnya.

Menariknya, pengalaman wisata yang ditawarkan Desa Sukamurni tidak hanya berkaitan dengan kawasan hutan dan lingkungan pegunungan.

LPHD Berkah Tani juga mulai memetakan potensi ekonomi dan sosial masyarakat di setiap rukun warga (RW) untuk dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan wisata. Salah satu potensi yang dinilai menarik adalah cerita mengenai aktivitas masyarakat Desa Sukamurni sebagai pedagang cuanki.

Hendra mengungkapkan, cukup banyak warga Desa Sukamurni yang bekerja sebagai pedagang cuanki di berbagai kota di luar Kabupaten Garut.

Fenomena tersebut menjadi bagian dari cerita ekonomi masyarakat yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan, mulai dari kehidupan warga hingga aktivitas usaha yang berkembang dari desa.

"Tiap RW punya potensi wisata unggulan yang bisa wisatawan pelajari," ungkapnya.

Dengan pendekatan tersebut, setiap wilayah di Desa Sukamurni diharapkan memiliki daya tarik tersendiri tanpa harus membangun atraksi wisata buatan. Namun, Hendra menegaskan bahwa konsep wisata yang dikembangkan memang tidak ditujukan untuk menarik kunjungan dalam jumlah besar.

Masyarakat, menurutnya justru ingin mempertahankan nilai sosial dan budaya yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan desa. Pengembangan wisata secara massal dikhawatirkan membawa perubahan yang dapat mengikis nilai-nilai lokal tersebut.

Karena itu, pembangunan infrastruktur wisata tidak dilakukan secara berlebihan. Wisatawan yang datang justru diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat setempat.

"Makanya, tidak banyak infrastruktur yang dibangun. Pengunjung harus menyesuaikan dengan kehidupan orang Sukamurni, karena ini yang jadi daya tariknya," tegas Hendra.

Sementara, Ketua Baresan Incu Putu Pangauban (BIPP), Anwar Maulana, menilai pengembangan wisata Desa Sukamurni memiliki peluang menjadi contoh pariwisata yang mengedepankan pelestarian lingkungan dan kebudayaan.

Menurutnya, banyak destinasi wisata saat ini lebih berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung dengan menghadirkan berbagai atraksi tambahan. Padahal, kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan hubungan baik dengan alam dapat menjadi daya tarik tersendiri tanpa harus mengubah karakter asli wilayah tersebut.

Anwar menilai Desa Sukamurni memiliki kekayaan cerita dan pengetahuan tradisional yang layak diperkenalkan kepada masyarakat luas.

"Potensi wisatanya cerita saja, jangan yang lain. Cerita tentang orang Sunda dulu yang hidup harmoni dengan alamnya. Desa Sukamurni ini kan alamnya masih bagus karena masyarakatnya hidup harmoni dengan alam, tidak merusak alam, itu saja yang dijual," tegasnya.

Ia menjelaskan, masyarakat Sukamurni sebenarnya memiliki pengetahuan mengenai berbagai tanda alam dan nilai kehidupan yang diwariskan oleh para orang tua. Namun, pengetahuan tersebut belum seluruhnya mampu dikemas menjadi cerita yang menarik dan mudah dipahami oleh pengunjung.

Oleh karena itu, pengembangan wisata desa juga disertai pelatihan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyampaikan cerita dan menjelaskan pengetahuan lokal.

"Karena cerita ini jadi potensi wisata, makanya ada pelatihan, peningkatan kapasitas warga," jelasnya.

Menjajal sektor pariwisata di Desa Sukamurni, Kabupaten Garut. Foto: kumparan

Pengembangan wisata Desa Sukamurni juga mendapatkan pendampingan dari kalangan akademisi, salah satunya melalui Locus Perhutanan Sosial School of Business and Management (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ketua Locus Perhutanan Sosial SBM ITB, Juliansyah Putra, mengatakan konsep tersebut merupakan bagian dari pendekatan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan kawasan Perhutanan Sosial.

Menurutnya, pengembangan ekonomi masyarakat perlu berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan serta pelestarian pengetahuan lokal.

"Kita perlu memastikan penguatan ekonomi masyarakat berjalan seiring dengan perlindungan ekologi dan keberlanjutan pengetahuan lokal," ujarnya.

Juliansyah menjelaskan, pengembangan wisata berbasis pengetahuan tradisional membutuhkan pendekatan yang tidak hanya melihat potensi ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, dan ekologis masyarakat.

Melalui program societal impact, SBM ITB mengembangkan pendampingan secara kolaboratif dengan melibatkan peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Yayasan Sri Manganti Lestari, BIPP, serta Universitas Garut (Uniga).

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk merumuskan model wisata desa yang berakar pada pengetahuan lokal Sunda dan tetap memperhatikan keberlanjutan kawasan hutan.

Anggota tim societal impact Locus Perhutanan Sosial SBM ITB, Erlangga Mahardika, menambahkan bahwa keterlibatan akademisi dari berbagai bidang diperlukan agar pengembangan wisata tidak hanya berfokus pada kepentingan pariwisata.

"Mitra dan peneliti lintas disiplin kami gandeng agar pengembangan wisata desa ini tidak hanya mempertimbangkan aspek wisata, tapi juga konteks sosial, budaya dan ekologis," jelasnya.

Melalui pendekatan tersebut, Desa Sukamurni diharapkan mampu menghadirkan alternatif pengembangan pariwisata yang tetap memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian alam dan kehidupan sosial masyarakat.