NasDem Targetkan Suara Naik di Pemilu 2029: Ingin Tampil Jadi Partai Gagasan

Ketua DPP Partai NasDem Taufik Basari menargetkan peningkatan perolehan suara partainya pada Pemilu 2029. Ia mengatakan partainya selama ini selalu berhasil meningkatkan perolehan suara dan kursi dalam setiap pemilu yang diikuti.
“Jadi yang jelas tentu kita menginginkan ada peningkatan suara dari pemilu yang lalu di mana selama pemilu yang telah dijalankan oleh NasDem, kita selalu berhasil untuk meningkatkan perolehan kursi dan suara di tiap pemilunya,” kata Taufik di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/10).
Taufik menegaskan NasDem ingin mempertahankan tren positif yang telah dicapai dalam pemilu-pemilu sebelumnya.
“Tentu kita berharap ini akan berlanjut sebagai satu grafik yang akan terus menaik ya. Dan oleh karena itu, yang saat ini dilakukan oleh NasDem adalah kita melakukan konsolidasi terus-menerus ya di berbagai kepengurusan di seluruh daerah,” ungkapnya.
Di sisi lain, NasDem ingin memperkuat perannya sebagai partai gagasan. Dengan demikian, aktivitas partai tidak hanya berfokus pada upaya memperoleh suara dalam pemilu, tetapi juga pada penyampaian ide dan pendidikan politik kepada masyarakat.
“Kita juga ingin tampil sebagai partai yang tidak hanya partai pemilu, tapi partai gagasan ya sebagai juga tugas dari partai politik untuk memberikan pendidikan politik bagi publik,” ujarnya.
Taufik menilai, keberhasilan politik gagasan tersebut turut bergantung pada sikap masyarakat dalam memandang politik. Menurutnya, masyarakat yang semakin kritis dapat menjadi peluang bagi NasDem untuk memperkenalkan gagasan-gagasan yang ditawarkan partai.
“Ya mudah-mudahan dengan adanya masyarakat yang semakin kritis, itu justru menguntungkan bagi NasDem karena kita cuma melemparkan politik gagasan tersebut. Tapi sebaliknya, kalau masyarakat malah punya kecenderungan semakin pragmatis, tentu politik gagasan ini akan sulit untuk berjalan,” ucapnya.
Karena itu, Taufik mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi dinamika politik dan tidak memandang pemilu semata-mata sebagai ajang transaksi untuk mendapatkan keuntungan tertentu.
“Oleh karena itu, saya juga ingin mengajak kepada seluruh kalangan masyarakat, ayo kita kritis dalam melihat politik ini dan jangan kemudian termakan menjadi orang-orang yang pragmatis, orang-orang yang melihat pemilu hanya sebagai pesta transaksional, tapi dia harus benar-benar menjadi pesta demokrasi yang substantif,” ungkapnya.
Ia menilai, partai politik memiliki tanggung jawab untuk memastikan demokrasi tidak berhenti pada proses pemungutan suara, tetapi juga diwujudkan melalui kerja nyata.
“Oleh karena itu, demokrasi harus diartikan dari rakyat, oleh rakyat, dan yang paling penting, untuk rakyat. Untuk rakyatnya ini adalah tantangan bagi partai politik untuk mampu bekerja demi kepentingan rakyat,” pungkas dia.
