Nenek Ungkap Kondisi Balita di Karawang yang Kemaluannya Ditusuk: Susah Kencing

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi lingkungan rumah balita korban penganiayaan di Desa Jomin Timur, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Karawang, Jumat (16/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi lingkungan rumah balita korban penganiayaan di Desa Jomin Timur, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Karawang, Jumat (16/10/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Seorang balita berusia 3 tahun yang menjadi korban dugaan penganiayaan oleh anak berusia 9 dan 13 tahun di Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, masih merasakan sakit saat buang air kecil meski telah menjalani operasi.

Selain itu, luka pada organ vital korban itu masih mengalami pembengkakan dan perdarahan.

Hal tersebut disampaikan nenek korban berinisial T saat ditemui di kediamannya di Desa Jomin Timur, Kecamatan Kotabaru, Karawang, Jumat (16/10).

T mengatakan kondisi cucunya mulai membaik. Korban sudah mau makan, tetapi masih merasakan sakit pada bagian tubuh yang mengalami luka, terutama saat buang air kecil.

“Kalau makan sih udah mau. Ya tinggal itunya aja, kemaluannya aja yang belum itu,” kata T yang meminta namanya diinisialkan.

instagram embed

Ia menuturkan, cucunya masih mengalami perdarahan meski tidak dalam jumlah banyak. Kondisi tersebut terjadi setelah korban menjalani operasi untuk menangani luka pada bagian intimnya.

“Jadi belum kering atau gimana ya? Tapi masih terus pendarahan, walaupun enggak banyak,” ujarnya.

T mengatakan cucunya juga masih merasakan sakit ketika bagian tubuh yang memar tersentuh.

“Cucu saya bilang, 'Bubu, pegang Dedek [saya] ini sakit.' Ya karena memang ini ada memarnya,” tuturnya.

Selain luka pada bagian intim, korban juga mengalami pembengkakan dan memar di sejumlah bagian tubuh. T menyebut, berdasarkan penjelasan dokter yang diterimanya, luka akibat tusukan benda tersebut turut mempengaruhi saluran kencing korban.

TKP kejadian penganiayaan balita di kolong rel kereta api, Desa Jomin Timur, Kotabaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat (16/10). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Setelah menjalani operasi, korban mendapat penanganan pada saluran kencing agar dapat buang air kecil.

Meski demikian, proses pemulihan belum sepenuhnya selesai. T menyebut cucunya masih menangis saat buang air kecil karena merasakan sakit.

“Kalau kencing, ngejerit tuh. Nangis-nangis tuh, 'Sakit, sakit!' gitu. Kadang enggak mau pipis,” ujarnya.

Proses Hukum

Sementara itu, kakek korban berinisial Z mengatakan keluarga sempat khawatir dengan kondisi korban. Setelah mendapat penanganan awal dari bidan desa, korban dibawa ke rumah sakit. Namun, keluarga sempat mengalami kendala karena tidak mendapatkan ruang perawatan di sejumlah rumah sakit yang dihubungi.

“Selanjutnya disarankan untuk ke rumah sakit, dibawalah ke Helsa. Helsa tidak ada ruangan, kita juga sempat telepon ke RS Paru. Terus di mana-mana dikatakan penuh,” kata Z.

Z mengatakan keluarga kemudian membawa korban ke rumah setelah mendapatkan penanganan awal. Namun, ketika korban mengeluhkan rasa sakit saat hendak buang air kecil, keluarga kembali khawatir dan memutuskan membawanya ke rumah sakit yang lebih besar.

“Begitu ada keluhan sakit pada saat mau kencing, rasa ketakutan tinggi, dibawalah ke Siloam. Diterima, ditangani dengan bagus,” ujarnya.

Z mengatakan keluarga menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang. Ia berharap kasus tersebut diproses sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau soal itu, silakan saja diproses hukum sesuai dengan aturan hukum. Kita tidak akan menghambat proses hukum berjalan,” tutup Z.