Pemilu Sela AS 2026: Demokrat Berpeluang Kuasai DPR dan Senat, Trump Terancam

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kandidat Senat AS dari Partai Demokrat Abdul El-Sayed memberi isyarat kepada para pendukungnya saat berkampanye di Dearborn, Michigan, AS, Jumat (31/7/2026). Foto: Rebecca Cook/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Kandidat Senat AS dari Partai Demokrat Abdul El-Sayed memberi isyarat kepada para pendukungnya saat berkampanye di Dearborn, Michigan, AS, Jumat (31/7/2026). Foto: Rebecca Cook/REUTERS

Partai Demokrat berpeluang merebut kendali DPR dan Senat Amerika Serikat dalam pemilu sela yang digelar Selasa (3/11) besok. Jika berhasil, kemenangan tersebut dapat mengubah peta kekuasaan di Kongres sekaligus menjadi tantangan politik bagi Presiden Donald Trump dalam menjalankan pemerintahannya.

Pemilu sela (midterm elections) adalah pemilihan umum yang digelar di tengah masa jabatan presiden AS yang berlangsung selama empat tahun, tepatnya setiap dua tahun sekali.

Dalam pemilu ini, warga memilih seluruh anggota DPR dan sekitar sepertiga anggota Senat. Hasilnya dapat mengubah komposisi kekuasaan di Kongres dan mempengaruhi kebijakan presiden.

Gedung Capitol tempat anggota DPR dan Senat AS (Kongres) bersidang Foto: ItzaVU/Shutterstock

Dikutip dari AFP, Senin (2/11), hasil berbagai jajak pendapat menunjukkan Demokrat hampir pasti merebut mayoritas DPR dari Partai Republik dalam pemungutan suara Selasa besok. Demokrat juga memiliki peluang nyata untuk memenangi Senat.

Konsensus di kalangan analis menunjukkan dukungan terhadap Demokrat sedang menguat.

Trump Janjikan USD 5.000/Orang

Trump menjadi tokoh utama dalam kampanye terakhir Partai Republik. Dia menggelar rapat umum untuk mendukung kandidat partainya di Iowa dan Kansas pada Minggu (1/11).

Kedua negara bagian tersebut biasanya merupakan wilayah yang cukup aman bagi Partai Republik sehingga tidak semestinya membutuhkan dukungan langsung dari presiden.

Demonstran menggelar aksi protes "No Kings"menentang kebijakan pemerintahan Presiden AS Donald Trump di Los Angeles, California, AS, Sabtu (28/3/2026). Foto: Jim Vondruska/ REUTERS

Trump juga melontarkan tuduhan bahwa Demokrat akan mengubah Amerika menjadi negara komunis. Dia bahkan menjanjikan pembayaran sebesar 5.000 dolar AS kepada setiap orang dewasa jika Partai Republik menang pemilu.

"Kita akan menang," kata Trump kepada massa di Iowa.

Dia menggambarkan Demokrat sebagai kelompok radikal ekstrem dan berbahaya yang akan merampas kekayaan warga serta membiarkan para migran masuk untuk melakukan penjarahan dan kekerasan.

Para pengunjuk rasa pro-Palestina yang membawa gambar Presiden Donald Trump berkumpul dalam sebuah demonstrasi sebelum berbaris menuju kantor pusat Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE), Sabtu, 5 April 2025, di Washington. Foto: AP/Manuel Balce Ceneta

Namun, hasil jajak pendapat menunjukkan masyarakat Amerika semakin tidak puas terhadap kepemimpinan Trump.

Survei NBC News yang dirilis Minggu (1/11) menunjukkan 60 persen responden tidak menyetujui kinerja Trump. Ketidakpuasan terutama berkaitan dengan tingginya harga barang yang diperburuk oleh perang Iran yang telah berlangsung selama delapan bulan dan belum menunjukkan hasil yang jelas.

Batasi Kekuasaan Trump

AFP melaporkan, meskipun hari pemungutan suara berlangsung Selasa besok, sebanyak 54 juta warga Amerika telah memberikan suara melalui pemungutan suara lebih awal. Jumlah tersebut merupakan rekor dan mencerminkan tingginya antusiasme politik masyarakat.

Masa jabatan kedua Trump ditandai dengan perluasan kekuasaan presiden secara terus-menerus, yang didukung Partai Republik yang semakin mengikuti kebijakan Trump.

Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP

Trump telah merombak sebagian bangunan Gedung Putih untuk membangun ballroom, memasang gambar dirinya pada uang dan gedung-gedung resmi, mengganggu perekonomian global melalui kebijakan tarif perdagangan berskala luas, serta mengancam akan menginvasi atau mencaplok wilayah sekutu seperti Kanada dan Greenland.

Kemenangan besar Demokrat dapat menjadi awal dari berakhirnya era politik Trump sekaligus membuka persaingan untuk mencari penggantinya dalam pemilihan presiden 2028.

Jika berhasil memenangi DPR, Demokrat akan memiliki kendali atas anggaran federal dan berbagai komite penting yang memiliki kewenangan melakukan penyelidikan.

Orang-orang melihat patung Presiden AS Donald Trump dan mendiang terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein di depan Gedung Capitol AS di Washington, DC, Selasa (10/3/2026). Foto: Brendan Smialowski/AFP

Komite-komite tersebut dapat menyelidiki dugaan korupsi, hubungan Trump dengan Jeffrey Epstein yang dikenal sebagai pelaku kejahatan seksual, serta berbagai persoalan kontroversial lainnya.

Sementara itu, hasil perebutan Senat masih belum dapat dipastikan. Saat ini Partai Republik menguasai mayoritas 53 berbanding 47 kursi. Hanya sekitar sepertiga dari total 100 kursi Senat yang diperebutkan dalam pemilu sela kali ini.

Survei terakhir New York Times/Siena yang dirilis Minggu (1/11) malam menunjukkan kandidat Demokrat unggul di tujuh daerah pemilihan Senat yang dianggap paling kompetitif. Meski demikian, lima dari tujuh persaingan tersebut masih berada dalam batas margin of error sehingga hasilnya belum dapat dipastikan.

Jika Demokrat berhasil menguasai Senat, mereka dapat menghambat pengangkatan pejabat dan hakim federal seumur hidup yang diajukan Trump, khususnya calon hakim Mahkamah Agung.

Tolak Hasil Pemilu jika Kalah?

AFP mengungkapkan, pemilu sela kali ini diwarnai belanja iklan kampanye yang mencapai sekitar 11 miliar dolar AS (sekitar Rp 200 triliun).

Mayoritas dana tersebut berasal dari para donatur individu dengan kekayaan sangat besar, seperti Elon Musk yang menyumbang hampir 500 juta dolar (hampir Rp 9,1 triliun).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan plakat kunci gedung putih kepada pengusaha Elon Musk saat konferensi pers di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (30/5/2025). Foto: Allison Robbert/AFP

Kampanye juga diwarnai bahasa politik yang keras dan berbagai penghinaan. Trump menjadi salah satu tokoh yang paling sering melontarkan serangan verbal.

Di tengah semua itu, muncul kekhawatiran bahwa Partai Republik mungkin menolak menerima kekalahan jika hasil pemilu tidak sesuai harapan mereka.

Pendukung Presiden AS Donald Trump melakukan protes di depan Arizona State Capitol di Phoenix setelah pemilihan presiden AS 2020 dimenangkan Joe Biden, Sabtu (7/11/2020). Foto: JIM URQUHART/REUTERS

Situasi tersebut berpotensi memicu krisis konstitusional seperti yang terjadi ketika Trump berupaya membatalkan hasil kekalahannya atas Joe Biden (Demokrat) dalam pemilihan presiden 2020.