Prabowo Bicara Garis Politik: Mau Jadi The Good Neighbor-Rangkul Semua Kekuatan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto bersiap memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Presiden Prabowo Subianto menyatakan garis politik luar negeri yang ia jalankan adalah menjalin hubungan baik dengan semua negara dan tidak berpihak pada blok mana pun. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai the good neighbor policy atau kebijakan bertetangga baik.

Prabowo mengatakan, prinsip politik tersebut merupakan warisan para pendiri bangsa yang ingin menghormati semua negara, termasuk kekuatan-kekuatan besar dunia.

“Saya sudah sampaikan garis politik luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak. Saya ingin menjadi the good neighbor. Yang saya ingin jalankan adalah the good neighbor policy,” kata Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna 2 Tahun Pemerintahan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).

Ia menjelaskan, Indonesia berupaya menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga sekaligus membangun kerja sama yang saling menguntungkan.

“Dari sejak awal, bahkan sebelum saya resmi dilantik sebagai presiden, saya masih jadi menteri pertahanan dalam kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Saya mengikuti juga garis politik Pak Joko Widodo pada saat itu, kita ingin punya hubungan baik dengan semua tetangga kita. Saya keliling, saya mau kerja sama dengan mereka. Apa yang mereka minta sebagian besar saya ikuti. Dan itu yang kita berusaha kita pegang teguh,” ungkapnya.

Prabowo menegaskan, Indonesia tidak ingin terikat pada blok tertentu maupun bergabung dengan pakta militer mana pun.

“Kita hormati, kita tidak mau terlibat. Tapi kita sesuai dengan undang-undang dasar kita, kita anti imperialisme. Kita anti penjajahan,” katanya.

Menurut Prabowo, sikap tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang diwariskan para pendiri bangsa. Indonesia berupaya menghormati negara lain dan menjaga hubungan baik tanpa meninggalkan prinsip menentang imperialisme serta penjajahan.

Ia juga menegaskan kebijakan luar negeri yang dijalankan pemerintah tetap berorientasi pada kepentingan nasional. Prabowo menilai, kepentingan bangsa dan rakyat harus menjadi prioritas, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.

“Inti yang ingin saya sampaikan yang sudah berkali-kali saya sampaikan kepada saudara-saudara, kita sekarang berada dalam kondisi harus survival. Kita harus bertahan, kita harus menyelamatkan kekayaan kita, kekayaan kita, sumber alam kita. Itu adalah ibarat darah kita. Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat,” ungkapnya.

Suasana Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di halaman tengah Istana Negara, Rabu (21/10/2026). Foto: YouTube/ Sekretariat Presiden

Prabowo mengatakan, kondisi yang menuntut negara untuk bertahan tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga sejumlah negara lain di dunia.

“Saudara-saudara sekalian, kita berada dalam kondisi harus survive. Dan ini tidak hanya kita, banyak negara di dunia sekarang mengalami seperti kita. Dalam keadaan survival, yang utama adalah kepentingan nasional dan kepentingan rakyat,” ucapnya.

Prabowo menyebut prinsip mengutamakan kepentingan nasional juga diterapkan dalam politik dalam negeri. Ia mengatakan, kepentingan bangsa harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

Prabowo menegaskan, dirinya berupaya merangkul seluruh kekuatan politik di Indonesia.

“Demikian juga dalam garis politik saya dalam negeri. Saya mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan kelompok. Karena itu saya berusaha untuk merangkul semua kekuatan,” ucap Prabowo.

“Saya karena kesadaran saya bahwa kondisi global sekarang penuh kerawanan. Karena kesadaran saya melalui pengalaman saya yang cukup lama di bidang keamanan, di bidang politik, di mana politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan,” pungkasnya.