Saat Warga DKI Keluhkan Cuaca Makin Panas dan Khawatir Asap Karhutla

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana Car Free Day (CFD) di Kawasan HR Rasuna Said, Jakarta, Minggu (18/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Car Free Day (CFD) di Kawasan HR Rasuna Said, Jakarta, Minggu (18/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Sejumlah warga mengeluhkan cuaca Jakarta yang terasa semakin panas saat beraktivitas di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (18/10) pagi. Di tengah keluhan tersebut, warga berharap asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak menyebar ke Jakarta.

Dwi (40), warga Menteng Atas, Jakarta, mengatakan cuaca saat CFD kali ini terasa lebih panas dibandingkan pekan-pekan sebelumnya. Ia mengaku baru berjalan beberapa langkah, tetapi sudah merasa kepanasan dan berkeringat.

Suasana Car Free Day (CFD) di Kawasan HR Rasuna Said, Jakarta, Minggu (18/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

“Panas, makin panas. Badan kita juga berasa beda,” kata Dwi saat ditemui di CFD HR Rasuna Said.

Dwi mengaku rutin mengikuti CFD setiap Minggu bersama teman-temannya. Untuk menjaga kesehatan saat beraktivitas di luar rumah, ia biasa minum air putih dan memakai masker ketika diperlukan.

Suasana Car Free Day (CFD) di Kawasan HR Rasuna Said, Jakarta, Minggu (18/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Namun, ia tidak memakai masker saat berolahraga di CFD karena merasa pengap.

Terkait kabar asap karhutla yang berpotensi mencapai Jakarta, Dwi berharap hujan segera turun agar kebakaran di sejumlah daerah bisa dipadamkan dan asap tidak menyebar ke wilayah lain.

“Ya semoga cepat turun hujan aja biar yang di sana tuh cepat padam lah apinya, jadi asapnya enggak ke mana-mana gitu,” ujarnya.

Warga yang berkunjung ke Car Free Day (CFD) di Kawasan HR Rasuna Said, Jakarta, Minggu (18/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Keluhan serupa disampaikan Rahmat (61), warga Ciledug, Tangerang. Ia menilai polusi udara Jakarta sudah cukup tinggi sehingga pemerintah perlu mengantisipasi potensi dampak tambahan dari asap karhutla.

“Memang kalau Jakarta kan udah polusinya udah hebat ya. Ditambah lagi asap-asap begitu yang katanya udah sampai Jakarta. Ya, pemerintah sih harusnya cepat tanggap,” kata Rahmat.

"Karena banyak sekali orang yang sesak-sesak napas atau penyakit ISPA, ya," lanjutnya.

Kualitas udara Setiabudi masuk kategori sedang

Berdasarkan situs resmi pemantauan kualitas udara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, indeks standar pencemar udara (ISPU) di titik pemantauan Kantor Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Setiabudi, tercatat 76 pada pukul 09.30 WIB. Angka tersebut masuk kategori sedang.

DLH menyebut masyarakat umum masih dapat beraktivitas di luar ruangan seperti biasa. Namun, kelompok sensitif perlu memperhatikan kondisi udara. Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruangan jika mulai merasa tidak nyaman.

"Tingkat Kualitas Udara Sedang (76), umumnya masih aman, namun kelompok sensitif perlu mulai memperhatikan kondisinya. Kualitas udara masih dalam batas aman untuk masyarakat umum. Risiko gangguan kesehatan rendah, namun tetap disarankan membatasi paparan polusi dalam waktu lama," tulis DLH DKI Jakarta dalam situs resminya.

DLH DKI Jakarta juga mengimbau masyarakat menjaga hidrasi dan menyediakan masker saat berada di area berdebu atau padat kendaraan.

"Aktivitas luar ruangan masih aman dilakukan seperti biasa. Kurangi aktivitas berat di luar jika mulai terasa tidak nyaman. Tetap jaga hidrasi, terutama saat beraktivitas lama di luar. Sediakan masker jika berada di area berdebu atau padat kendaraan," katanya.

Sementara itu, data prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di kawasan Setiabudi pada pukul 09.30 WIB menunjukkan cuaca cerah dengan suhu 32 derajat Celsius dan kelembapan 54 persen.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno saat menghadiri Karnaval Sarendo Rendo di kawasan CFD Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (18/10/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Pemprov DKI siapkan langkah antisipasi

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, pemerintah daerah tetap mengantisipasi potensi dampak asap karhutla. Ia menyebut angin sudah tidak bertiup ke arah Jawa berdasarkan informasi BMKG yang diterimanya.

"Semalam juga saya mendengar dari BMKG bahwa angin sudah tidak bertiup ke Jawa. Ini mengindikasikan akan terjadi penurunan,” kata Rano saat ditemui di Jakarta, Minggu (18/10).

Rano mengatakan Gubernur DKI Jakarta telah memerintahkan rumah sakit dan puskesmas bersiap menghadapi kemungkinan peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga berencana kembali melakukan penyemprotan water mist untuk membantu meredam kabut polusi. Menurut Rano, langkah tersebut merupakan salah satu upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah.

"Cuma mungkin satu, kita akan melakukan water mist lagi, itu salah satu bukan satu-satunya cara, minimal bisa meredam kabut polusi segala macam. Dan kita tetap melakukan modifikasi cuaca," tegasnya.

Rano berharap hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah terdampak dapat membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan sehingga asap tidak terus menyebar.

"Mudah-mudahan kita senang, bahagia kemarin Palangka Raya sudah hujan, beberapa tempat juga sudah hujan. Nah, itu mudah-mudahan hari ini setelah kita berdoa, mudah-mudahan bisa segera terselesaikan kebakaran hutan dan lahan. Mungkin itu," tutup dia.