Satgas Jelaskan Alasan Rapid Test Tetap Dipakai Meski Sering Tak Akurat

kumparanNEWSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana tempat layanan rapid test untuk penumpang KA Jarak Jauh di Stasiun Tawang Semarang. Foto: Humas PT KAI Daop IV Semarang
zoom-in-whitePerbesar
Suasana tempat layanan rapid test untuk penumpang KA Jarak Jauh di Stasiun Tawang Semarang. Foto: Humas PT KAI Daop IV Semarang

Metode pemeriksaan rapid test terus mendapat sorotan dan kritik dari sejumlah pihak. Sebab, hasil rapid test tidak cukup akurat untuk mengetahui apakah seseorang telah terpapar virus corona atau tidak.

Kasus terbaru, seorang jurnalis di Jakarta bernama Hana Puspita, dinyatakan positif virus corona. Sementara hasil rapid test-nya sebanyak tiga kali menunjukkan non-reaktif.

Menanggapi hal itu, juru bicara Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, memberikan penjelasan terkait rapid test. Menurutnya, rapid test memang tidak digunakan untuk melakukan diagnostik kepada pasien virus corona.

"Rapid test digunakan hanya untk screening bukan untuk diagnostik. Dengan mengetes antibodi saja dan bukan semua orang harus menjalani tes ini, hanya yang mendapat rekomendasi dari instansi kerja," kata Wiku kepada wartawan, Selasa (18/8).

kumparan post embed

Wiku menekankan, rapid test bertujuan sebagai respons cepat untuk mendeteksi awal virus corona. Meski begitu, ia mengatakan tetap dibutuhkan tes swab atau PCR untuk memastikan apakah seseorang telah terpapar virus corona atau tidak.

"Rapid test bukan tahap final, tes PCR tetap diperlukan sebagai diagnosis akhir," ucap Wiku.

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Bakti Bawono Adisasmito memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, Jumat (24/7). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden

Rapid Test Terus Dilakukan Akibat Alat Tes Kit PCR Terbatas

Wiku juga memberikan penjelasan mengapa pemerintah masih terus melakukan rapid test meski hasilnya tidak akurat. Ia mengatakan, terbatasnya alat PCR kit menjadi salah satu penyebab rapid test masih terus dilakukan.

"Rapid masih digunakan karena kita masih menghadapi keterbatasan kapasitas test untuk PCR dan swab test," jelas Wiku.

"Di tengah situasi yang terbatas ini, kami melihat bahwa metode ini masih proper untuk digunakan, terutama di tengah masyarakat berisiko tinggi yang sedang bepergian untuk izin perjalanan dan tracing," tambahnya.

Anggota Komisi E beserta jajarannya bergantian melaksanakan rapid test di gedung DPRD Jateng. Foto: Afiati Tsalitsati/Kumparan.

Namun terlepas dari itu, Wiku mengatakan setiap test termasuk rapid test memiliki kekurangan. Maka dari itu, ia kembali menekankan rapid test sejatinya tidak digunakan untuk mendiagnosis apakah seseorang telah terpapar virus corona atau tidak.

"Setiap testing method ada kekurangannya. Termasuk rapid test sendiri bisa memberikan false negative atau false positive. Nah, situasi ini terjadi karena antibodi butuh waktu untuk diproduksi setelah gejala muncul, dan hasil positif dari rapid bisa menunjukkan infeksi lain juga. Jadi untuk saat ini rapid test digunakan untuk screening, bukan untuk diagnostik," tutupnya.