Survei KedaiKOPI: 64,4% Pemuda Khawatir Pekerjaannya Digantikan AI

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, pada Diskusi Launching Survei dengan tajuk "Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029" di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, pada Diskusi Launching Survei dengan tajuk "Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029" di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Sebanyak 64,4 persen pemuda Indonesia mengaku khawatir pekerjaannya akan tergantikan oleh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di masa depan. Kekhawatiran ini muncul di tengah sulitnya mencari pekerjaan dan kondisi keuangan yang rentan.

Temuan tersebut merupakan hasil survei Lembaga Survei KedaiKOPI yang dipaparkan dalam diskusi bertajuk “Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029” di Jakarta, Jumat (30/10).

Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, menjelaskan ancaman AI menjadi salah satu tantangan yang mulai diperhatikan pemuda dalam dunia kerja. Meski demikian, mayoritas responden masih memandang AI sebagai ancaman pada masa mendatang.

"Satu topik lagi untuk ketenagakerjaan, potensi ancaman AI dipersepsi para pemuda itu gimana, sebanyak 64,4 persen itu merasa khawatir bahwa mereka akan tergantikan oleh AI di masa depan, gitu ya,” kata Ashma.

Di sisi lain, baru 7,1 persen responden yang menganggap AI sebagai hambatan dalam mencari pekerjaan saat ini. Ashma menyebut kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan potensi AI menggantikan jenis pekerjaan tertentu.

Penggunaan teknologi ini juga mulai menjadi bagian dari keseharian pemuda. Survei mencatat 57,5 persen responden setidaknya menggunakan AI sekali dalam seminggu. Gen Z tercatat lebih banyak menggunakan teknologi tersebut dibandingkan kelompok milenial.

Ilustrasi artificial intelligence. Foto: Shutterstock

Kekhawatiran terhadap AI muncul ketika pemuda juga menghadapi kesulitan memasuki dunia kerja. Survei KedaiKOPI menemukan 74,7 persen responden menilai mencari pekerjaan di Indonesia saat ini sulit.

"Ketika kita tanya seberapa mudah sih para pemuda ini mencari kerja saat ini, ternyata 74,7% berarti 3 dari 4 orang merasa bekerja sekarang, mencari pekerjaan, mendapatkan pekerjaan itu cukup sulit. Itu rata-ratanya di 4,29. Jadi kami biasanya pakai skala 1 sampai 10, 1 sangat sulit, 10 sangat mudah gitu. Dan kalau kita lihat persebaran responsnya itu banyak di angka 5 dan 1. Yang artinya 1 tuh sangat sulit banget nih dapat kerja," jelas Ashma.

Ashma mengatakan temuan itu menunjukkan persoalan pemuda bukan terletak pada keinginan untuk bekerja, melainkan akses untuk mendapatkan pekerjaan.

“Artinya sebenarnya mereka bukan enggak mau bekerja, tapi akses untuk mendapatkan pekerjaan itu sulit di mata para pemuda ini,” ujar Ashma.

Survei tersebut juga memetakan sejumlah hambatan yang dirasakan responden. Sebanyak 56 persen menyebut kebutuhan akan koneksi atau orang dalam sebagai kendala terbesar. Berikutnya, 48 persen menilai lapangan kerja terbatas, 41,3 persen menyebut persaingan kerja semakin ketat, dan 39,2 persen menyoroti batasan usia.

Ekonom Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, menilai temuan tersebut sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut dia, meskipun tingkat pengangguran secara keseluruhan menurun, pengangguran pada kelompok usia muda justru mengalami kenaikan.

“Walaupun secara rata-rata penganggurannya turun, tapi untuk usia muda naik dari 16 ke 17,” kata Ninasapti.

Ekonom Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati, pada Diskusi Launching Survei dengan tajuk "Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029" di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Ia juga menyoroti tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 17,8 persen. Menurut dia, anak muda menghadapi hambatan ketika memasuki pasar kerja, mulai dari keterbatasan pengalaman hingga persaingan dan perkembangan teknologi.

“Berarti waktu yang muda memasuki lapang kerja, itu barrier-nya, apa hambatannya itu adalah di teknologi ada, di persaingan ada. Nah, kalau bersaing dari sisi pengalaman kerja udah pasti kalah katakan yang sudah berpengalaman,” ujarnya.

Ninasapti menilai persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah ketidaksesuaian antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja atau mismatch. Karena itu, transisi dari pendidikan menuju pekerjaan perlu mendapat perhatian pemerintah.

Tekanan pemuda tidak berhenti pada sulitnya memperoleh pekerjaan. Survei KedaiKOPI juga menemukan sebagian besar responden merasa penghasilan mereka belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sebanyak 60,2 persen responden menyatakan pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hanya 39,8 persen yang merasa penghasilannya sudah mencukupi.

Kondisi tersebut terlihat dari kebiasaan keuangan responden. Sebanyak 84,8 persen mengaku sering kehabisan uang menjelang akhir bulan. Sementara itu, 79,6 persen menyatakan belakangan ini sering menggunakan uang tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

KedaiKOPI kemudian mengukur kerentanan finansial berdasarkan empat kondisi, yakni sering kehabisan uang, menggunakan tabungan untuk kebutuhan, memiliki pekerjaan tambahan untuk mencukupi pengeluaran, dan perilaku belanja impulsif.

Responden yang mengalami sedikitnya tiga dari empat kondisi tersebut dikategorikan rentan secara finansial. Hasilnya, 59 persen pemuda masuk dalam kategori tersebut.

Ashma juga memaparkan bahwa 9,6 persen responden merupakan bagian dari generasi sandwich, yakni mereka yang menanggung kebutuhan orang tua sekaligus keluarga atau anak.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemuda yang sedang berusaha membangun kemandirian ekonomi. Di tengah penghasilan yang belum mencukupi, mereka juga harus menghadapi persaingan kerja dan perubahan kebutuhan industri.

Ninasapti mengingatkan perkembangan otomatisasi dan AI berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor. Perusahaan dapat mengganti sejumlah pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia dengan sistem atau teknologi.

Ia mencontohkan pekerjaan administratif, ritel, hingga penyusunan laporan yang mulai dapat dikerjakan dengan bantuan AI. Perubahan tersebut berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja pada sejumlah posisi.

“Kalau bisa diganti sistem, perusahaan akan menggantikannya dengan sistem, dengan coding. Jadi orangnya mengecil,” ujar Ninasapti.

Menurut dia, perubahan teknologi merupakan bagian dari perkembangan ekonomi. Namun, pemerintah perlu mengantisipasi dampaknya terhadap pekerja, terutama generasi muda yang baru memasuki pasar kerja.

Ia menilai Indonesia masih menghadapi persoalan struktural dalam ketenagakerjaan, termasuk belum kuatnya sektor industri. Pertumbuhan ekonomi yang lebih banyak bertumpu pada sektor jasa juga perlu dicermati karena sejumlah pekerjaan di sektor tersebut mulai terdampak otomatisasi.

“Jadi transisi dan kerja formal ini harus diperjuangkan, kerja formal terutama,” ujar Ninasapti.

Ia juga mengingatkan bahwa dorongan untuk berwirausaha perlu diikuti dukungan modal dan pengembangan keahlian. Sebab, sebagian pemuda mungkin memilih membuka usaha karena tidak mendapatkan pekerjaan, bukan karena melihat peluang usaha yang sesuai dengan keahliannya.

“Kabar positifnya bahwa lebih baik usaha sendiri tadi. Jangan-jangan ya ‘saya bikin usaha sendiri aja, karena percuma saya karena enggak ada koneksi, enggak ada jalur’,” ujar Ninasapti.

Jurnalis, Firdarainy N. Izzah, pada Diskusi Launching Survei dengan tajuk "Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029" di Jakarta, Jumat (30/10/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Perwakilan pemuda sekaligus jurnalis, Firdarainy N. Izzah, menilai generasi muda kerap mendapat tuntutan untuk terus meningkatkan kemampuan agar mampu bersaing di dunia kerja. Mereka diminta menguasai teknologi dan beradaptasi dengan perkembangan AI.

Namun, menurut dia, kesiapan individu perlu diimbangi dengan kesiapan sistem dan industri dalam menyediakan kesempatan kerja yang adil.

“Yang penting adalah kita sebagai anak muda siap secara individu dan bagaimana sistem yang dibangun oleh kebijakan, industri, itu juga siap untuk menyediakan kesempatan yang seadil-adilnya untuk kami semua,” kata Firdarainy.

Firdarainy menilai persoalan tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah dan industri. Sebab, tantangan yang dihadapi pemuda tidak selalu berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga akses dan kesempatan untuk masuk ke dunia kerja.

Sebelumnya, survei KedaiKOPI dilakukan secara daring pada 23-29 September 2026 terhadap 1.213 responden berusia 17-45 tahun dari 36 provinsi di Indonesia. Responden terdiri dari kelompok Gen Z berusia 17-29 tahun dan milenial berusia 30-45 tahun yang mengisi kuesioner secara daring melalui metode Computer-Assisted Self-Interviewing (CASI).

Data kemudian dibobotkan menggunakan metode iterative proportional fitting (IPF) berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan provinsi. Pembobotan dilakukan untuk menyesuaikan komposisi sampel agar lebih mendekati karakteristik populasi yang menjadi acuan penelitian.