Tawuran 3 Gelombang Pecah di Depan Stasiun Manggarai, Gerobak Dibakar

Aksi tawuran antarkelompok terjadi di depan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Minggu (18/10). Tawuran ini terjadi dalam tiga gelombang, yakni dini hari, pagi, dan berlanjut pada malam hari.
Akibat dari bentrokan itu, sejumlah gerobak hangus terbakar, lapak pedagang rusak, hingga asap pekat dari pembakaran dilaporkan mencapai area stasiun.
Menurut kesaksian warga di lokasi, Andhika, ia mengatakan tawuran melibatkan warga yang tinggal di sekitar depan Stasiun Manggarai dengan warga lain yang disebut sebagai warga Tuyul.
Saat bentrokan pertama terjadi pada dini hari, Andhika mengaku tidak terlalu mengetahui kronologinya. Namun, ia menceritakan bentrokan itu berlanjut hingga Minggu pagi sekitar pukul 10.00 WIB.
Sepengetahuannya, perselisihan itu diduga berawal dari saling ejek antara kedua kelompok warga.
“Perseteruannya karena ledekan-ledekan awalnya. Awalnya yang anak Tuyul itu mabuk katanya. Terus ya gitulah, namanya orang mabuk, jadi mungkin sensi sama warga sini, akhirnya terjadilah tawuran,” kata Andhika saat kumparan ditemui di lokasi, Minggu (18/10).
Andhika menerangkan, warga melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tebet sekitar pukul 10.10 WIB. Polisi pun tiba di lokasi beberapa menit kemudian untuk melerai bentrokan.
Situasi sempat kondusif sekitar pukul 10.50 WIB. Polisi kemudian berjaga di lokasi dan menggelar pertemuan bersama pengurus RT dan RW setempat.
“Nah, habis itu udah mulai kondusif, polisi pada jaga di sini kan, bikin pos juga dan melakukan rembukan ya dengan RT RW, rapat di kantor sekretariat RW 04,” kata Andhika.
Kendati situasi sempat kondusif, bentrokan kembali pecah pada sore hari sekitar pukul 17.30 WIB. Berdasarkan kesaksian Andhika, perselisihan lagi-lagi terjadi karena diduga masih ada dendam di antara kedua kelompok warga.
“Setelah itu tim Polsek Tebet sama polres tiba di lokasi. Ada Kapolres juga hadir,” ujarnya.
Gerobak Dibakar, Lapak Pedagang Dirusak
Selama bentrokan terjadi, Andhika menyebut sejumlah barang dan tempat milik pedagang turut menjadi sasaran.
“Ada gerobak bensin eceran. Terus itu juga dihancurin, (lapak) tukang pisang tanduk Mpok Nur dihancurin. Kacanya pecah,” terang Andhika.
Ia juga mengatakan sejumlah sepeda motor sempat dirusak dalam kejadian itu. Dua hingga tiga sepeda motor mengalami kerusakan setelah dilempari batu.
“Cuma udah dibawa sama warga ya. Digebukin, dilemparin semua pakai batu (motornya),” ujar Andhika.
Kata Andhika, lapak dagangan di depan Stasiun Manggarai menjadi sasaran tawuran karena diduga adanya dendam antara kedua kelompok itu.
“Iya, dihancur-hancurin. Karena memang warga sana (Tuyul) kan dendam sama warga sini (depan stasiun), jadi dia ngincer dagangan di sini gitu,” tutur Andhika.
Dia menilai, bentrokan di depan stasiun bukan merupakan kejadian yang biasa terjadi di titik tersebut. Menurut Andhika, tawuran biasanya berlangsung di kolong jembatan yang berada tidak jauh dari lokasi.
“Biasanya enggak pernah di sini, biasanya di kolong. Ini baru juga nih kalau ini,” katanya.
Situasi pun disebut mulai kondusif sekitar pukul 18.30 WIB, menjelang waktu salat Isya. Kata Andhika, aparat kepolisian bersama TNI menggunakan gas air mata untuk meredamkan bentrokan.
“Tim dari kepolisian tadi sama TNI itu sudah pakai gas air mata. Karena situasinya secara halus enggak bisa kondusif, akhirnya terpaksa pakai gas air mata, akhirnya baru bisa reda,” jelasnya.
Hasil dari bentrokan itu turut menghasilkan kepulan asap pekat yang mencapai area peron Stasiun Manggarai.
VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengumumkan kondisi dari bentrokan tersebut tidak berdampak terhadap perjalanan KRL lintas Bogor.
“Kami mengimbau seluruh pengguna untuk senantiasa mengikuti informasi dan arahan petugas di stasiun maupun di atas KA,” kata Karina kepada kumparan.
Berdasarkan pantauan kumparan di lokasi pukul 22.00 WIB, sejumlah personel kepolisian masih tampak berjaga di sekitar Stasiun Manggarai.
Hingga berita ini dibuat, kumparan belum mendapatkan keterangan dari pihak kepolisian.
