Tentara Venezuela Gempur Kamp Pemberontak Kolombia: 19 Orang Tewas

Militer Venezuela melancarkan serangan di kamp kelompok pemberontak Kolombia National Liberation Army (ELN), di wilayah negara bagian Apure, Venezuela, Jumat (30/10). Akibatnya, ada 19 orang tewas dalam serangan ini.
Dikutip dari AFP, Senin (2/11), jumlah korban tersebut dilaporkan oleh organisasi nonpemerintah FundaRedes dan seorang sumber militer Venezuela yang mengetahui operasi tersebut.
FundaRedes awalnya melaporkan sembilan orang tewas dalam serangan yang berlangsung pada Jumat pagi. Namun, koordinator kelompok tersebut, Juan Francisco Garcia, mengatakan kepada AFP, 10 jenazah lainnya telah dibawa ke ibu kota negara bagian Apure, San Fernando, sehari setelah serangan.
Serangan menyasar kamp ELN di kawasan pedesaan berhutan di bagian barat daya Apure. Menurut sumber militer Venezuela, operasi dilakukan menggunakan drone dan helikopter serang.
Didukung CIA dan FBI
Sumber militer tersebut mengatakan serangan mendapat dukungan intelijen Amerika Serikat (AS).
"Kami mendapat bantuan dari CIA dan FBI. Ini adalah perintah dari Amerika Serikat," kata sumber AFP.
AFP telah meminta tanggapan Departemen Luar Negeri AS dan pemerintah Venezuela, tetapi belum memperoleh jawaban.
Sumber militer itu mengatakan serangan berlangsung mendadak sehingga para anggota ELN tidak sempat memberikan perlawanan. Sebagian besar korban tewas disebut merupakan warga negara Venezuela.
Venezuela Bakal Sasar Kamp Lain
Setelah serangan, jenazah para korban awalnya dibawa ke Puerto Paez, sebuah kota yang berada di seberang sungai dari wilayah Kolombia.
Seorang warga Puerto Paez mengatakan kepada AFP, sejumlah jenazah mengalami kerusakan parah akibat serangan tersebut.
"Beberapa jenazah benar-benar hancur. Bahkan ketika dibawa ke San Fernando, mereka masih berbau daging terbakar," ujarnya.
Wilayah perbatasan Venezuela dan Kolombia sepanjang 2.200 kilometer selama ini menjadi lokasi aktivitas sejumlah kelompok bersenjata yang terlibat dalam perdagangan narkoba, pertambangan ilegal, dan penyelundupan.
Kelompok tersebut antara lain faksi pembangkang FARC dan ELN. ELN menjadi salah satu kelompok pemberontak terkuat di Amerika Latin setelah FARC menandatangani kesepakatan damai dengan pemerintah Kolombia pada 2016.
Operasi militer ini dinilai dapat menandai perubahan kebijakan Venezuela sejak Presiden Nicolas Maduro digulingkan oleh AS pada Januari 2026. Pemerintahan Venezuela kini dipimpin Delcy Rodriguez, mantan wakil Maduro yang mendapat dukungan Presiden AS Donald Trump.
Aktivis hak asasi manusia sekaligus pakar urusan militer, Rocio San Miguel, menilai serangan tersebut mencerminkan perubahan doktrin militer Venezuela.
Sementara itu, sumber militer Venezuela mengatakan operasi penyisiran di kawasan tersebut akan terus dilanjutkan karena masih terdapat dugaan kamp kelompok bersenjata lainnya.
"Kami akan terus menyisir kawasan tersebut karena kami yakin masih ada kamp-kamp lain," katanya.
Operasi ini juga berlangsung ketika Presiden Kolombia yang baru terpilih, Abelardo de la Espriella, meningkatkan operasi pemberantasan ELN dan kelompok perdagangan narkoba di negaranya.
Kolombia turut bergabung dengan lebih dari selusin negara Amerika Latin dan Karibia dalam inisiatif regional yang dipimpin AS untuk memberantas perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisasi di kawasan.
