Warga Simalungun Peringati Hari Kesaktian Pancasila di Bawah Hujan

Ratusan warga memenuhi Lapangan Tugu Bandar Betsy Kabupaten Simalungun, Sumut, meski cuaca tengah mendung. Mulai dari anggota TNI, Polri, para siswa, hingga masyarakat sipil terlihat antusias mengikuti pelaksanaan upacara Hari Kesaktian Pancasila, Senin (1/10).
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi beserta Ketua DPRD Sumut Wagirin Arman dan rombongan tiba di lokasi dan upacara pun langsung dimulai. Mendung yang kemudian menjadi hujan tak menggoyahkan semangat peserta upacara.
Dengan balutan ulos dan kemeja hitam, Edy melangkah mantap menuju podium dan mengambil peran sebagai inspektur upacara. Satu per satu dari rangkaian upacara terlaksana, Edy sembari ditemani oleh Bupati Simalungun JR Saragih, kemudian meletakkan sebuah karangan bunga di depan Tugu Bandar Betsy yang terdapat patung para jenderal yang gugur pada peristiwa G30S/PKI.

Usai upacara, persembahan tarian pun disuguhkan untuk menyemarakkan suasana. Tarian ini dibawakan oleh 8 orang dengan baju adat yang berbeda-beda yang mewakili 8 etnis yang ada di Sumut, yaitu Melayu, Simalungun, Karo, Toba, Mandailing, Batak Pak-pak, Pesisir, dan Nias.
Setelah tarian, barulah acara dilanjutkan dengan sebuah teatrikal drama yang menceritakan peristiwa mengenaskan pada 30 September 1965 di Bandar Betsy. Seketika suasana berubah menjadi suram dan terasa mencekam hanya dengan melihat drama yang dibawakan oleh para pemuda setempat tersebut.

Drama itu menceritakan bagaimana para anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) menghasut para petani untuk bergabung dengan PKI dan kemudian membunuh seorang penjaga perkebunan yang bernama Letda Sujono dengan cara yang sadis.
Begitu teatrikal drama selesai, Edy langsung menemui para pemeran. Ia mengaku sangat tertarik dengan tiap adegan yang dibawakan oleh para pemain karena terasa sangat nyata baginya.
“Saya sendiri baru kali ini melihat dan kejadian ini menjadi yang sangat buruk,” ujar Edy.
Ia mengatakan bahwa yang dilakukan oleh PKI terhadap negeri adalah perbuatan jahanam. Karena telah menghasut, memfitnah, dan mengadu domba.
“Saat ini (PKI) sudah tidak ada, dan tidak boleh lagi hadir di Indonesia. Mohon bangsa Indonesia kita jaga bangsa kita ini,” tegas Edy di bawah guyuran hujan di lokasi upacara.
