Gempuran Mobil China Ubah Peta Strategi Mitsubishi di ASEAN

Mitsubishi Motors menata ulang strategi bisnisnya di Asia Tenggara (ASEAN), kawasan yang selama ini menjadi salah satu pasar andalannya. Langkah itu diambil saat produsen mobil China makin gencar masuk ke kawasan tersebut.
Manajemen Mitsubishi Motors menyampaikan arah baru itu dalam paparan Visi Jangka Menengah-Panjang pada 29 Mei 2026. Nikkei Asia melaporkan, pergeseran fokus ke pasar maju seperti Amerika Serikat (AS) menghadapi ketidakpastian setelah bertahun-tahun pemangkasan.
Thailand, Indonesia, dan Australia disebut sebagai pasar utama yang volume penjualan dan labanya masih lemah. Penyebabnya persaingan dengan produsen Negeri Tirai Bambu dan perubahan kondisi pasar.
“Kesulitan pengembangan kendaraan meningkat karena aturan lingkungan yang makin ketat. Waktu pengembangan jadi lebih panjang dan menyulitkan penentuan waktu peluncuran model baru. Kesulitan itu juga mendorong biaya kendaraan naik. Kami perlu mempercepat penurunan biaya,” kata manajemen Mitsubishi Motors dalam paparan tersebut.
Adapun, penjualan ritel global pada tahun fiskal 2025 mencapai 797 ribu unit, jauh di bawah target 1,1 juta unit. Laba operasi tercatat 75,5 miliar yen atau Rp 8,68 triliun (2,6 persen), sedangkan targetnya 220 miliar yen atau Rp 25,33 triliun (7 persen).
Di lima negara utama ASEAN, peringkat Mitsubishi Motors di antara semua produsen, termasuk merek China, naik dari posisi tiga ke dua pada tahun fiskal 2025. Vietnam dan Filipina tumbuh signifikan lewat peluncuran model ASEAN secara berurutan.
“Kami akan memusatkan sumber daya pengembangan pada produk khas, yaitu produk ASEAN dan produk off-road dan tidak mencoba menutup semua segmen. Produk itu kami kombinasikan dengan elektrifikasi yang menjadi salah satu kekuatan kami. Di area tertentu, kami melengkapi lini produk lewat model kolaborasi,” lanjutnya.
Mitsubishi Motors sendiri akan meluncurkan 13 model baru pada tahun fiskal 2026 sampai 2031, termasuk lima hybrid (HEV) dan lima plug-in hybrid (PHEV). Salah satunya Pajero baru berbasis rangka ladder frame Triton yang diproduksi di Thailand dan dijadwalkan meluncur musim gugur tahun ini.
Sejak tahun fiskal 2021, kapasitas produksi sudah berkurang 550 ribu unit di China, Rusia, dan Jepang. Pabrik Thailand Plant 3 akan dihentikan sementara pada tahun fiskal 2027 sehingga kapasitas turun 100 ribu unit. Perusahaan menargetkan pengurangan 1.500 karyawan tidak langsung.
“Kami akan menyatukan platform dari lima jenis menjadi tiga jenis dan mendorong pemakaian komponen bersama. Pemakaian suku cadang dari pemasok yang kompetitif secara global juga kami perluas. Waktu pengembangan kendaraan kami pangkas menjadi 36 bulan karena produsen baru mengembangkan mobil dengan kecepatan luar biasa,” tutur manajemen Mitsubishi Motors.
Mitsubishi Motors menargetkan penjualan ritel 900 ribu unit, laba operasi 160 miliar yen atau Rp 18,42 triliun (4,5 persen), dan pengembalian equitas 10 persen pada tahun fiskal 2029. Perusahaan menyiapkan investasi pertumbuhan sekitar 1 triliun yen (sekitar Rp 115 triliun) sampai tahun fiskal 2029.
