Jangan Abaikan Kantuk Saat Nyetir, Mobil Bisa Melaju Sendiri Puluhan Meter per Detik

kumparanOTOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi mengantuk saat berkendara. Foto: GBJSTOCK/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengantuk saat berkendara. Foto: GBJSTOCK/Shutterstock

Kecelakaan nahas menimpa satu keluarga ketika menumpang Toyota Avanza saat melintasi ruas tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka) pada Minggu (25/10). Sebanyak 6 orang tewas karena insiden tersebut.

Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun menyatakan, salah satu penyebab utama kecelakaan tersebut karena kondisi pengemudi yang tidak bugar.

"Setibanya di lokasi kejadian, diduga pengemudi Toyota Avanza dalam kondisi mengantuk, sehingga hilang kendali dan oleng ke kiri, menyerempet guardrail, lalu menabrak belakang truk Fuso yang berada di bahu luar jalan tol yang sedang melakukan pengecekan baut roda yang patah," ujarnya pada Minggu (25/10).

Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu mengatakan perkara mengantuk menjadi salah satu tanda keletihan yang kerap diabaikan oleh pengemudi yang sedang berkendara di ruas tol sangat panjang.

Sebuah mobil Toyota Avanza menabrak truk di ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka) KM 198+100, Minggu (25/10/2026). Foto: Dok. Istimewa

"Kalau kita melakukan perjalanan yang panjang seperti keluar kota, ini bukan sekadar berkendara atau mengoperasikan kendaraan, fisik itu sangat penting terkait dengan stamina," buka Jusri dihubungi kumparan, Senin (26/10).

Belum lagi, gejala seperti mengantuk tidak selalu didasari dari keletihan fisik, melainkan juga dari kondisi mental pengemudi itu sendiri. Salah satu contohnya adalah stres, beban pikiran, hingga masalah yang belum terselesaikan.

"Kemudian mentality, orang-orang yang ketika memiliki problem yang mempengaruhi mentalnya problem berat seperti masalah keluarga, keuangan, pekerjaan, ini sebaiknya tidak mengemudi," ujar Jusri.

Gangguan psikologis saat mengemudi secara otomatis akan menyedot cadangan energi tubuh dan merusak tingkat konsentrasi pengemudi. Akibatnya, rasa lelah luar biasa atau fatigue akan datang lebih cepat tanpa disadari.

Ilustrasi perempuan mengantuk saat berkendara. Foto: Shutterstock

"Akibatnya, orang-orang ini akan mudah mengalami keletihan. Mengemudi lebih-lebih di jalan tol yang bebas hambatan itu gampang sekali membuat kondisi seseorang mengalami microsleep. Tidak memandang dia tidur sehat, tidurnya bagus, jalan tol akan membuat seseorang gampang sekali mengalami microsleep, lebih-lebih orang yang mempunyai problem stamina dan mental," terangnya.

Tanda seseorang mulai mengalami gejala kantuk sebelum terjadinya microsleep, Jusri menambahkan dapat dilihat dari gestur atau perilakunya. Misalnya respons kedipan mata yang lambat, terlalu fokus pada satu titik yang sama, lalu mulai jarang melakukan komunikasi.

Dirinya juga mengaitkan dengan bahayanya saat melaju pada kecepatan tinggi. Jusri bilang, kendaraan dapat melampaui jarak puluhan meter per detiknya, artinya potensi bahaya kian besar bila terjadi situasi darurat.

"Misalnya anda melaju 80 km/jam, itu kan sama saja sekitar 22 meter setiap satu detik, itu banyak sekali. Apalagi kalau rata-rata orang kita itu memacu sampai 100 km/jam, itu sudah nyaris lewat 30 meter setiap detiknya," tandas Jusri.