Kumparan Logo

4 Poin Penting dalam Pertemuan Petinggi Facebook dan Menkominfo

kumparanTECHverified-green

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rudiantara dan Simon Milner. (Foto: Astrid Rahadiani Putri/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rudiantara dan Simon Milner. (Foto: Astrid Rahadiani Putri/kumparan)

Perwakilan Facebook Asia Pasifik akhirnya mendatangi kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) di Jakarta, Senin (7/5), untuk bertemu dengan Menkominfo Rudiantara. Kedatangan Facebook ini diwakili oleh VP Public Policy Facebook Asia Pasific Simon Milner.

Keduanya bertemu untuk membahas kelanjutan dari kasus penyalahgunaan data pengguna Facebook oleh perusahaan analisis politik Cambridge Analytica (CA). Pengguna Facebook di Indonesia turut menjadi korban dari kasus itu, yang jumlahnya mencapai 1.096.666 pengguna.

Ada beberapa poin yang disinggung oleh Rudiantara dan Milner dari hasil pertemuan keduanya di gedung Kemkominfo. Berikut detail hasil diskusinya.

1. Facebook Indonesia diminta ikut audit kasus Cambridge Analytica

Cambridge Analytica. (Foto: Cambridge Analytica)
zoom-in-whitePerbesar
Cambridge Analytica. (Foto: Cambridge Analytica)

Investigasi penyalahgunaan data Facebook oleh Cambridge Analytica, saat ini ditangani oleh pemerintah Inggris, yang sekarang sudah masuk ke dalam tahap audit. Daripada menunggu lama hasil auditnya, Rudiantara meminta Facebook juga melakukan upaya yang sama secara mandiri.

Investigasi internal ini dinilai Rudiantara bisa membantu Facebook untuk memastikan tidak ada lagi pihak ketiga yang melakukan aktivitas serupa CA.

"Enggak bisa hanya tunggu (hasil audit) dari otoritas Inggris, harus cari upaya lain, FB juga harus conducting investigation, terutama dari 2014 (skandal CA dimulai)," kata Rudiantara. "Karena kemungkinannya kita kan belum tahu, apakah cuma CA. Toh belakangan juga ada Cube You, AggregateIQ, dan sebagainya."

2. Cegah dan blokir konten negatif

Konten pornografi sulit dihindari di internet. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Konten pornografi sulit dihindari di internet. (Foto: Thinkstock)

Rudiantara kembali meminta komitmen Facebook untuk lebih serius memblokir konten negatif di platform-nya. Pria yang akrab disapa Chief RA itu berkata performa Facebook menangani konten negatif sejauh ini baru sampai 68 persen, yang diniainya masih jauh dari sempurna.

"Jadi masih harus kita dorong terus bagaimana manajemen ini. Dan ini juga merupakan hagian dari evaluasi penilaian oleh Kemkominfo bagaimana kerja sama Facebook menangani konten-konten yang dianggap negatif," ucap Rudiantara.

3. Jangan ada konten provokasi yang memecah-belah Indonesia

Massa demo buruh membubarkan diri. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Massa demo buruh membubarkan diri. (Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan)

Ketika bertemu dengan Milner, Rudiantara menyinggung perhatiannya terhadap penggunaan Facebook dalam kasus Rohingya di Myanmar. Facebook dilaporkan bertanggung jawab atas penyebaran informasi palsu sehingga terjadi hasut-menghasut antar kelompok di Myanmar hingga berakhir pada peristiwa nahas yang menimpa masyarakat Rohingya.

Rudiantara dengan tegas mengatakan ia tidak akan ragu untuk memblokir Facebook, jika platform ini abai membiarkan konten yang memprovokasi atau berita bohong berseliweran di Indonesia. Ia meminta manajemen Facebook bertindak proaktif dalam memantau dan memfilter konten yang meresahkan publik.

4. Minta Facebook Indonesia ubah model bisnis dan bayar pajak

VP Pub. Policy Facebook Asia Pasific Simon Milner. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
VP Pub. Policy Facebook Asia Pasific Simon Milner. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Rudiantara berkata pertemuan ini juga membahas soal model bisnis Facebook di Indonesia yang disebutnya sebagai perusahaan pelayanan, bukan untuk menggelar bisnis. Ia meminta model bisnis yang sedang dijalankan oleh Facebook saat ini di Indonesia diubah untuk mengikuti peraturan yang berlaku agar tertib administrasi.

Rudiantara juga menyinggung permasalahan pajak yang ternyata belum dibayarkan oleh media sosial buatan Mark Zuckerberg di Indonesia.

"Belum, belum (bayar-red). Makanya saya enggak datang 'kan yang waktu itu. Mereka itu kayak service company (perusahaan pelayanan), bukan bisnis. Saya minta model bisnis presensinya yang ada di Indonesia modelnya harus diubah. Untuk apa? Untuk juga meng-address masalah pajak," ujar Rudiantara.

Pertemuan kali ini yang diinisiasi oleh pihak Facebook, mendapatkan apresiasi dari Kemkominfo. Tapi, Rudiantara merasa tidak puas lantaran pihak Facebook belum melakukan perbaikan terkait penyalahgunaan data dan Rudiantara menilai kedatangan ini belum cukup untuk menyelesaikan masalah.