Kumparan Logo

Elon Musk Tantang CEO Twitter Debat soal Akun Bot

kumparanTECHverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi akun twitter Elon Musk terlihat melalui logo Twitter. Foto: Dado Ruvic/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi akun twitter Elon Musk terlihat melalui logo Twitter. Foto: Dado Ruvic/Reuters

Konflik antara Elon Musk dan Twitter masih berlangsung. Terbaru, CEO Tesla itu ingin menantang CEO Twitter untuk debat terbuka dengannya soal akun bot.

Orang terkaya di dunia memang peduli terhadap akun bot dan spam di Twitter. Itu pula yang membuatnya batal membeli Twitter, karena perusahaan disebutnya enggan mengungkap jumlah pasti dari akun-akun tersebut.

Pembatalan kesepakatan akuisisi membuat Twitter meradang dan menyeret bos SpaceX ke pengadilan. Daripada 'bertarung' di meja hijau, Musk tampaknya lebih tertarik debat langsung di depan publik.

Orang yang diajak perang argumen adalah CEO Twitter, Parag Agrawal.

"Dengan ini saya menantang @paraga (nama akun Twitter Agrawal) untuk debat publik tentang persentase bot Twitter," kata Musk lewat akun Twitter resminya.

"Biarkan dia membuktikan kepada publik bahwa Twitter memiliki kurang dari lima persen pengguna harian palsu atau spam!"

- Elon Musk -

X post embed

Musk kemudian posting survei untuk follower-nya apakah mereka percaya atau tidak dengan klaim Twitter terkait akun bot atau palsu di media sosialnya hanya sekitar kurang dari lima persen pengguna harian. Survei menyediakan dua opsi pilihan: Ya dengan emoji robot, yang tampak menyiratkan pemilih opsi ini merupakan bot, dan 'Lmaooo no', yang berarti tidak percaya.

Jajak pendapat tersebut berakhir pada Minggu (7/8) waktu setempat.

X post embed

Sidang Twitter dan Musk sendiri bakal dimulai pada 17 Oktober 2022 mendatang. Proses pengadilan diprediksi selesai dalam hitungan hari.

Dalam pengaduan yang diajukan pekan ini, tim hukum Musk mengatakan analis Botometer menemukan jumlah akun bot yang jauh lebih tinggi dibandingkan klaim Twitter. Perusahaan dengan cepat meresponsnya, menyebut tuduhan tersebut tidak akurat dan relevan secara komersial.