Chief of AI kumparan Ungkap Tantangan Bisnis di Era AI: Tak Cukup Andalkan Web

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah model bisnis, khususnya media, dalam memperoleh trafik dan menjangkau audiens. Ketika pengguna internet semakin mengandalkan AI untuk mencari informasi, media menghadapi tantangan baru: konten bisa diambil untuk hasilkan jawaban tanpa mendorong pembaca mengunjungi situs web sumbernya. Kondisi ini membuat perusahaan perlu menyesuaikan strategi distribusi konten agar tetap relevan dan menjangkau audiens.
Hal tersebut disampaikan Andrias Ekoyuono, Chief of AI and Corporate Strategy kumparan, dalam gelaran Bali Tech Week 2026 pada 22 Oktober 2026. Ia menjelaskan bahwa perubahan perilaku pengguna internet membuat model bisnis yang selama ini mengandalkan mesin pencari tidak lagi bisa berjalan dengan cara yang sama.
“AI kini menentukan merek mana yang akan bertahan. Bahkan, AI kini menentukan bagaimana Anda akan bertahan,” ujar Andrias saat menjelaskan tantangan yang juga dihadapi bisnis dan merek di era AI di acara Bali Tech Week 2026, Kamis (22/10).
Selama sekitar 20 tahun terakhir, cara bisnis memperkenalkan diri kepada konsumen relatif sederhana. Mereka cukup membuat situs web atau blog, menerbitkan konten, lalu mengandalkan mesin pencari untuk mengarahkan pengunjung ke situs tersebut.
Namun, AI mengubah itu semua. Kini pengguna bisa mendapatkan jawaban langsung tentang apa yang mereka tanyakan tanpa harus mengklik tautan ke situs web utama.
Data dari Januari tahun ini menunjukkan sekitar sepertiga trafik situs web telah hilang. Ia juga menyebut situs yang menempati peringkat pertama hasil pencarian mengalami kehilangan trafik hingga 58% karena pengguna semakin jarang mengeklik hasil pencarian.
Situasi ini menjadi tantangan bagi bisnis yang selama ini berinvestasi dalam optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO), membuat perusahaan perlu memikirkan kembali cara mendistribusikan konten dan menjangkau audiens. Persoalannya bukan semata-mata bagaimana artikel muncul di hasil pencarian, tetapi juga bagaimana konten bisa ditemukan dan dikonsumsi melalui berbagai platform.
Andrias juga menyoroti besarnya aktivitas bot dalam trafik internet. Ia menyebut sekitar 58% trafik situs web berasal dari bot, bukan manusia. Bagi perusahaan media seperti kumparan, kondisi tersebut menimbulkan persoalan tersendiri. Media menginvestasikan waktu, tenaga, dan biaya untuk memproduksi konten jurnalistik. Namun, konten tersebut juga diakses mesin AI untuk mempelajari informasi dan menyusun jawaban bagi pengguna.
Salah satu contohnya adalah AI Overview di Google. Fitur ini menyajikan rangkuman jawaban langsung di halaman pencarian sehingga pengguna bisa memperoleh informasi tanpa harus membuka artikel sumber.
Dengan pola tersebut, konten media tetap dapat menjadi sumber informasi bagi AI, tetapi pemanfaatannya tidak selalu menghasilkan kunjungan ke situs web penerbit. Perubahan ini berpotensi memengaruhi model bisnis media yang bergantung pada trafik situs, termasuk dalam menjangkau pembaca dan menawarkan ruang iklan digital.
Andrias menegaskan bahwa tantangan tersebut bukan hanya persoalan teknis SEO. Media perlu memahami perubahan cara audiens menemukan informasi sekaligus menyesuaikan strategi agar konten tetap menjangkau pembaca.
Perusahan Perlu Hadir di Tiga Kanal Pencarian Audiens
Andrias mengatakan bahwa perusahaan kini perlu memperluas strategi distribusi konten melalui tiga kanal utama, yakni konten media sosial yang dipersonalisasi, web dan mesin pencari, serta platform Chatbot AI.
Di Indonesia, TikTok dan Instagram menjadi contoh platform media sosial yang digunakan audiens untuk menemukan informasi, mengikuti tren, dan mencari rekomendasi. Sementara itu, mesin pencari tetap menjadi kanal penting untuk menemukan informasi di internet. Namun, perilaku pencarian tidak lagi terbatas pada Google karena pengguna juga mencari informasi dan rekomendasi melalui TikTok serta Instagram.
Kanal ketiga adalah platform Chatbot AI yang memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawaban secara langsung. Bagi media, perkembangan ini menuntut strategi agar konten dapat menjangkau audiens melalui kanal tersebut, bukan hanya kunjungan langsung ke situs web.
Menurut Andrias, AI kini memengaruhi setiap tahapan dalam marketing funnel, mulai dari membangun perhatian (attention), menumbuhkan ketertarikan (interest), membentuk keinginan (desire), hingga mendorong tindakan pembelian (action).
Pada tahap awal, konsumen mengenal merek melalui konten yang mereka lihat di media sosial. Ketika tertarik, mereka mulai mencari informasi lebih lanjut. Setelah itu, mereka mempertimbangkan rekomendasi, ulasan, dan pengalaman pengguna lain sebelum mengambil keputusan.
Jika sebuah brand atau merek tidak muncul dalam proses pencarian dan rekomendasi tersebut, peluang untuk jadi pertimbangan konsumen bisa semakin kecil. Karena itu, bisnis saat ini perlu memikirkan bagaimana konten diproduksi dan didistribusikan agar sesuai dengan karakteristik setiap platform. Dalam hal ini, TikTok, Instagram, dan YouTube sebagai kanal yang perlu diperhatikan dalam strategi distribusi konten.
Namun, kehadiran di berbagai platform saja tidak cukup. Bisnis juga perlu memikirkan jenis konten yang relevan agar dapat menjangkau audiens dan membantu konsumen mengenali produk atau layanan yang ditawarkan.
Bagi Andrias, perubahan ini menandai pergeseran penting dalam pemasaran digital. Dengan perubahan tersebut, model bisnis tidak bisa lagi hanya mengandalkan strategi lama untuk mendatangkan pengunjung melalui mesin pencari. Distribusi konten melalui media sosial, web, dan platform AI perlu menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjaga jangkauan audiens sekaligus menghadapi perubahan model bisnis di era kecerdasan buatan.
"Jadi, apa yang perlu Anda lakukan? Anda sebenarnya perlu mengupayakan kehadiran di setiap pintu. Pintu pertama adalah personalized feeds. Anda perlu menghadirkan konten di TikTok, Instagram, dan YouTube. Itu langkah sederhananya," katanya.
