Nvidia Disebut Minta Mitra Data Center Batasi Layanan Cloud buat Bisnis China

kumparanTEKNOverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Nvidia. Foto: PhotoGranary02/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Nvidia. Foto: PhotoGranary02/Shutterstock

Nvidia dikabarkan menginstruksikan mitra data center-nya untuk membatasi penjualan solusi cloud mereka buat perusahaan China. Raksasa chip itu meminta kliennya untuk memastikan menjual setidaknya 51 persen layanannya kepada pelanggan bisnis di luar China.

Menurut laporan Financial Times yang berasal dari sumber yang mengetahui isunya, instruksi tersebut akan berlaku untuk kliennya di seluruh dunia. Arahan ini hanya untuk kontrak baru di masa depan, sementara kesepakatan yang sudah berjalan tidak akan terpengaruh.

Perusahaan yang dipimpin oleh CEO Jensen Huang itu telah menyampaikannya secara lisan melalui tim penjualan dan tim regionalnya.

Nvidia tidak mengonfirmasi maupun membantah laporan tersebut. Namun, mereka mengatakan data center dan layanan cloud yang memakai chip buatan AS membantu pengembang model dan aplikasi AI Amerika bersaing di pasar global.

Ilustrasi Chip H200 NVIDIA. Foto: Shutterstock

"Kebijakan AS yang telah berlaku lama mendorong setiap penyedia cloud untuk membangun layanan mereka di atas infrastruktur teknologi Amerika dan memenangkan persaingan bisnis di berbagai pasar yang dapat mereka jangkau," kata juru bicara Nvidia, mengutip AFP.

"Amerika tidak akan mampu memenangkan perlombaan AI jika infrastruktur AI buatannya tidak mendominasi pasar global -- jika layanan cloud dunia bergantung pada chip buatan asing, model dan aplikasi AI yang berjalan di atas infrastruktur tersebut juga akan dikembangkan oleh pihak asing."

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengaku belum mengetahui laporan tersebut. Ia mengatakan Beijing berharap semua pihak menyediakan lingkungan bisnis yang adil, transparan, dan bebas diskriminasi bagi perusahaan dari semua negara, termasuk China.

China dan AS tengah bersaing ketat untuk memperebutkan dominasi di sektor kecerdasan buatan (AI) yang lagi berkembang pesat belakangan ini. Dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara saling melontarkan tuduhan terkait pencurian teknologi AI dan tindakan yang membahayakan keamanan.