OpenAI Resmi Gandeng Raksasa Minyak UEA ADNOC untuk Adopsi AI

kumparanTEKNOverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ADNOC. Foto: 2591088101/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ADNOC. Foto: 2591088101/Shutterstock

Perusahaan kecerdasan buatan OpenAI resmi menjalin kemitraan strategis dengan raksasa minyak Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), dan entitas teknologi G42. Kesepakatan bersejarah ini terwujud dalam konferensi energi ADIPEC di Abu Dhabi pada Senin (2/11/2026).

Lewat kolaborasi ini, ADNOC mencatatkan diri sebagai entitas energi pertama di dunia yang mengintegrasikan platform kecerdasan buatan mutakhir, OpenAI Frontier, ke dalam rantai operasional industri perminyakan.

Sistem komputasi canggih OpenAI akan menghitung nilai setiap barel minyak mentah secara presisi saat minyak masih berada di dalam tanah. Agen kecerdasan buatan terhubung tersebut juga memproyeksikan dinamika pasokan, menganalisis fluktuasi harga global, serta memitigasi risiko operasional secara komprehensif.

Langkah ini mempertegas peta jalan diversifikasi ekonomi UEA untuk mendominasi lanskap teknologi kecerdasan buatan tingkat tinggi dunia.

Managing Director sekaligus CEO ADNOC, Sultan Al Jaber, menegaskan bahwa sinergi ini merevolusi persilangan antara industri energi konvensional dan komputasi cerdas.

"Sejak momen ChatGPT lahir, dunia bertanya-tanya apa yang bisa sektor energi berikan untuk AI. Sekarang, bersama-sama kita akan menemukan apa yang bisa AI berikan untuk sektor energi," ungkap Sultan Al Jaber dalam konferensi ADIPEC, dilansir AFP.

CEO OpenAI Sam Altman menggarisbawahi bahwa kebutuhan daya fisik menjadi tantangan krusial bagi keberlanjutan model AI modern saat ini.

"Kami dapat menekan biaya penyediaan AI hebat di hampir segala aspek, kecuali kenyataan bahwa atom tetaplah atom dan dunia fisiklah yang harus memberi daya bagi sistem ini. Saya rasa itu akan menjadi faktor penentu utama terkait biaya, ketersediaan, serta kapasitas teknologi yang dapat kami ciptakan," jelas Sam Altman sebagaimana dikutip dari Reuters.

Altman juga memuji UEA sebagai negara paling berpandangan maju di dunia dalam mengadopsi AI secara berkelanjutan.

CEO OpenAI Sam Altman menjadi pembicara Snowflake Summit 2025 di Moscone Center, San Francisco, California, pada 2 Juni 2025. Foto: Justin Sullivan/Getty Images/AFP

Integrasi sistem AI ke tata kelola pemerintahan dan investasi

Pertemuan Sam Altman dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, membuahkan serangkaian portofolio kesepakatan baru.

Pemerintah Abu Dhabi dan OpenAI meluncurkan program AI-native Machine-Readable Government pertama di dunia. Program ini memanfaatkan otomasi AI untuk membantu pejabat publik memverifikasi regulasi perizinan dan sertifikasi kepatuhan, diawali dengan proyek uji coba pada Otoritas Pertanian dan Ketahanan Pangan Abu Dhabi.

Lembaga pengelola dana abadi UEA, Mubadala, bersama anak usaha G42, Inception42, turut menandatangani kontrak kerja sama lima tahun dengan OpenAI. Kemitraan ini mencakup pemanfaatan kemampuan AI Frontier untuk mempertajam analisis investasi modal, identifikasi potensi pasar baru, hingga penilaian risiko portofolio lintas industri.

Langkah masif ini semakin melengkapi posisi tawar UEA dalam rantai pasok teknologi global, mendampingi pembangunan pusat data AI raksasa berkapasitas 5 gigawatt di kawasan Timur Tengah.