Kumparan Logo

Cerita Sedih Tsunami Jepang 2011, Pria Ini Diving Tiap Minggu Cari Jasad Istri

kumparanTRAVELverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi diving di laut lepas. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi diving di laut lepas. Foto: Shutterstock

Gempa bumi disusul tsunami yang terjadi pada 11 Maret 2011 silam, merupakan salah satu bencana terbesar yang pernah melanda Jepang.

Bencana tersebut tak hanya meluluhlantakkan area pesisir Jepang, khususnya Pulau Honsu yang berada dekat dengan titik gempa dan tsunami, tetapi juga menyebabkan kerusakan pembangkit nuklir Fukushima Daiichi. Setidaknya lebih dari 20 ribu orang meninggal dan 100 ribu lainnya dievakuasi akibat peristiwa bencana alam tersebut.

Yasuo Takamatsu setelah pelajaran menyelam untuk menjari jasad istrinya yang hilang akibat tsunami di Onagawa, Prefektur Miyagi, pada 2 Maret 2014. Foto: Toru Yamanaka/AFP

Meski sudah 11 tahun berlalu, nyatanya masih ada cerita sedih menyayat hati di balik tragedi bencana alam besar yang pernah menimpa Negeri Sakura itu.

Cerita tersebut datang dari pria bernama Yasuo Takamatsu, yang tak kenal lelah mencari keberadaan istrinya yang hilang usai tsunami melanda. Dilansir Unilad, keteguhan dan kesabaran Takamatsu menjadi bukti betapa ia sangat mencintai istrinya.

Ilustrasi Tsunami. Foto: Shutter Stock

Pria yang kini berusia 65 tahun tersebut masih mencari keberadaan istrinya yang hilang, meski ia tahu bahwa sang belahan jiwanya tersebut sudah tak mungkin kembali. Usai bencana tersebut, ia tak pernah berhenti menyelam (diving) untuk mencari keberadaan sang istri, yakni Yuko Takamatsu.

Yasuo terus mencari keberadaan Yuko yang hilang di Onagawa, salah satu area yang terkena dampak paling parah dari bencana tersebut.

Gelombang tsunami menerjang Kota Miyako di Prefektur Iwate, Jepang, pada 11 Maret 2011. Foto: Mainichi Shimbun / via REUTERS

Sejak itu, Yasuo mengatakan bahwa telah menghabiskan waktu sekitar 2 tahun untuk mencari keberadaan istrinya di balik reruntuhan atau puing-puing bangunan pasca-tsunami. Karena tak membuahkan hasil, ia kemudian memilih untuk mencari keberadaan istrinya sampai ke laut.

Diving Setiap Minggu demi Mencari Jasad Sang Istri

Yasuo Takamatsu setelah pelajaran menyelam untuk menjari jasad istrinya yang hilang akibat tsunami di Onagawa, Prefektur Miyagi, pada 2 Maret 2014. Foto: Toru Yamanaka/AFP

Setelah mendapatkan sertifikasi menyelam pada 2013 lalu, Yasuo kemudian memutuskan untuk mencari keberadaan sang istri di lautan. Ia memutuskan untuk menyelam setelah mendapatkan lisensi diving-nya tersebut.

"Saya menyelam seolah-olah saya akan bertemu dengannya di suatu tempat," ujar Yasuo, seperti dikutip Associated Press.

Sampai sekarang, Yasuo masih mencari keberadaan istrinya dengan melakukan penyelaman setiap minggu. Saking cintanya dengan sang istri, dirinya bersumpah bahwa selama tubuhnya masih bergerak, ia akan terus menyelam.

Yasuo Takamatsu setelah pelajaran menyelam untuk menjari jasad istrinya yang hilang akibat tsunami di Onagawa, Prefektur Miyagi, pada 2 Maret 2014. Foto: Toru Yamanaka/AFP

Ketika banyak yang bertanya-tanya kenapa ia melakukan semua itu, Yasuo menjelaskan bahwa istrinya pernah mengirim pesan terakhir. Dalam pesan terakhirnya itu, sang istri mengaku ingin pulang ke rumah.

"Apa kamu baik-baik saja? Saya ingin pulang ke rumah," tulis pesan singkat istrinya.

Meski telepon sang istri berhasil ditemukan, keberadaannya tak pernah diketahui sampai sekarang.

Menurut BBC, telepon sang istri ditemukan beberapa bulan setelah tragedi tersebut. Telepon itu berhasil ditemukan bersama sebuah pesan singkat yang tak pernah bisa terkirimkan.

Ilustrasi tsunami. Foto: Getty Images

Saat tsunami terjadi, Yuko diketahui sedang berada di bank tempatnya bekerja. Menurut beberapa informasi yang beredar, sang istri diketahui telah menyelamatkan diri dengan menaiki area rooftop gedung bersama dengan para pekerja lainnya.

Tragisnya, tsunami tersebut ternyata tiga kali lebih besar dari yang telah diperkirakan. Menurut sebuah postingan di Facebook, salah satu saksi selamat menceritakan bahwa mereka yang ada di dalam bank itu akhirnya berlarian untuk menyelamatkan diri.

"Kami merasa tercekik setiap kali mengingat kembali insiden tersebut. Ketika bankir perempuan yang mengenakan rok, harus menaiki tangga dengan ketakutan yang tak terbayangkan, dan bankir laki-laki yang membuang mantel mereka pada menit terakhir terlepas dari situasinya. Cuaca dingin, ketakutan, keputusasaan, dan penyesalan mereka," tulis postingan tersebut.