Pernah Bertanya, Ke Mana Darahmu Pergi Setelah Donor Darah?

Mahasiswa Prodi S1 Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kayla Novadiyanti Anggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kamu baru saja selesai melakukan donor darah. Jarum dilepas, kapas ditempelkan di lengan, lalu kamu diminta untuk beristirahat sebentar. Setelah makan dan merasa cukup pulih, kamu pun pulang.
Sampai di sini, mungkin semuanya terasa selesai. Tapi, pernah bertanya, ke mana darahmu pergi setelah donor darah?
Pertanyaan itu terasa relevan ketika KSR-PMI Universitas Airlangga menggelar kegiatan donor darah dan cek kesehatan gratis pada 10 September 2026 di Aula Masjid Ulul Azmi, Kampus MERR-C. Bekerja sama dengan UDD Bangkalan, kegiatan tersebut diikuti sekitar 120 peserta dengan target pengumpulan sekitar 100 kantong darah.
Puluhan kantong darah yang terkumpul hari itu kemudian meninggalkan lokasi donor. Pendonor mungkin sudah kembali menjalani aktivitasnya masing-masing, tetapi kantong-kantong tersebut masih melanjutkan perjalanannya.
Dari Tempat Donor Menuju UDD
Setelah meninggalkan tempat donor, darah dibawa ke Unit Donor Darah atau UDD. Di tempat ini, kantong-kantong darah yang terkumpul tidak sekadar diletakkan di ruang penyimpanan.
Terdapat beberapa pemeriksaan yang harus dilalui terlebih dahulu. Darah diperiksa di laboratorium, termasuk melalui skrining terhadap penyakit yang dapat menular melalui transfusi darah. Dari sini, darah yang memenuhi persyaratan dapat melanjutkan ke proses selanjutnya.
Kantong darah juga tidak selalu berakhir sebagai satu kantong utuh. Darah dapat dipisahkan menjadi beberapa komponen, seperti sel darah merah, plasma, dan trombosit untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pasien nantinya. Setelah dipisahkan, masing-masing komponen dapat memiliki perjalanan yang berbeda.
Ketika Darah Harus Menunggu
Tidak semua darah yang sudah selesai diperiksa langsung diberikan ke rumah sakit. Sebagian masih harus menunggu di tempat penyimpanan hingga ada kebutuhan yang sesuai.
Kebutuhan darah memang tidak selalu datang pada waktu yang sama dengan donor. Pemerintah Kota Surabaya mencatat PMI Kota Surabaya rata-rata melayani sekitar 12.000 pendonor setiap bulan. Jumlah tersebut disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit. Artinya, persediaan darah tidak hanya soal berapa banyak kantong yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga kapan dan di mana darah itu dibutuhkan.
Satu kantong bisa saja masih tersimpan hari ini, sementara di tempat lain ada pasien yang sedang membutuhkan golongan darah yang sesuai.
Dari UDD ke Rumah Sakit, Lalu ke Pasien
Ketika rumah sakit membutuhkan darah, stok yang tersedia kemudian disesuaikan dengan permintaan dan kebutuhan pasien. Komponen darah yang sesuai dikirim ke fasilitas kesehatan.
Namun, kantong yang tiba di rumah sakit belum langsung berpindah ke tangan pasien.
Ada satu pemeriksaan lagi yang harus dilalui. Darah donor dicocokkan dengan darah pasien melalui uji serasi silang atau crossmatch.
Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi kompatibilitas darah pasien dengan darah donor. Sampel keduanya dibandingkan sebelum transfusi dilakukan.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan darah yang sesuai, komponen tersebut baru dapat diberikan kepada pasien.
Di Balik Perjalanan Darah
Di tempat donor, pendonor mungkin hanya melihat satu kantong yang perlahan terisi. Setelah kantong itu dibawa pergi, perjalanan darahnya berlanjut tanpa banyak diketahui oleh orang yang mendonorkannya.
Pendonor tidak selalu tahu berapa lama darah itu disimpan, kapan dikirim ke rumah sakit, atau siapa yang akhirnya menerimanya. Begitu pula dengan pasien yang menerima transfusi, yang mungkin tidak pernah tahu siapa orang di balik darah yang diterimanya.
