Konten dari Pengguna

Di Antara Kekosongan dan Spiritualitas

Source : Dokumen Pribadi / Masjid Islamic Center- Samarinda
zoom-in-whitePerbesar
Source : Dokumen Pribadi / Masjid Islamic Center- Samarinda

Sebuah Esai Reflektif

Pemikiran ini berangkat dari kegiatanku menjemur baju pada Minggu pagi, sekitar pukul enam. Tergolong pagi-pagi sekali untuk seorang perempuan yang biasanya baru memutuskan beraktivitas di atas pukul delapan.

Jemuran bajuku tidak banyak, hanya beberapa potong kaus kaki, atasan, dan rok berwarna hitam yang biasa kupakai.

Di tengah sela-sela kesibukan yang tak seberapa padat, namun cukup menyita waktu bersantaiku, tersirat sebuah perenungan tentang bagaimana spiritualitas sering kali menjadi sandaran ketika seseorang mulai merasa kosong.

Rasa kosong sering kali dimulai dari keterasingan, yang kemudian menjadi pintu masuk menuju kesadaran seseorang atas kerapuhan yang ia miliki. Di satu titik, kesadaran itu menggeser dinamika di dalam hati tentang ketidaksanggupan menghadapi dunia yang acap kali tidak adil—bahwa ada begitu banyak hal yang ternyata tidak bisa kita kuasai.

Rasa Keterasingan sebagai Pintu Masuk

Dunia modern sering kali menuntut kita untuk terus memenuhi ekspektasi eksternal, menjadi produktif, dan bergerak cepat sesuai dengan keterbaruan teknologi. Kita dibesarkan dalam tatanan yang menilai harga diri manusia dari seberapa banyak hal yang bisa kita produksi dan tunjukkan. Kecepatan menjadi standar utama, dan mengambil jeda sering kali dianggap sebagai bentuk kemunduran.

Namun, ketika ritme yang disuguhkan mereda, atau ketika kita berada pada momen tidak sedang melakukan apa pun, kita gampang sekali merasa tertinggal, kalah, dan tidak punya apa-apa. Kekosongan yang selama ini ditutupi oleh riuh-pikuk kesibukan hidup, tiba-tiba menyeruak ke permukaan begitu nyata.

Keterasingan di sini bukan sekadar rasa kesepian karena tidak ada orang lain yang menemani, melainkan sebuah jarak yang tercipta antara jiwa kita dan dunia yang terus menuntut kita untuk menjadi berfungsi.

Manusia jarang hidup sebagai dirinya sendiri. Kita kerap kali hidup dalam peran dan fungsi yang terbungkus dalam norma, budaya, adat, tanggung jawab, dan agama.

Namun, ketika segala peran itu tidak lagi cukup untuk menjelaskan siapa diri kita atau untuk apa kita menjalani hidup, muncul pertanyaan yang lebih mendasar tentang makna keberadaan. Kita berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu memberikan jawaban yang kita harapkan. Di tengah ketidakpastian itu, sebagian manusia mulai mencari sandaran melalui spiritualitas.

Dalam spiritualitas, manusia tidak hanya sekadar beragama, tetapi juga belajar mencari makna, pemahaman, serta merasakan pengalaman batinnya menjadi suatu hal yang konkret.

Aku menjemur satu lembar jemuran terakhirku. Kemudian berpikir lagi,

Apakah spiritualitas adalah cara manusia lari dari kekosongan atau sebuah jalan keluar yang ditawarkan untuk benar-benar mengisi kekosongan?

Mungkin bagi sebagian orang, pencarian itu menemukan bentuknya dalam agama. Bagi sebagian lagi, mereka menemukannya dari hal yang lain: melalui filsafat, hubungan dengan alam, refleksi batin, atau bentuk spiritualitas lainnya.

Manusia terbiasa mengupayakan sesuatu, merencanakan masa depan, membangun identitas, mengejar pengakuan, dan berusaha mengendalikan kehidupannya. Namun, ada momen ketika hal-hal tersebut tidak cukup kuat untuk menjawab pertanyaan tentang makna hidup.

Dalam ruang spiritualitas, kita diajak untuk duduk berdampingan dengan perasaan kita. Mengajak kita menyadari bahwa ketidakmampuan untuk mengontrol segala hal—baik respons maupun kejadian-kejadian—bukanlah sebuah bentuk kekalahan, melainkan bagian dari fitrah kita sebagai manusia.

Menurutku, spiritualitas tidak hanya perlu dipahami dari apa yang dicari oleh manusia, tetapi juga dari bagaimana manusia menggunakannya.

Di kehidupan modern yang membuat segala sesuatu seolah perlu terlihat, diukur, dan mendapat pengakuan, pengalaman spiritual bisa menjadi jalan untuk menghadapi kenyataan tanpa perlu merasa harus menguasai situasi.

Sama seperti Sisifus yang tidak lagi menjadi budak para dewa saat dia menyadari bahwa batu itu adalah miliknya, dan bukit itu adalah dunianya. Sisifus berhenti "berfungsi" sebagai yang terhukum; dia "ada" sebagai penguasa atas nasibnya sendiri.

Dan mungkin begitu cara spiritualitas bekerja—membuat kita hadir sebagai diri kita sendiri. Hadir sebagai apa, dengan kondisi batin yang seperti apa. Ia bisa berlangsung dalam hal-hal yang personal dan tidak selalu harus hadir sebagai pengalaman batin yang dramatis—bisa saja ia hadir dalam hembusan angin pagi, atau suasana kemarau yang panjang.