Konten dari Pengguna

Ketika Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Kita?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Laudya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/id/foto/inflasi-dijabarkan-menggunakan-ubin-scrabble-GNuN-c94_aA
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/id/foto/inflasi-dijabarkan-menggunakan-ubin-scrabble-GNuN-c94_aA

Pernah melihat berita tentang nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan bertanya-tanya, “Memangnya kalau rupiah melemah, apa pengaruhnya bagi saya?”

Sekilas, perubahan nilai tukar mungkin hanya terlihat sebagai angka. Misalnya, sebelumnya satu dolar AS dihargai Rp17.000, kemudian menjadi Rp18.000. Bagi sebagian orang, perubahan tersebut mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Padahal, dampaknya bisa sampai ke harga barang yang kita beli, biaya produksi perusahaan, harga bahan baku, hingga keputusan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjalankan kebijakan ekonomi.

Berawal dari Barang yang Kita Gunakan Sehari-hari

Indonesia masih menggunakan berbagai barang, bahan baku, mesin, dan komponen dari luar negeri. Ketika rupiah melemah, biaya untuk membeli barang-barang tersebut dalam dolar otomatis menjadi lebih mahal jika dihitung dalam rupiah.

Bayangkan ada sebuah perusahaan Indonesia yang membutuhkan bahan baku senilai US$100.000.

Ketika nilai tukar berada di Rp17.000 per dolar, perusahaan membutuhkan sekitar Rp1,7 miliar.

Namun, jika rupiah melemah menjadi Rp18.000 per dolar, biaya yang harus disiapkan menjadi Rp1,8 miliar.

Artinya, perusahaan harus mengeluarkan tambahan sekitar Rp100 juta hanya untuk membeli barang dengan nilai dolar yang sama.

Di sinilah persoalannya mulai terasa.

Perusahaan tentu mempunyai beberapa pilihan. Mereka bisa menanggung kenaikan biaya tersebut, mencari pemasok lain, melakukan efisiensi, atau menaikkan harga jual produknya.

Jika perusahaan memilih menaikkan harga, konsumen akhirnya ikut merasakan dampaknya.

Dari Nilai Tukar Bisa Sampai ke Harga Barang

Hubungan antara pelemahan rupiah dan kenaikan harga sebenarnya tidak selalu berlangsung secara langsung.

Namun, ketika banyak perusahaan menghadapi kenaikan biaya impor secara bersamaan, tekanan terhadap harga barang dapat meningkat.

Misalnya, sebuah industri menggunakan bahan baku impor. Ketika rupiah melemah, bahan baku tersebut menjadi lebih mahal. Jika perusahaan tidak mampu menyerap seluruh kenaikan biaya, harga produknya kemungkinan ikut naik.

Kalau kondisi seperti ini terjadi pada banyak sektor, tekanan terhadap inflasi pun dapat muncul.

Jadi, ketika kita mendengar istilah exchange rate pass-through, sederhananya kita bisa memahaminya sebagai proses ketika perubahan nilai tukar ikut diteruskan ke harga barang dan jasa di dalam negeri.

Tetapi jangan langsung berpikir bahwa setiap kali rupiah melemah, harga semua barang pasti naik dengan jumlah yang sama.

Tidak sesederhana itu.

Besarnya dampak sangat bergantung pada seberapa besar perusahaan menggunakan bahan baku impor, kondisi permintaan masyarakat, kemampuan perusahaan menekan biaya, serta kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.

Tidak Semua Perusahaan Dirugikan

Menariknya, pelemahan rupiah tidak selalu menjadi kabar buruk bagi semua pelaku usaha.

Coba kita lihat perusahaan eksportir.

Perusahaan yang menjual produknya ke luar negeri dan mendapatkan pembayaran dalam dolar AS bisa memperoleh penerimaan rupiah yang lebih besar ketika dolar dikonversikan ke rupiah.

Misalnya, sebuah perusahaan mendapatkan pendapatan US$1 juta.

Jika kurs berada pada Rp17.000 per dolar, nilainya sekitar Rp17 miliar.

Ketika kurs menjadi Rp18.000 per dolar, nilainya menjadi sekitar Rp18 miliar.

Sekilas terlihat menguntungkan.

Namun, lagi-lagi ada catatannya.

Kalau perusahaan eksportir tersebut juga membeli bahan baku dari luar negeri, kenaikan nilai dolar dapat membuat biaya produksinya ikut meningkat. Jadi, keuntungan dari pelemahan rupiah tidak otomatis berarti laba perusahaan langsung bertambah.

Hal yang sama berlaku bagi perusahaan yang mempunyai utang dalam dolar AS. Ketika rupiah melemah, perusahaan membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membayar kewajiban dalam dolar.

Karena itu, bagi dunia usaha, nilai tukar bukan hanya soal angka di layar berita. Kurs merupakan salah satu risiko yang perlu diperhitungkan dalam mengambil keputusan bisnis.

Lalu, Bagaimana dengan Masyarakat?

Bagi masyarakat, dampaknya bisa terasa secara bertahap.

Jika perusahaan menghadapi kenaikan biaya dan kemudian menaikkan harga produk, konsumen harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli barang yang sama.

Namun, dampaknya juga bergantung pada jenis barang.

Barang yang kandungan impornya tinggi biasanya lebih sensitif terhadap perubahan nilai tukar. Sebaliknya, barang yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari dalam negeri mungkin tidak terlalu cepat mengalami perubahan harga akibat pelemahan rupiah.

Inilah alasan mengapa kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa “rupiah melemah berarti semua harga naik”.

Kenyataannya lebih kompleks.

Rupiah Juga Berkaitan dengan Ekspor dan Impor

Ada sisi lain yang menarik.

Ketika rupiah melemah, produk Indonesia secara relatif dapat menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri jika harga domestiknya tidak berubah. Kondisi ini secara teori dapat membantu meningkatkan daya saing ekspor.

Sementara itu, barang dari luar negeri menjadi relatif lebih mahal bagi masyarakat dan perusahaan Indonesia.

Masalahnya, Indonesia juga masih membutuhkan impor untuk berbagai keperluan, termasuk bahan baku, mesin, komponen, dan barang modal.

Jadi, pelemahan rupiah bisa menjadi keuntungan bagi sebagian eksportir, tetapi pada saat yang sama menjadi beban bagi perusahaan yang sangat bergantung pada barang impor.

Karena itu, menurut saya, melihat pelemahan rupiah hanya dari sisi “baik” atau “buruk” justru kurang tepat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang terdampak, seberapa besar dampaknya, dan berapa lama kondisi tersebut berlangsung?

Rupiah Bukan Hanya Urusan Bank Indonesia

Ketika nilai tukar bergerak, biasanya perhatian masyarakat langsung tertuju kepada Bank Indonesia.

Memang, stabilitas nilai rupiah merupakan salah satu bagian penting dalam kebijakan Bank Indonesia. Namun, kondisi nilai tukar sebenarnya dipengaruhi oleh banyak hal.

Ada kondisi ekonomi global, suku bunga negara lain, arus modal, perdagangan internasional, sentimen investor, kondisi geopolitik, hingga kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia.

Artinya, pergerakan rupiah bukan sesuatu yang dapat dikendalikan hanya dengan satu kebijakan.

Pada September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75%. Pada saat yang sama, stabilitas nilai tukar tetap menjadi salah satu perhatian dalam kebijakan moneter.

Hal ini menunjukkan bahwa menjaga perekonomian bukan perkara memilih antara pertumbuhan atau stabilitas secara sederhana. Kebijakan harus mempertimbangkan banyak kepentingan sekaligus.

Jadi, Apakah Kita Perlu Khawatir?

Menurut saya, tidak perlu langsung panik setiap kali melihat rupiah melemah.

Yang perlu dilakukan adalah memahami penyebab dan dampaknya.

Kalau pelemahan rupiah terjadi karena kondisi global, responsnya tentu berbeda dengan pelemahan yang disebabkan oleh masalah fundamental di dalam negeri.

Begitu pula dampaknya. Perusahaan yang banyak melakukan impor tentu mempunyai persoalan yang berbeda dengan perusahaan eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar.

Bagi masyarakat, yang paling penting adalah memperhatikan bagaimana perubahan nilai tukar akhirnya memengaruhi harga barang, daya beli, dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Kita juga perlu ingat bahwa nilai tukar hanyalah salah satu bagian dari perekonomian.

Pada Akhirnya, Angka di Layar Punya Cerita

Ketika melihat angka Rp17.000 atau Rp18.000 per dolar AS, mungkin kita hanya melihat sebuah angka.

Padahal, di balik angka tersebut ada perusahaan yang sedang menghitung biaya bahan baku, ada eksportir yang menghitung pendapatan, ada importir yang menghadapi kenaikan biaya, ada investor yang mempertimbangkan ke mana uangnya akan ditempatkan, dan ada pemerintah serta Bank Indonesia yang memikirkan bagaimana menjaga stabilitas perekonomian.

Itulah mengapa perubahan nilai tukar rupiah sebenarnya dekat dengan kehidupan kita.

Jadi, daripada hanya bertanya, “Kenapa rupiah melemah?”, mungkin pertanyaan yang lebih menarik adalah:

“Apa yang menyebabkan rupiah melemah, siapa yang paling terdampak, dan bagaimana kita menghadapinya?”

Sebab, pada akhirnya, nilai tukar bukan sekadar angka rupiah terhadap dolar. Di balik angka tersebut ada cerita tentang perdagangan, bisnis, harga barang, investasi, kebijakan ekonomi, dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Sumber Data

Bank Indonesia, informasi mengenai nilai tukar, inflasi, dan kebijakan moneter.