Konten dari Pengguna

Di Balik Sibuknya Perawat: Beban Kerja Tinggi dan Dampaknya bagi Pasien

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Laura Kiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Bayangkan Anda atau keluarga dirawat di rumah sakit. Siapa yang paling sering Anda lihat? Pasti perawat. Mereka yang memeriksa tanda vital setiap jam, memberikan obat tepat waktu, membantu pasien bergerak, bahkan mendengarkan keluh kesah saat malam sunyi. Selama 24 jam, perawat jadi tulang punggung pelayanan. Tapi, sedikit yang tahu betapa beratnya beban kerja mereka dan bagaimana itu memengaruhi pasien.

Seperti diungkap Pratama dan Rosa dalam penelitian 2025, seorang perawat tak hanya urus satu pasien. Bisa lima, sepuluh, atau lebih dengan kondisi beda-beda. Mulai dari pasien pasca-operasi yang butuh pengawasan ketat, hingga yang butuh bantuan makan. Aktivitas fisik seperti angkat pasien, jalan bolak-balik ruangan, ditambah beban mental menjaga akurasi obat dan catatan medis. Ini sering banget terjadi di ruang rawat inap rumah sakit negeri atau swasta dengan staf minim.

Akibatnya? Waktu bicara sama pasien jadi terpotong-potong. Padahal, komunikasi itu kunci. Banyak pasien bingung kondisi sakitnya, takut operasi besok, atau butuh semangat. Tanpa penjelasan jelas, mereka cemas. Tanpa dukungan emosi, pemulihan lambat. Edukasi soal obat atau diet pasca-pulang? Sering terabaikan karena perawat keburu dipanggil pasien lain.

Puspitorini dan rekan-rekannya tahun 2025 temukan, beban kerja tinggi juga bikin perawat cepat lelah. Kelelahan ini bukan sekadar ngantuk, tapi turunkan fokus. Bayangin: salah dosis obat atau lupa cek infus. Langsung bahaya buat keselamatan pasien, yang seharusnya nomor satu di rumah sakit.

Amalia dan tim tahun 2025 bilang lebih jauh: ini juga rugiin kepuasan pasien. Pasien nggak cuma mau sembuh fisik, tapi merasa diperhatikan. Empati dari perawat yang tersenyum sambil jelasin prosedur itu obat mujarab. Tapi kalau perawat kelihatan buru-buru, pasien diam aja. "Kasihan, dia sibuk," pikir mereka. Akhirnya, survei kepuasan jeblok.

Contoh nyata: pasien diabetes yang pulang tanpa tahu cara suntik insulin. Bisa komplikasi parah. Atau pasien jantung yang takut tanya soal pantangan makanan. Semua karena perawat tak punya waktu cukup.

Dampaknya nggak cuma ke pasien. Perawat sendiri kena getahnya. Safira dan Imanuddin tahun 2022 ungkap, tekanan kerja kronis picu stres berat, bahkan burnout. Motivasi drop, turnover tinggi, lingkaran setan yang bikin pelayanan makin buruk.

Istiqamah dan Mujtahidah tahun 2025 peringatkan tanpa manajemen beban kerja baik, risiko error medis meledak. Rumah sakit harus action sekarang.

Lalu, apa solusinya? Pertama, perbaiki rasio perawat-pasien. Idealnya satu perawat urus 4-6 pasien di rawat inap, bukan 10-15. Kedua, manajemen shift pintar: rotasi istirahat, tambah staf malam hari. Ketiga, pakai teknologi seperti monitor vital otomatis biar perawat fokus tugas krusial. Keempat, training manajemen stres dan komunikasi efektif.

Pemerintah dan pengelola RS bisa kolaborasi: naikkan anggaran tenaga kesehatan, terapkan standar nasional. Hasilnya? Pasien lebih aman, puas, dan cepat sembuh. Perawat bahagia, pelayanan prima. Win-win untuk semua pihak!

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, F. S., Sumartiningsih, M. S., Putri, R. B., & Iksan, R. R. (2025). Hubungan antara beban kerja perawat dengan kualitas pelayanan di Rumah Sakit An-Nisa Tangerang. Jurnal Kesehatan Tambusai, 6(4), 49086. https://doi.org/10.31004/jkt.v6i4.49086

Puspitorini, A., Zakaria, A., Asumta, M. Z., & Armada, A. (2025). Beban kerja dan stres kerja perawat dengan keselamatan pasien. Journal of Telenursing (JOTING), 7(3), 405–412. https://doi.org/10.31539/joting.v7i3.14555 ⁠

Pratama, G. S., & Rosa, E. M. (2025). Factors affecting nurse workload in providing nursing care in inpatient wards: A literature review. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 35(2), 490–503. https://doi.org/10.34011/jmp2k.v35i2.2678

Safira, R., & Imanuddin, B. (2023). Hubungan beban kerja dan penerapan patient safety terhadap stres kerja pada perawat di RSUD Balaraja tahun 2022. Nusantara Hasana Journal, 2(8), 198–204.⁠ https://ejournal.nusantarahasanajournal.com/index.php/nhj/article/view/709

Istiqamah, N. F., & Mujtahidah. (2025). Evaluasi beban kerja perawat terhadap kinerja dan kualitas pelayanan: Literatur review. Jurnal Manajemen Informasi dan Administrasi Kesehatan, 8(2), 152–160. https://doi.org/10.54259/sehatrakyat.v5i1.7141