Konten dari Pengguna

Buku Sekolah Untuk Timur: Penghargaan Terhadap

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leonard Chia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Resensi Buku

sumber: Fauzi, Muhammad. (2023). Sekolah untuk Timur. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/36987/
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Fauzi, Muhammad. (2023). Sekolah untuk Timur. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/36987/

Pendidikan

Judul Buku: Sekolah Untuk Timur

Penulis: Muhammad Fauzi

Illustrator: Singgih Cahyo Jadmiko

Tahun terbit: 2023

No. ISBN: 978-623-118-011-7

Ketebalan Buku: 169 halaman

Sekolah Untuk Timur adalah cerita fiksi yang diterbit oleh Muhammad Fauzi, dengan pembatuan Singgih Cahyo Jadmiko sebagai ilustrator. Muhammad Fauzi lahir pada tanggal 6 September 1968. Ia terkenal sebagai penerbit buku fiksi, berfokus pada buku novel berilustrasi, cerita pendek, dan sastra anak. Berdomisili di Kendal, Jawa Tengah, Fauzi telah menulis puluhan cerita pendek dan dongeng anak. Cerita fiksi pendek dia terutama memuncul dalam media anak-anak dan lokal terkemuka seperti Majalah Bobo, Suara Merdeka dan Kompas. Sebagian besar penghargaan sastra adalah di bidang fiksi. Ia mendapatkan penghargaan penulis banyak dari berbagai lembaga regional seperti Balai Bahasa Jawa Tengah dan Gerakan Literasi Nasional.

Setelah lulus SD, Timur sangat ingin melanjutkan SMP untuk mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang tentara yang menjaga tanah Papua dan Indonesia. Tetapi, ayah Timur tidak bersetuju dengan ia, dan ingin Timur membantu dengan merawat ibunya yang sedang hamil. Dengan dukungan rahasia dari ibunya untuk ke SMP, Timur bersama temannya (Martin, Lani dan Maruna) dan setiap hari harus berjalan beberapa kilometer demi bisa belajar. Setelah beberapa bulan sudah berhasil pergi ke sekolah tanpa bapaknya cari tahu, Timur tertangkap pulang dari sekolah oleh ayahnya saat ibu Timur sedang melahirkan adik bayi nya, Moses. Setelah melahirkan, ibu Timur membantu meyakinkan ayah Timur agar mengizinkannya bersekolah. Tetapi setelah beberapa bulan kemudian, teman-teman Timur mulai bolos kelas atau tidak hadir, entah karena merasa tidak enak badan atau kebosanan karena berjalan jauh untuk belajar. Beberapa hari kemudian, gurunya Timur yang favorit ternyata akan pulang ke Jawa, jadi orang tuanya menunjukkan bahwa tidak ada satu pun temannya yang bersekolah, dan melihat kondisinya yang kelelahan, ibunya pun kali ini memintanya untuk berhenti sekolah. Namun, ternyata kisah Timur telah viral di dunia maya, yang memberinya kesempatan untuk bersekolah—dengan dukungan dari sejumlah rekan militer yang melepas kepergiannya—serta kesempatan untuk bertemu dengan presiden di Festival Lembah Baliem.

Sekolah Untuk Timur menunjukkan betapa berharganya pendidikan, terutama bagi mereka yang kekurangan akses sekolah di dekatnya, seperti di Papua sebagaimana digambarkan dalam buku tersebut. Buku ini berfungsi sebagai kisah inspiratif yang menunjukkan bahwa bahkan anak-anak pun dapat memberikan dampak besar melalui internet.

Akan tetapi, Sekolah untuk Timur terasa kurang relevan bagi banyak pembaca, terutama mereka yang tinggal di kota-kota maju seperti Jakarta, di mana akses ke sekolah menengah sangat mudah dijangkau. Akhir ceritanya pun terasa terlalu idealis; penyelesaian masalahnya tampak terlalu instan dan mudah, padahal situasi menjelang akhir cerita cukup gawat. Hal ini terkesan dipaksakan demi menghadirkan akhir yang ceria dan positif, sebagaimana lazimnya dalam cerita anak-anak.

Target audiens untuk Sekolah untuk Timur adalah anak-anak, khususnya para pelajar yang dapat lebih memahami karakter utama, Timur, dibandingkan orang dewasa. Anak-anak ini merupakan audiens utama karena mereka dapat belajar mengenai tantangan bersekolah di berbagai daerah serta belajar untuk lebih menghargai apa yang telah mereka miliki. Kisah ini juga menunjukkan bagaimana seorang pelajar bisa dengan mudah terpengaruh oleh tekanan teman sebaya—seperti teman-teman Timur yang berhenti bersekolah karena merasa bosan. Namun Timur tetap memilih untuk melakukan hal yang benar dan melanjutkan pendidikannya. Ia melakukannya bukan demi teman-temannya, melainkan demi mewujudkan impiannya sendiri; hal ini relevan karena tekanan teman sebaya adalah tantangan yang juga dihadapi oleh para pelajar di seluruh dunia.