Konten dari Pengguna

Kenapa Sarung dan Peci Bisa Jadi Simbol Perjuangan? Cerita di Balik Hari Santri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lesmana Adriyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/photos/search/santri/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/photos/search/santri/

Hari ini, Kamis 22 Oktober 2026, linimasa pasti penuh ucapan Selamat Hari Santri. Ada foto sarung dan peci, ada twibbon hijau-emas, ada kata-kata manis yang bertebaran. Aku sendiri dulu sering ikut membagikannya tanpa benar-benar tahu ceritanya. Sampai suatu hari aku berhenti dan bertanya ke diri sendiri: sebenarnya, kenapa harus 22 Oktober?

Ternyata ini bukan sekadar perayaan

Jawabannya ada di sejarah. Hari Santri merujuk pada Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945, dan ditetapkan sebagai Hari Santri lewat Keppres Nomor 22 Tahun 2015. Bayangkan suasananya. Indonesia baru saja memproklamasikan kemerdekaan, tapi ancaman untuk merebutnya kembali masih nyata. Di saat genting itu, seorang kiai besar menyerukan bahwa mempertahankan negeri ini adalah kewajiban. Seruan itu dikenal ikut menyalakan semangat perlawanan rakyat di berbagai daerah, terutama di Jawa Timur. (mamikos)

Menteri Agama menyebut Hari Santri sebagai momentum mengingat kembali kontribusi ulama dan santri dalam sejarah perjuangan bangsa, termasuk lewat Resolusi Jihad itu. Buatku, ini pengingat penting. Santri tidak hanya identik dengan mengaji di pojok pondok. Mereka punya andil dalam menjaga negeri ini tetap berdiri. Sebelum ada tanggal merah atau ucapan di media sosial, ada perjuangan yang melatarinya. (inews)

Tema tahun ini: menguatkan negeri

Kemenag menetapkan tema Hari Santri 2026: "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Kalau diperhatikan, kata "menguatkan" itu terasa aktif. Santri diajak tidak hanya jadi penjaga tradisi, tapi juga ikut membangun, lewat ilmu, karya, dan kemandirian. Menurutku ini arah yang tepat. Zaman sekarang, santri yang pandai mengaji sekaligus melek teknologi dan berani berwirausaha akan jadi kekuatan besar. (komunitasbelajar)

Hari Santri tahun ini terasa beda

Menag Nasaruddin Umar bahkan bilang peringatan tahun ini punya nuansa berbeda, dan ia menyebutnya hari kebangkitan santri seiring hadirnya Ditjen Pesantren. Ini kabar yang menarik, karena artinya pesantren punya "rumah" tersendiri dalam struktur pemerintahan. (nu)

Rangkaian acaranya juga tidak main-main. Ada ruang bagi santri untuk menyampaikan mimpi, harapan, dan gagasan tentang masa depan bangsa langsung kepada Presiden Prabowo Subianto lewat program Surat Santri untuk Presiden. Aku suka ide ini. Santri tidak hanya jadi objek yang dibicarakan, tapi diberi kesempatan bersuara. Lalu ada juga Pesantren Award, Festival Sarung dan Peci Santri, Expo Kemandirian Pesantren, sampai Malam Bakti Santri untuk Negeri. Malam puncaknya direncanakan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, pada 24 Oktober. (Hari Santri 2026, Kemenag Buka Ruang Aspirasi Santri hingga Expo Kemandirian Pesantren +2)

Dan hari ini, di banyak tempat, ada apel atau upacara peringatan. Susunannya sedikit berbeda dari upacara biasa, karena ada pembacaan naskah Resolusi Jihad, Ikrar Santri, serta Mars Syubbanul Wathon dan Mars Hari Santri. Jadi sejarahnya benar-benar dibacakan ulang, bukan hanya dikenang. (mamikos)

Lalu, apa sih keistimewaan santri?

Bagian ini murni pengamatan dan opini pribadiku ya. Ada lima hal yang menurutku membuat santri istimewa.

Pertama, belajar sambil hidup mandiri. Santri terbiasa mencuci baju sendiri, antre makan, dan mengatur waktu jauh dari orang tua. Kemandirian seperti ini tidak diajarkan lewat ceramah, tapi lewat keseharian. Dan modal itu terasa sekali saat mereka dewasa.

Kedua, kebersamaan yang erat. Tidur sekamar, makan sepiring, belajar bareng, kadang berbagi kiriman dari rumah. Dari situ tumbuh rasa persaudaraan yang sering lebih kuat dari sekadar teman sekelas.

Ketiga, adab sebelum ilmu. Hormat kepada guru dan orang yang lebih tua ditanamkan sejak awal. Di zaman serba cepat dan serba cuek ini, sikap seperti itu terasa makin langka dan makin berharga.

Keempat, tradisi keilmuan yang panjang. Mengaji kitab dan menyambung ilmu dari guru ke murid adalah warisan yang terus hidup dari generasi ke generasi. Ilmu itu tidak hanya dihafal, tapi diamalkan dan diwariskan.

Kelima, cinta tanah air yang berjalan beriringan dengan agama. Lagu seperti Syubbanul Wathon menunjukkan bahwa mencintai negeri dan menjaga keimanan bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan.

Satu catatan jujur

Di tengah rasa bangga ini, aku merasa kita perlu jujur juga. Pesantren yang menaungi anak-anak harus tetap terbuka terhadap pengawasan dan terus menjaga rasa aman para santrinya. Merayakan Hari Santri bukan berarti menutup mata pada pekerjaan rumah yang masih ada. Justru pesantren yang baik tidak takut diawasi, karena yang mereka jaga adalah amanah orang tua.

Penutup

Jadi, kalau hari ini kamu ingin ikut merayakan, tidak perlu rumit. Kamu bisa mengucapkan terima kasih kepada guru ngajimu, mengirim doa untuk kawan-kawan pondokmu, atau sekadar mencari tahu sejarahnya seperti yang kita bahas tadi. Hal-hal kecil seperti itu sudah cukup bermakna.

Selamat Hari Santri. Semoga para santri benar-benar bisa menguatkan negeri, seperti yang tertulis pada tema tahun ini.