KKN-T 28 UNDIP Sulap Limbah Kulit Buah Jadi Detergen Ramah Lingkungan

Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Lintang Bagas Pangayom tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Pugeran, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten (28/01/2026) – Tim KKN-T 28 Universitas Diponegoro ikut serta pemberdayaan ibu-ibu TPPKK Desa Pugeran, Kabupaten Klaten melalui kegiatan multidisiplin yang berfokus pada pemanfaatan limbah organik rumah tangga, khususnya kulit buah. Kegiatan ini mengangkat inovasi pengolahan ekoenzim menjadi detergen cair ramah lingkungan sebagai solusi pengelolaan sampah organik sekaligus upaya peningkatan keterampilan dan kemandirian masyarakat.
Detergen cair menjadi kebutuhan utama rumah tangga yang digunakan untuk mencuci pakaian dan sebagainya. Namun, produk yang beredar di pasaran umumnya mengandung bahan kimia sintetis yang sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan jika penggunaanya terus menerus dan berkelanjutan. Menjawab persoalan tersebut, ekoenzim hasil fermentasi limbah organik buah diperkenalkan sebagai alternatif bahan aktif detergen cair ramah lingkungan karena mampu menguraikan senyawa organik secara alami sekaligus menekan penggunaan bahan kimia toksik. Inovasi ini tidak hanya menawarkan solusi pembersih yang lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan, tetapi juga mendorong pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk bernilai guna dan berkelanjutan.
Detergen cair ini diformulasikan menggunakan surfaktan ramah lingkungan sebagai bahan pembersih utama, ekoenzim murni hasil fermentasi limbah organik, serta air sebagai pelarut. Bahan pendukung seperti garam digunakan untuk mengatur kekentalan, foam booster untuk menstabilkan busa, dan pewangi alami untuk meningkatkan kenyamanan penggunaan. Dalam penyampaiannya, tim menekankan bahwa keseimbangan komposisi bahan sangat berpengaruh terhadap kualitas produk, karena penggunaan bahan yang berlebihan maupun kurang dapat memengaruhi daya bersih, kekentalan, dan karakteristik detergen yang dihasilkan. Melalui pemahaman komposisi ini, masyarakat diharapkan mampu memproduksi detergen cair ekoenzimsecara mandiri dengan kualitas yang aman, efektif, dan ramah lingkungan.
Proses pembuatan detergen cair dilakukan dengan menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat guna menjamin mutu, keamanan, dan konsistensi produk yang dihasilkan, serta untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan kerja. Pemaparan materi Standar Operasional Prosedur (SOP) dilakukan dengan diskusi interaktif terkait definisi dan tujuan; penerapan SOP dalam proses produksi rumah tangga yang paling sederhana, yaitu menggunakan masker dan sarung tangan latex; contoh dan langkah awal yang harus dilakukan jika terjadi kecelakaan kerja berdasarkan bahan-bahan kimia yang digunakan.
Dengan mengacu pada SOP yang berlaku, kegiatan kemudian dilanjutkan ke tahap pembuatan detergen cair dengan melarutkan Methyl Ester Sulfonate (MES) ke dalam air hangat sambil diaduk hingga homogen untuk memastikan seluruh bahan tercampur sempurna. Setelah larutan terbentuk, ditambahkan bahan penunjang pembusa secara perlahan dengan pengadukan ringan guna mencegah pembentukan busa berlebih. Selanjutnya dilakukan penambahan larutan garam sedikit demi sedikit hingga diperoleh kekentalan yang sesuai. Ekoenzim kemudian dimasukkan secara bertahap dan diaduk perlahan agar campuran tetap stabil, diikuti penambahan pewangi alami sesuai kebutuhan. Tahap akhir dilakukan pengenceran dengan air hingga volume yang ditentukan, kemudian campuran didiamkan selama beberapa jam sampai produk homogen dan siap digunakan.
Penggunaan bahan alami dalam pembuatan produk kebersihan menjadi salah satu fokus kegiatan sebagai upaya mengurangi dampak negatif bahan kimia sintetis terhadap lingkungan dan kesehatan. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah pemanfaatan pewangi dan pewarna alami dalam pembuatan detergen berbasis ekoenzim.
Pewangi alami dibuat dari bahan lokal yang mudah diperoleh masyarakat, yaitu daun jeruk. Proses pembuatan diawali dengan mencuci daun jeruk hingga bersih, kemudian dicacah dan direndam dalam etanol menggunakan metode maserasi. Setelah proses perendaman, larutan disaring dan dilakukan penguapan secara bertahap hingga diperoleh ekstrak dengan aroma khas daun jeruk. Ekstrak ini kemudian digunakan sebagai pewangi alami pada sabun cair untuk memberikan aroma segar sekaligus mengurangi penggunaan pewangi sintetis.
Selain pewangi, pewarna alami juga ditambahkan untuk menambah estetika tampilan detergen ekoenzim. Pewarna dapat berasal dari teh yang diseduh menggunakan air panas, kemudian disaring dan didinginkan. Larutan teh selanjutnya dicampurkan ke dalam detergen ekoenzim dengan perbandingan tertentu hingga menghasilkan warna cokelat muda yang merata dan stabil. Pemanfaatan teh sebagai pewarna alami dinilai aman, mudah diterapkan, dan ramah lingkungan.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat memahami dan mempraktikkan pembuatan detergen ekoenzim dengan tambahan pewangi dan pewarna alami sebagai alternatif produk kebersihan yang lebih aman, ekonomis, dan berkelanjutan.
Selain itu, pengujian mutu detergen berbahan dasar ekoenzim juga dilakukan sebagai bagian dari upaya menjamin kualitas dan keamanan produk sebelum digunakan oleh masyarakat. Pengujian meliputi pengujian pH dilakukan menggunakan alat sensor pH rakitan sederhana dengan mengacu pada standar pH yang ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia, yaitu SNI 4075.1:2017 untuk detergen dalam rentang 5,00 – 10,00. Hasil pengujian ini menjadi dasar evaluasi mutu produk olahan ekoenzim agar layak digunakan dan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh masyarakat.
Untuk memastikan keamanan pengguna dalam menggunakan ekoenzim cair, Tim KKN-T 28 juga menguji sensor pH pada alat ukur yang telah dibuat. Pengujian meliputi perbandingan hasil ukur antara sensor pH dengan pH universal. Setelah kalibrasi melalui program mikrokontroler dan juga komponen, sensor pH menunjukkan akurasi yang baik pada rentang pH normal ekoenzim. Selain itu, sensor pH yang dibuat juga dapat mengidentifikasi apakah pH tersebut aman untuk produk turunan ekoenzim lainnya seperti sabun dan sampo ekoenzim. Berdasarkan hasil tersebut, sensor pH ini dapat digunakan sebagai pembersih yang tidak hanya sesuai standar fisik dan kimia SNI, tetapi juga meningkatkan keunggulan ekologis produk.
