Konflik Saudi-Houthi Menghimpit Negara Rentan di Timur Tengah

Mahasiswa Universitas Sriwijaya
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Lovenia zahrah Shaffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terminal bandara seharusnya jadi tempat orang berangkat, bukan tempat orang berlindung. Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, sebuah rudal menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Sedikitnya 12 orang tewas dan lebih dari 300 lainnya luka. Korbannya berasal dari delapan kewarganegaraan, dari Arab Saudi dan Bangladesh sampai Amerika Serikat dan Yordania.
Dua hari kemudian, harga minyak Brent naik ke sekitar US$107 per barel, level tertinggi sejak akhir September. Serangan di satu bandara di Jazirah Arab langsung masuk ke hitungan biaya energi, ongkos kirim, dan harga barang di tempat yang jauh dari medan perang.
Inilah persoalan utamanya: perang Arab Saudi–Houthi tidak lagi bisa dibaca sebagai urusan dua pihak. Ia terjadi di jalur minyak dan jalur dagang dunia, dan tagihannya paling cepat sampai ke negara yang paling sedikit punya ruang bernapas. Tulisan ini menelusuri serangan terbaru, cara konflik itu merambat ke ekonomi negara lain, siapa yang paling rentan, dan apa yang masih bisa dilakukan.
Dari blokade laut ke serangan bandara
5 Oktober: Pemerintah Yaman yang diakui dunia meluncurkan Operasi Fajar Yaman untuk merebut kembali Sanaa dan wilayah Houthi. Sekitar 100 pesawat Saudi ikut mendukung dari udara.
6–7 Oktober: Rudal dan drone menghantam bandara Riyadh dan Abha. Tiga orang tewas dan puluhan terluka.
8 Oktober: Sebuah Airbus A320 milik Saudia hancur di bandara Riyadh. Tiga warga Saudi, termasuk seorang pilot, tewas. Sepuluh maskapai menghentikan penerbangan ke Riyadh.
10 Oktober: Serangan terparah. Laporan menyebut 12–13 orang tewas dan lebih dari 300 luka, yang disebut paling mematikan di Saudi dalam lebih dari satu dekade. Dewan Keamanan PBB kemudian menghitung 14 korban jiwa dari serangan 10 dan 11 Oktober.
11–12 Oktober: Terminal 4 kembali terkena dan terbakar. Tiga rudal dicegat pada 12 Oktober. Bandara Riyadh ditutup sampai 17 Oktober.
13 Oktober: Koalisi pimpinan Saudi menyerang fasilitas minyak di Sanaa, pelabuhan Ras Isa, dan Hodeidah. Beberapa jam kemudian, Houthi menyerang gedung administrasi Aramco di Dhahran. KTT Teluk-Eropa ditunda.
15–16 Oktober: Koalisi mengklaim menghancurkan 127 gudang senjata dan peluncur Houthi, dan menyebut bandara Riyadh telah diserang 20 kali sepanjang Oktober. Dewan Keamanan PBB mengeluarkan pernyataan keras.
17 Oktober: Dua rudal Houthi jatuh di dalam kompleks Bandara Aden, serangan kedua ke bandara itu pekan ini. Tidak ada korban tewas. Rudal dan drone yang mengarah ke Saudi kembali dicegat.
Hingga laporan terakhir, tanda mereda belum terlihat. Houthi menyatakan akan terus menyasar bandara dan fasilitas minyak Saudi. Pengamat menilai tujuannya menekan ekonomi Saudi agar Riyadh berhenti mendukung pemerintah Yaman. Saudi menyebut Houthi sebagai pihak yang menolak jalan damai. Kedua pihak sama-sama menyebut langkahnya sebagai balasan.
Bagaimana konflik regional sampai ke ekonomi negara lain?
Ada empat jalur yang membuat perang di satu kawasan terasa di dompet orang lain.
Harga energi. Selat Bab el-Mandeb dilalui sekitar 12% minyak dunia. Setelah Selat Hormuz terganggu oleh perang Iran, Saudi mengalihkan ekspornya lewat pipa ke Yanbu di Laut Merah, yaitu jalur yang kini diancam Houthi. Pasar langsung menambah "premi risiko" ke harga minyak. Goldman Sachs menaksirnya sedikit di atas US$20 per barel. Negara pengimpor membayar lebih mahal, dan kenaikan itu berujung pada harga BBM, listrik, ongkos angkut, lalu pangan.
Ongkos dan waktu pengiriman. Tanker dari Yanbu kini sering memutar lewat Terusan Suez. Sebagian muatan dikurangi atau dipindah lewat pipa SUMED agar muat melewati kanal, sehingga perjalanan lebih jauh dan lebih mahal. Laut Merah membawa 12–15% perdagangan maritim dunia dan sekitar 30% lalu lintas peti kemas. Pada Juni, lalu lintas Bab el-Mandeb masih sekitar 41% di bawah normal.
Pemenang dan pecundang tidak sama. Pendapatan Terusan Suez Mesir pada Agustus mencapai US$567,1 juta, naik 56,7% dari tahun lalu, karena kapal menghindari Bab el-Mandeb. Namun, Menteri Luar Negeri Mesir menyebut gangguan Laut Merah sejak 2023 sudah menelan US$11 miliar pendapatan kanal. Satu gangguan yang sama bisa menguntungkan satu negara dan merugikan negara lain.
Uang kiriman, bantuan, dan kepercayaan. Ketika ekonomi Teluk tertekan, pekerja asing di sana lebih sulit mengirim uang pulang, dan negara donor lebih sulit memberi bantuan. Maskapai membatalkan penerbangan, tujuh negara mengeluarkan peringatan perjalanan ke Saudi, dan sebuah KTT Teluk–Eropa ditunda. Investor dan wisatawan membaca semua itu sebagai tanda untuk menunggu.
Singkatnya, siapa pun yang mengimpor energi, mengirim barang lewat laut, atau hidup dari kiriman uang pekerja migran ikut menanggung risikonya.
Siapa yang paling rentan? Mengapa?
Kerentanan ditentukan oleh tiga hal: seberapa besar ketergantungan pada energi impor, seberapa tipis penyangga keuangannya, dan seberapa dekat ia pada Teluk atau Laut Merah. Tiga negara di bawah ini memenuhi ketiganya dengan cara berbeda.
Yaman: perangnya di rumah sendiri. Sekitar 22,3 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2026, naik 23% dalam dua tahun. Sampai akhir Juni, kurang dari 20% dana yang diminta untuk tahun ini terkumpul. Di wilayah yang dikuasai pemerintah, 47% penduduk sudah menghadapi kerawanan pangan akut, dan pemulihan setelah panen diperkirakan tipis. Persoalannya bukan barang yang tidak ada, melainkan harga yang tidak terjangkau. Minggu ini bandara Aden, simpul logistik penting pemerintah, dua kali terkena rudal, dan serangan koalisi pada 13 Oktober mengenai tangki minyak di Ras Isa dan stasiun minyak di Hodeidah. Setiap gangguan pada bahan bakar dan jalur masuk barang langsung menekan harga pangan.
Yordania: impor energi dan pariwisata. Yordania mengimpor sekitar 96% kebutuhan energinya, sehingga kenaikan harga minyak langsung memukul anggaran negara dan harga BBM. Pariwisata, yang pada 2025 mendatangkan sekitar US$7,8 miliar dari lebih dari 7 juta wisatawan, ikut terganggu ketika kawasan dianggap tidak aman. Seorang analis menyebut pasar domestik Yordania terlalu kecil untuk menyerap kerugian itu. Yordania juga sejak lama bergantung pada dukungan Arab Saudi dan negara Teluk, dan salah satu korban di bandara Riyadh adalah warga Yordania. Sebagai catatan, kebijakan fiskal dan moneter Yordania sejauh ini menjaga stabilitas makroekonomi.
Lebanon: penyangganya sudah habis. Menteri Keuangan Lebanon memperkirakan ekonomi menyusut 7-10% pada 2026 akibat perang Israel–Hizbullah, dengan kerugian hingga US$20 miliar. Padahal Bank Dunia pada Januari masih memperkirakan pertumbuhan 4%. Kiriman uang dari diaspora, yang banyak bekerja di Teluk, menjadi tulang punggung ekonomi. Menurut perkiraan lama, nilainya sekitar US$7 miliar per tahun dan sebagian besar datang dari Teluk. Sang menteri khawatir ekonomi Teluk yang tertekan akan melemahkan peran itu. Dari permohonan bantuan US$300 juta setelah kunjungan Sekjen PBB, baru sekitar US$100 juta yang terealisasi. Negara yang sudah rapuh tidak punya ruang untk satu gunvangan lagi.
Respons internasional: banyak kecaman, sedikit peredam
Respons ada, dan cepat. Pada 15 Oktober, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan pernyataan presidensial yang disepakati seluruh 15 anggotanya. Isinya mengecam serangan terhadap Saudi dan menegaskan hak Saudi membela diri. Sekjen PBB Antonio Guterres mengaku sangat terkejut, dan utusan PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, menyebut serangan ke bandara sipil sebagai eskalasi serius. India, Jepang, Pakistan, Kanada, Mesir, dan Turki ikut mengecam atau menyampaikan belasungkawa. Tujuh negara, termasuk Inggris, AS, dan Jepang, memperingatkan warganya soal perjalanan ke Saudi.
Perkembangan lain lebih menegangkan. Presiden AS Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan ikut menyerang Houthi, dan seorang pejabat Houthi membalas akan ada tanggapan yang "cepat dan menyakitkan". Iran menawarkan diri menjadi penengah, sementara seorang diplomat senior Saudi menuduh Iran mendorong eskalasi. Saudi menyatakan peta jalan damainya diterima pemerintah Yaman tetapi ditolak Houthi.
Yang belum terlihat adalah langkah yang benar-benar meredakan. Kecaman datang cepat dan seragam. Dana bantuan untuk Yaman, yang terkumpul kurang dari 20% dari kebutuhan, datang jauh lebih lambat.
Rekomendasi langkah yang dapat dilakukan
Terdapat langkah kecil yang paling mungkin diterima semua pihak, bukan solusi besar yang sulit terwujud.
Pisahkan yang sipil dari medan perang. Kesepakatan terbatas agar bandara sipil, fasilitas energi, dan pelabuhan bantuan tidak dijadikan sasaran oleh pihak mana pun. Ini langkah paling kecil yang tetap melindungi kerugian ekonomi terbesar, dan kedua pihak sama-sama punya fasilitas yang bisa menjadi sasaran balasan. Gencatan 2022 pernah menurunkan serangan terhadap Saudi.
Hidupkan lagi jalur mediasi. Oman dan PBB pernah menjadi perantara antara Riyadh dan Sanaa. Tawaran mediasi lain, termasuk dari Iran, layak diuji selama ada jaminan yang bisa diverifikasi.
Siapkan penyangga sebelum krisis berikutnya. Lembaga keuangan internasional dan negara donor dapat menyiapkan pembiayaan darurat untuk Yordania dan Lebanon, serta mempercepat dana kemanusiaan Yaman yang baru terisi kurang dari 20%. Mencegah lebih murah daripada memulihkan.
Amankan jalur laut bersama-sama. Koalisi keamanan Laut Merah yang diusulkan Saudi dinilai sebagian analis lebih bersifat diplomatik. Agar efektif, ia perlu melibatkan negara-negara pengguna jalur itu, termasuk dari Asia. Penambahan kapasitas pipa Timur–Barat Saudi, yang dilaporkan sedang dipertimbangkan, juga mengurangi ketergantungan pada satu jalur.
Negara pengimpor menyiapkan diri. Bagi negara seperti Indonesia, artinya memantau harga energi, menjaga cadangan, dan menjelaskan ke publik apa yang terjadi sebelum kabar simpang siur memicu panik.
Persoalan utamanya adalah sederhana, serangan yang bermula sebagai urusan dua pihak kini turut menyeret bandara sipil, tangki minyak, dan jalur dagang yang dipakai banyak negara. Lalu, ketika kedua pihak sama-sama merasa sedang membalas, biayanya ditanggung oleh orang yang tidak punya pilihan dalam konflik ini, seperti keluarga di Yaman yang sulit membeli makanan, pekerja migran yang kirimannya terancam, dan konsumen di negara pengimpor energi. Menahan serangan pada sasaran sipil dan ekonomi bukan soal siapa yang menang, namun soal siapa yang ikut menanggung.
