AI dan Krisis Air: Dampak Pusat Data di Jatiluhur

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Lubna Nailah Ansaria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat ini, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Banyak orang memanfaatkan AI untuk membantu belajar, bekerja, bahkan mencari informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada hal yang sering kali luput dari perhatian, yaitu kebutuhan sumber daya alam untuk mendukung teknologi ini, salah satunya air.
Persoalan tersebut menjadi perhatian setelah pembangunan pusat data milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dihentikan sementara pada akhir September 2026. Kejadian ini menunjukkan bahwa pembangunan teknologi tidak hanya berkaitan dengan kemajuan digital, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya. Informasi lebih lanjut dapat dibaca dalam pemberitaan The Jakarta Post mengenai penangguhan proyek pusat data di Jawa Barat.

Mengapa Teknologi AI Membutuhkan Air?
Banyak orang mungkin mengira bahwa penggunaan AI hanya membutuhkan komputer dan jaringan internet. Padahal, layanan AI didukung oleh pusat data yang berisi banyak server untuk mengolah dan menyimpan informasi. Perangkat tersebut menghasilkan panas sehingga sebagian pusat data menggunakan air dalam sistem pendinginannya.
Berdasarkan pemberitaan Katadata pada Oktober 2026, kebutuhan air pusat data di Jatiluhur diproyeksikan mencapai sekitar 33 juta liter per hari apabila beroperasi dengan kapasitas penuh. Jumlah tersebut masih berupa perkiraan kebutuhan, bukan berarti seluruh air itu sudah digunakan saat ini.
Angka tersebut tentu perlu diperhatikan, terutama karena air merupakan kebutuhan utama bagi manusia. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana pembangunan pusat data dapat berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan air masyarakat di sekitarnya.
Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat
Jika dilihat dari sudut pandang geografi, setiap wilayah memiliki sumber daya alam dengan kondisi dan ketersediaan yang berbeda. Waduk Jatiluhur sendiri memiliki peran penting dalam penyediaan air bagi berbagai kebutuhan, termasuk masyarakat dan pertanian. Oleh sebab itu, pembangunan industri yang membutuhkan banyak air perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat.
Permasalahan ini juga berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Air dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, menjaga kebersihan, serta mendukung kegiatan pertanian. Apabila pemanfaatannya tidak diatur secara tepat, kebutuhan industri dan masyarakat bisa saling berbenturan, terutama ketika ketersediaan air berkurang pada musim kemarau.
Meskipun demikian, dampak terhadap masyarakat tidak bisa langsung disimpulkan tanpa data yang memadai. Perlu diketahui dari mana sumber air diambil, berapa banyak yang benar-benar digunakan, serta bagaimana pengelolaannya. Dengan begitu, penilaian terhadap dampak pembangunan dapat dilakukan secara lebih adil dan berdasarkan fakta.
Mencari Jalan Tengah antara Teknologi dan Lingkungan
Menurut saya, perkembangan AI tidak seharusnya dipandang hanya dari sisi manfaat teknologinya. Kita juga perlu memperhatikan sumber daya yang digunakan untuk mendukung perkembangannya. Kemajuan teknologi memang penting, tetapi kebutuhan dasar masyarakat dan kelestarian lingkungan tidak boleh diabaikan.
Pemerintah dan pengelola pusat data perlu memastikan bahwa penggunaan air dilakukan secara bertanggung jawab. Misalnya, dengan menerapkan sistem pendinginan yang lebih hemat air, memanfaatkan kembali air yang memenuhi standar, serta membuka informasi mengenai kebutuhan air dan dampak lingkungan dari kegiatan operasionalnya.
Selain itu, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan perlu mendapatkan informasi yang jelas dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Dengan adanya keterbukaan, keputusan pembangunan dapat mempertimbangkan kepentingan industri sekaligus kebutuhan warga.
Kemajuan Teknologi Perlu Diimbangi dengan Kepedulian Lingkungan
Kasus pusat data AI di Jatiluhur memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi memiliki hubungan yang erat dengan geografi dan kehidupan sosial. Di satu sisi, teknologi dapat membantu pekerjaan manusia dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, penggunaannya tetap membutuhkan sumber daya alam yang harus dikelola dengan baik.
Menurut saya, keberhasilan pembangunan tidak cukup dilihat dari kecanggihan teknologi atau besarnya investasi yang masuk. Pembangunan juga harus mampu menjaga lingkungan dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Pada akhirnya, perkembangan AI seharusnya membawa manfaat bagi kehidupan manusia tanpa menimbulkan persoalan baru yang dapat merugikan lingkungan dan masyarakat. Sebab, teknologi yang maju akan lebih berarti apabila disertai tanggung jawab dalam menggunakan sumber daya alam.
