Konten dari Pengguna

CAR dan GWM: Dua Rem Penting Agar Perbankan Tetap Aman

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lutfiah Apriyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika menyimpan uang di bank, mungkin kita tidak pernah berpikir ke mana sebenarnya dana tersebut pergi. Sebagian dana masyarakat digunakan bank untuk menyalurkan kredit, membeli surat berharga, dan menjalankan berbagai aktivitas perbankan lainnya.

Namun, apakah bank boleh menggunakan seluruh dana yang dimilikinya?

Jawabannya tentu tidak.

Perbankan membutuhkan aturan yang menjaga agar bank tetap mampu menghadapi risiko sekaligus memenuhi kebutuhan likuiditas. Di sinilah Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi penting.

Keduanya sama-sama berkaitan dengan keamanan perbankan, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.

Bank Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, termasuk melalui kebijakan terkait Giro Wajib Minimum (GWM). Sumber: Bank Indonesia.

CAR: Seberapa Kuat Modal Bank Menahan Risiko?

Secara sederhana, CAR menggambarkan seberapa kuat modal bank dibandingkan dengan risiko yang melekat pada asetnya.

OJK menjelaskan CAR sebagai rasio kecukupan modal yang dihitung dengan membandingkan modal dengan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Dalam kerangka regulasi perbankan, bank wajib menyediakan modal minimum sesuai dengan profil risikonya.

Mengapa modal begitu penting?

Bayangkan bank menyalurkan kredit kepada masyarakat dan dunia usaha. Tidak semua kredit pasti kembali tepat waktu. Ada kemungkinan debitur mengalami kesulitan membayar, kondisi ekonomi memburuk, atau risiko lainnya muncul.

CAR menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kemampuan permodalan bank dalam menghadapi risiko. Referensi : pexels license

Modal berfungsi sebagai lapisan perlindungan ketika risiko tersebut terjadi.

Semakin kuat permodalan bank, semakin besar kemampuan bank menyerap kerugian tanpa langsung mengganggu kepentingan nasabah.

Karena itu, CAR bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di balik angka tersebut terdapat pertanyaan penting:

Apakah bank memiliki bantalan yang cukup ketika risiko datang?

GWM: Uang Bank Tidak Boleh Sepenuhnya Berputar

Jika CAR berkaitan dengan kekuatan modal, GWM berkaitan dengan likuiditas.

Giro Wajib Minimum merupakan dana yang wajib dipelihara bank pada Bank Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan GWM merupakan salah satu instrumen yang digunakan Bank Indonesia dalam pengendalian moneter.

Sederhananya, bank tidak boleh mengubah seluruh dana yang dihimpunnya menjadi kredit atau aset lain yang tidak langsung tersedia.

Mengapa?

Karena nasabah tetap harus bisa menarik dananya ketika membutuhkan.

Bayangkan jika seluruh uang yang masuk ke bank langsung disalurkan sebagai kredit. Ketika banyak nasabah secara bersamaan ingin menarik uang, bank dapat mengalami tekanan likuiditas.

GWM menjadi salah satu bagian dari mekanisme untuk menjaga agar sistem perbankan memiliki likuiditas yang memadai.

CAR dan GWM Bukan Penghambat, tetapi Pengaman

Ada anggapan bahwa terlalu banyak aturan dapat membuat bank sulit menyalurkan kredit.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah karena modal dan likuiditas memang harus dikelola secara hati-hati. Namun, melihat CAR dan GWM hanya sebagai "beban" juga kurang tepat.

Bayangkan sebuah mobil yang melaju di jalan raya.

CAR dapat dianalogikan sebagai kekuatan struktur dan perlindungan ketika terjadi benturan, sedangkan GWM seperti cadangan yang memastikan kendaraan tidak kehabisan bahan bakar.

GWM merupakan salah satu instrumen dalam pengaturan likuiditas perbankan oleh Bank Indonesia. Referensi : pexels license

Keduanya mungkin membuat bank tidak bisa menggunakan seluruh sumber dayanya secara bebas. Namun justru pembatasan tersebut diperlukan agar bank tidak mengambil risiko yang berlebihan.

Dalam konteks yang lebih luas, CAR membantu menjaga ketahanan permodalan, sementara GWM menjadi bagian dari kebijakan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas sistem keuangan.

Regulasi Harus Menjaga Keseimbangan

Yang menarik, regulasi CAR dan GWM tidak seharusnya dipandang sebagai aturan yang berdiri sendiri.

Keduanya perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar: bagaimana bank dapat tetap sehat sekaligus menjalankan fungsi intermediasi.

Bank memang harus menyalurkan kredit karena kredit menjadi salah satu jalur penting untuk mendukung aktivitas ekonomi. Namun, ekspansi kredit tanpa memperhatikan risiko juga dapat menjadi masalah.

Sebaliknya, jika bank terlalu berhati-hati dan terlalu banyak menahan dana, fungsi intermediasinya dapat menjadi kurang optimal.

Karena itu, tantangan sebenarnya adalah menemukan titik keseimbangan antara keamanan dan pertumbuhan.

Bank Indonesia sendiri terus menyesuaikan kebijakan makroprudensial dengan kondisi ekonomi. Pada 2026, ketentuan terkait GWM juga berada dalam kerangka pengendalian moneter dan kebijakan makroprudensial yang terus diperbarui.

Mengapa Masyarakat Perlu Peduli?

CAR dan GWM mungkin terdengar seperti istilah yang hanya penting bagi bankir, ekonom, atau regulator.

Padahal, dampaknya dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ketika kita menyimpan uang di bank, mengambil kredit, menggunakan kartu debit, atau menjalankan usaha dengan fasilitas pembiayaan bank, kita sebenarnya berada dalam ekosistem yang dipengaruhi oleh aturan tersebut.

CAR dan GWM membantu menciptakan sistem perbankan yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap risiko.

Pada akhirnya, bank bukan hanya tempat menyimpan uang. Bank merupakan bagian penting dari sistem perekonomian.

Karena itu, kesehatan bank tidak cukup dilihat dari seberapa besar laba yang dihasilkan atau seberapa banyak kredit yang disalurkan.

Kita juga perlu melihat apakah bank memiliki modal yang cukup untuk menghadapi risiko dan likuiditas yang cukup untuk memenuhi kewajibannya.

Di sinilah CAR dan GWM memainkan perannya.

CAR menjaga agar bank memiliki bantalan modal ketika risiko datang. GWM membantu menjaga likuiditas agar sistem perbankan tetap memiliki ruang untuk bernapas.

Regulasi tersebut mungkin terlihat sebagai batasan, tetapi justru batasan itulah yang membantu menjaga kepercayaan.

Sebab dalam dunia perbankan, kepercayaan adalah aset yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar angka dalam neraca.

Oleh : Mahasiswa Universitas Pamulang Kelas Manajemen Dana Bank Ibu Ratna Dumilah S.E., M.M