Konten dari Pengguna

Bukan Sekedar Menabung, Mengapa Generasi Muda Perlu Memahami Keuangan Syariah?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari hafidzatul lutfiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tabungan atau Menabung. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tabungan atau Menabung. Foto: Shutterstock

Mengapa Literasi Keuangan Syariah Penting bagi Generasi Muda?

Uang saku habis sebelum akhir bulan merupakan masalah yang sering dialami generasi muda akibat kurangnya perencanaan keuangan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya literasi keuangan syariah agar mahasiswa dapat mengelola uang secara bijak, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membiasakan diri menabung sesuai kemampuan. Di tengah kemudahan transaksi digital, mengelola uang memang terasa semakin praktis. Namun, kemudahan bertransaksi tidak selalu diikuti dengan kemampuan mengatur keuangan secara bijak.

Disinilah literasi keuangan menjadi penting. Bagi generasi muda muslim, pemahaman tersebut dapat dilengkapi dengan literasi keuangan syariah, yaitu kemampuan memahami dan mengambil keputusan keuangan berdasarkan prinsip-prinsip syariah.

Keuangan tersebut bukan hanya tentang memilih bank dengan label syariah. Lebih dari itu, keuangan syariah mengajarkan pentingnya kejelasan transaksi, keadilan, tanggung jawab, serta menghindari praktik yang dilarang dalam islam, termasuk riba.

Lantas, mengapa pemahaman ini penting bagi generasi muda?

Literasi Keuangan Syariah Masih Perlu Diperkuat

Persoalan literasi keuangan syariah di indonesia masi menjadi perhatian. Otoritas jasa keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), melalui survei nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 39,11 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan syariah tercatat sebesar 12,88 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah dan penggunaan layanan keuangan syariah masih berbeda. Namun, kedua indeks itu mengukur aspek yang tidak sama sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung seolah-olah seluruh masyarakat yang memahami keuangan syariah pasti menggunakan produknya.

Data tersebut menjadi pengingat bahwa pengembangan keuangan syariah tidak cukup hanya dengan menyediakan produk dan layanan. Masyarakat juga perlu memahami cara kerja, manfaat, risiko, dan ketentuan yang melekat pada produk tersebut.

Bagi generasi muda, pemahaman ini dapat dimulai dari keputusan sederhana, seperti mengatur uang saku, menyisihkan tabungan, mengenali produk perbankan syariah, dan mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan pembelian.

Memahami Prinsip Syariah dalam Keputusan Keuangan

Salah satu yang perlu dipahami adalah bahwa keuangan syariah memiliki prinsip ketentuan yang membedakannya dari sistem keuangan konvensional.

Dalam perbankan syariah, misalnya, terdapat berbagai akad yang digunakan sesuai dengan tujuan transaksi. Akad wadiah berkaitan dengan penitipan, sedangkan mudharabah merupakan kerja sama usaha antara pemilik modal dan pengelola dengan pembagian hasil sesuai kesepakatan. Dalam praktik perbankan, penerapan setiap akad mengikuti ketentuan dan karakteristik produk yang bersangkutan.

Pemahaman mengenai akad penting agar masyarakat tidak hanya memilih produk berdasarkan nama atau promosi. Calon nasabah perlu mengetahui bagaimana dana dikelola, bagaimana keuntungan diperoleh, apa saja biaya yang ditekankan, serta apa hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Dengan demikian, literasi keuangan syariah bukan sekadar pengetahuan mengenai istilah agama dalam transaksi, melainkan bekal untuk membuat keputusan keuangan secara sadar dan bertanggung jawab

Dimulai dari Kebiasaan Mengelola Uang Kas

Banyak orang menganggap perencanaan keuangan hanya diperlukan ketika sudah memiliki penghasilan tetap. Padahal, kebiasaan mengelola uang justru dapat dibangun sejak masih menjadi pelajar atau mahasiswa.

Langkah pertama adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. Membeli makanan, membayar transportasi, dan memenuhi kebutuhan kuliah merupakan contoh pengeluaran yang perlu diprioritaskan. Sebaliknya, membeli barang hanya karena sedang tren dapat ditunda jika tidak benar-benar diperlukan.

Langkah kedua adalah membuat anggaran sederhana. Catat jumlah uang yang diterima, pengeluaran rutin, dan jumlah yang ingin disisihkan untuk tabungan. Anggaran tidak harus rumit. Hal terpenting adalah membuat rencana yang sesuai dengan kondisi keuangan dan berusaha menjalankannya secara konsisten.

Langkah ketiga adalah membangun kebiasaan menabung. Menabung tidak harus menunggu uang tersisa dalam jumlah besar. Menyisihkan sebagian uang secara rutin, sesuai kemampuan, dapat membantu membangun kedisiplinan keuangan.

Langkah keempat adalah lebih berhati-hati terhadap tawaran keuangan digital. Kemudahan pembayaran, pinjaman, dan berbagai promosi dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru. Sebelum menggunakan layanan keuangan, pahami biaya, kewajiban pembayaran, risiko, dan legalitas penyedia layanan.

Jika memilih produk keuangan syariah, jangan hanya mengandalkan nama atau label syariah. Pelajari akad, mekanisme transaksi, serta informasi produk dari sumber resmi agar keputusan yang diambil sesuai dengan kebutuhan dan pemahaman.

Peran Mahasiswa Ekonomi Syariah

Mahasiswa Ekonomi Syariah memiliki kesempatan untuk ikut memperluas pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab. Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dapat diterapkan melalui kegiatan edukasi, diskusi, penulisan artikel, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Edukasi tersebut tidak harus selalu disampaikan dengan istilah yang rumit. Pembahasan mengenai perbedaan tabungan dan investasi, cara menyusun anggaran, pengenalan akad, serta kewaspadaan terhadap tawaran keuangan yang merugikan dapat disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, ekonomi syariah tidak hanya dipahami sebagai teori di ruang kelas, tetapi juga sebagai bagian dari keputusan ekonomi yang dilakukan masyarakat setiap hari.

Tantangannya adalah memastikan bahwa edukasi yang diberikan tidak berhenti pada pengenalan istilah. Masyarakat perlu dibantu untuk memahami cara kerja produk, mempertimbangkan konsekuensi keputusan, dan menyesuaikan pilihan keuangan dengan kebutuhan serta kemampuan masing-masing.

Keuangan Syariah Perlu Dipahami, Bukan Sekadar Dikenal

Perkembangan layanan keuangan syariah akan lebih bermakna apabila diikuti dengan pemahaman masyarakat yang memadai. Produk yang beragam dan akses yang semakin mudah perlu disertai edukasi agar masyarakat dapat memilih layanan secara tepat.

Bagi generasi muda, memahami keuangan syariah dapat menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan keuangan yang sehat sejak dini. Dimulai dari mengatur uang saku, menabung secara teratur, menghindari pengeluaran impulsif, hingga mempelajari akad dan risiko produk keuangan, setiap langkah dapat memberikan bekal untuk mengambil keputusan yang lebih baik.

Pada akhirnya, tujuan literasi keuangan syariah bukan sekadar membuat seseorang menggunakan produk berlabel syariah. Tujuan yang lebih mendasar adalah membantu masyarakat memahami pilihan keuangannya, mengelola sumber daya secara bertanggung jawab, serta menerapkan prinsip keadilan dan kejelasan dalam transaksi.

Sebab, pengelolaan keuangan yang baik bukan hanya tentang berapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana uang tersebut digunakan secara bijak, sesuai kebutuhan, dan dapat dipertanggungjawabkan.