Mahasiswa, Fast Fashion, dan Live Shopping: Tren yang Mengabaikan Dampak

Mahasiswi semester 3 sastra inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Luvy yamnah yassira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di kalangan mahasiswa, mengikuti tren fashion menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan diri. Media sosial seperti TikTok dan Instagram membuat tren pakaian berubah dengan cepat. Akibatnya, banyak mahasiswa tertarik membeli pakaian baru agar tetap terlihat modis dan tidak ketinggalan zaman.
Fenomena ini berkaitan dengan fast fashion, yaitu produksi pakaian secara cepat dengan harga yang relatif terjangkau untuk mengikuti tren pasar. Model bisnis ini memudahkan mahasiswa mendapatkan pakaian kekinian, terutama dengan adanya diskon dan berbagai pilihan di toko online.
Strategi Influencer dan Iklan dalam Mendorong Konsumsi Fast Fashion
Kalimat promosi seperti “Wajib checkout sebelum kehabisan!”, “Racun outfit hari ini!”, atau “Cuma hari ini diskonnya!” dapat menarik perhatian konsumen dan mendorong mereka segera membeli. Ketika promosi semacam ini muncul berulang kali, mahasiswa dapat terdorong membeli pakaian bukan hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena tergiur tren dan takut melewatkan penawaran.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Elmy Nurul Fikri dan Dedeh Fardiah (2025) tentang konten spill fashion TikTok pada mahasiswa Fikom Universitas Islam Bandung (Unisba). Penelitian tersebut menemukan bahwa visual yang menarik, ulasan positif, dan promosi kreatif dapat mendorong perilaku konsumtif serta pembelian impulsif di kalangan mahasiswa.
Perilaku Konsumtif yang Memicu Peningkatan Limbah Fashion
Dukungan promosi dan gempuran tren yang tak ada habisnya sering kali memicu kebiasaan belanja impulsif, padahal isi lemari masih sangat layak pakai. Sayangnya, begitu tren bergeser, pakaian yang tadinya terasa istimewa mendadak kehilangan daya tariknya hingga akhirnya hanya menumpuk atau langsung dibuang.
Fenomena ini sejalan dengan kajian Niinimäki dkk. (2020) dalam jurnal Nature Reviews Earth & Environment, yang menyoroti betapa besarnya tekanan industri fast fashion terhadap lingkungan mulai dari eksploitasi sumber daya hingga darurat limbah tekstil.
Artinya, persoalan fast fashion ini bukan sekadar urusan pabrik tekstil, melainkan juga soal bagaimana kita membeli, merawat, dan membuang pakaian. Mahasiswa sebenarnya punya peran besar untuk memutus rantai ini lewat langkah sederhana: beli seperlunya, rajin mix and match koleksi lama, dan memaksimalkan masa pakai baju yang ada.
Tentu tak ada salahnya mengikuti tren, tetapi keputusan belanja yang lebih sadar jauh lebih dibutuhkan agar tidak ada lagi pakaian yang berakhir jadi sampah sia-sia.
