Saatnya Gen Z Jadikan Pancasila Living Ideology di Era Globalisasi

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, Fakultas Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Almira Sanari Rubina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Derasnya arus globalisasi dan keterhubungan digital telah menempatkan Generasi Z pada persimpangan budaya. Sebagai digital native yang tumbuh bersama teknologi, Gen Z sangat mudah mengakses berbagai informasi dan tren global. Namun, kemudahan ini datang bersama risiko tingginya paparan budaya asing yang belum terfilter, hingga memicu kemerosotan moral, meningkatnya sikap individualistis, dan memudarnya rasa nasionalisme di kalangan anak muda.

Generasi Z menyusun sekitar 27,94% dari total populasi Indonesia, menjadikannya kelompok demografi paling dominan di platform media sosial seperti X (Twitter), TikTok, Instagram, dan YouTube. Media sosial kini bukan hanya sarana komunikasi jarak jauh, melainkan telah menjadi ruang publik digital (cyberspace) tempat gagasan didiskusikan dan opini publik dibentuk.
Di satu sisi, ruang publik digital memberikan peluang besar untuk menyebarkan nilai-nilai kebangsaan secara inklusif dan kreatif. Namun di sisi lain, fenomena kecanduan gawai, konten intoleransi, disinformasi, serta kebiasaan mengabaikan etika dan moral menunjukkan adanya degradasi pemahaman nilai-nilai Pancasila
Di tengah tantangan zaman ini, Pancasila tidak boleh lagi diperlakukan sekadar sebagai hafalan ujian atau artefak sejarah yang monoton. Pancasila harus ditransformasikan menjadi Living Ideology yang dinamis, terbuka, dan dihayati dalam keseharian. Membumikan Pancasila berarti menjadikannya pedoman berpikir dan bersikap agar Gen Z memiliki kompas moral yang kuat serta mampu memilah pengaruh positif dan negatif dari pergaulan global.
Pengamalan Pancasila sebagai Living Ideology dapat diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari maupun aktivitas digital.
Aksi nyata Generasi Z dalam menjadikan Pancasila sebagai living ideology dapat diwujudkan melalui pengintegrasian nilai-nilai luhur ke dalam kehidupan digital dan sosial sehari-hari, seperti mempromosikan toleransi beragama dan etika berinteraksi di media sosial (Sila 1), aktif mengampanyekan gerakan anti-perundungan (cyberbullying) serta penggalangan dana kemanusiaan digital (Sila 2), melestarikan budaya lokal lewat konten kreatif sekaligus meluruskan narasi pemecah belah atau hoax (Sila 3), membudayakan musyawarah dan saling menghargai perbedaan pendapat di forum daring (Sila 4), serta terlibat langsung dalam aksi peduli lingkungan dan pemberdayaan ekonomi UMKM lokal demi mewujudkan keadilan sosial (Sila 5).
Sila Ketuhanan dan Kemanusiaan tecermin dari sikap toleransi serta penolakan terhadap diskriminasi dan perundungan (bullying). Sementara itu, nilai persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial diwujudkan lewat kebanggaan melestarikan budaya bangsa, mengutamakan musyawarah untuk mufakat, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Agar relevan dengan karakter Gen Z yang kreatif, internalisasi Pancasila perlu bergeser dari metode konvensional ke arah yang lebih interaktif. Pemanfaatan media sosial untuk pembuatan konten kreatif yang mengusung nilai-nilai kebangsaan menjadi sarana efektif bagi Gen Z untuk berekspresi. Selain itu, keterlibatan aktif dalam organisasi serta hadirnya teladan nyata dari para pemangku kebijakan menjadi kunci agar Pancasila benar-benar hadir dan dirasakan manfaatnya.
Gen Z mempopulerkan kembali budaya tradisional dengan sentuhan modern, seperti maraknya tren berwastra (memakai kain batik/tenun untuk pakaian sehari-hari), mengombinasikan musik daerah dengan genre modern, hingga mempromosikan destinasi budaya lewat media sosial.
Kepedulian terhadap keadilan lingkungan (climate justice) diwujudkan secara konkret. Contohnya adalah gerakan Pandawara Group dan berbagai komunitas relawan muda lokal yang mengorganisasi aksi pembersihan sampah di sungai dan pesisir secara swadaya dengan melibatkan ribuan pemuda.
Pada akhirnya, masa depan dan keutuhan NKRI di dunia nyata maupun siber berada di tangan Generasi Z. Dengan memadukan wawasan global yang luas dan nilai-nilai Pancasila yang dihidupkan sebagai Living Ideology, Gen Z akan mampu tumbuh menjadi generasi penerus yang berkarakter unggul, inklusif, dan berakhlak mulia. Anak muda Indonesia pun siap bersaing secara internasional tanpa pernah kehilangan akar jati diri bangsanya.
