Konten dari Pengguna

Begadang Boleh, Asal Tahu Aturannya

M Farhan Putra Zanetti

M Farhan Putra Zanetti

Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Airlangga

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Farhan Putra Zanetti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Begadang sudah menjadi semacam ritual tak tertulis dalam kehidupan mahasiswa. Ada yang begadang karena tugas menumpuk, ada yang karena rapat organisasi tak kunjung usai, dan tak sedikit pula yang begadang hanya untuk menonton drama Korea episode terbaru. Fenomena ini begitu lumrah sampai-sampai jarang dipertanyakan: benarkah begadang seburuk yang digambarkan banyak penelitian?

pov mahasiswa yang sering menggunakan sistem sks
zoom-in-whitePerbesar
pov mahasiswa yang sering menggunakan sistem sks

Saya percaya jawabannya sudah sangat jelas. Begadang memang terbukti berkorelasi negatif dengan performa akademik mengganggu konsentrasi, daya ingat, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan fisik dan mental. Namun generalisasi bahwa “begadang selalu buruk” juga terlalu menyederhanakan

persoalan. Yang sebenarnya perlu digarisbawahi bukan begadangnya, melainkan “kapan” dan “bagaimana” ia melakukannya.

Begadang Boleh, Asal Tahu Waktunya

Ada momen-momen tertentu di mana begadang bisa dimaklumi, bahkan mungkin diperlukan misalnya menjelang deadline proyek besar yang sudah direncanakan jauh hari, atau ketika ada kesempatan berdiskusi mendalam dengan teman seangkatan yang kebetulan hanya bisa bertemu malam itu. Yang membuat begadang menjadi masalah bukanlah begadangnya, tetapi ketiadaan waktu pemulihan setelahnya.

Di sinilah letak kuncinya: begadang baru bisa dibenarkan jika keesokan harinya mahasiswa benar-benar memiliki ruang untuk memulihkan diri, seperti: tidak ada kelas pagi yang menuntut konsentrasi penuh, tidak ada ujian, tidak ada presentasi penting. Dengan kata lain, begadang sesekali dalam kondisi "hari bebas" jauh berbeda dampaknya dibandingkan begadang rutin di tengah jadwal kuliah yang padat. Tubuh manusia punya mekanisme pemulihan, tetapi mekanisme itu butuh kesempatan untuk bekerja. Begadang tanpa jeda pemulihan sama saja dengan menumpuk utang tidur yang cepat atau lambat akan ditagih dalam bentuk penurunan daya ingat, sulit fokus, bahkan gangguan suasana hati.

Sayangnya, banyak mahasiswa justru melakukan sebaliknya: begadang di malam sebelum ujian, lalu memaksakan diri tampil optimal keesokan harinya. Inilah pola yang benar-benar berbahaya, dan sayangnya, pola inilah yang paling sering terjadi lewat kebiasaan yang dikenal luas dengan sebutan "SKS".

SKS: Solusi Instan yang Menjebak

"SKS" atau Sistem Kebut Semalam mungkin terdengar wajar di kalangan mahasiswa, tetapi di baliknya tersimpan pola pikir yang keliru: bahwa belajar bisa dipadatkan dalam satu malam penuh kafein dan kepanikan, lalu semuanya akan baik-baik saja.

Kenyataannya tidak demikian. SKS memaksa otak bekerja dalam kondisi kurang tidur justru pada saat ia paling dibutuhkan untuk berpikir jernih yaitu saat ujian. Berbeda dengan begadang di "hari bebas" yang masih memberi ruang pemulihan, SKS terjadi tepat sebelum momen yang menuntut performa kognitif maksimal, tanpa jeda istirahat sama sekali. Kombinasi kurang tidur dan tekanan ujian ini justru menjadi resep sempurna untuk menurunkan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir.

Belum lagi dampak jangka panjangnya. Ketika SKS dilakukan berulang kali sepanjang masa kuliah, ia bukan lagi solusi darurat, melainkan berubah menjadi kebiasaan buruk yang mengikis kualitas belajar secara sistematis. Mahasiswa yang terbiasa SKS cenderung kehilangan kemampuan mengatur waktu jangka panjang, karena selalu mengandalkan "keajaiban semalam" untuk menyelesaikan apa yang seharusnya dicicil berminggu-minggu sebelumnya.

Membedakan Begadang yang Bijak dan Begadang yang Merusak

Dari sini, saya ingin menegaskan bahwa persoalan sebenarnya bukan pada aktivitas begadangnya, melainkan pada konteks dan manajemen waktunya. Begadang yang dilakukan sesekali, direncanakan, dan diikuti waktu pemulihan yang cukup, masih tergolong wajar dan manusiawi. Sebaliknya, begadang yang dipaksakan tepat sebelum momen krusial seperti ujian yang termasuk salah satu dari budaya SKS.

Karena itu, alih-alih menuntut mahasiswa untuk sepenuhnya menghindari begadang, hal tersebut merupakan sebuah target yang tidak realistis mengingat dinamika kehidupan kampus akan lebih bijak jika yang digaungkan adalah kesadaran untuk mengatur “kapan” begadang itu boleh dilakukan, dan komitmen untuk meninggalkan SKS sebagai strategi belajar.

Penutup: Saatnya Ubah Kebiasaan, Bukan Sekadar Menyalahkan Diri

Mengubah kebiasaan begadang dan SKS memang tidak mudah, apalagi ketika keduanya sudah mendarah daging dalam budaya perkuliahan. Namun perubahan kecil bisa dimulai dari hal sederhana: mencicil tugas jauh-jauh hari, menjadwalkan waktu belajar secara konsisten, dan yang terpenting, mulai membedakan mana begadang yang masih bisa ditoleransi dan mana yang justru menjerumuskan diri sendiri ke dalam performa buruk.

Pada akhirnya, tidur bukan sekadar kebutuhan biologis yang bisa dikorbankan demi produktivitas. Justru sebaliknya, tidur yang cukup dan terjadwal dengan baik adalah fondasi dari produktivitas itu sendiri. Mahasiswa yang cerdas bukanlah mereka yang mampu bertahan tanpa tidur, melainkan mereka yang tahu kapan harus terjaga dan kapan harus beristirahat.

REFESENSI JURNAL

1. Nalendra, M. R. A., Rizki, L. M., Alkadafi, M. F., Zalle, M. A., Abhinaya, F. N., Syamsuddin, A. A., Zahwa, S. T., & Sabrina, M. N. (2025). Pengaruh kebiasaan begadang terhadap produktivitas akademik mahasiswa: Tinjauan pustaka. Jurnal Majemuk, 4(4), 927–935.

2. Madelu, R., Adam, M. W. S., Pakaya, A., Lapasatu, M., & Arsyandi, N. (2025). Dampak kurang tidur akibat begadang terhadap fungsi kognitif dan konsentrasi pada mahasiswa. Jurnal Pendidikan dan Sastra Inggris, 5(2), 93–101. https://doi.org/10.55606/jupensi.v5i2.5160

3. Syarifah, A. W. (2026). Begadang di kalangan mahasiswa: Penyebab, kebiasaan, dan solusinya. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/atriawindisyarifah7580/692c669bc925c466f572dfe2/begadang-di-kalangan-mahasiswa-penyebab-kebiasaan-dan-solusinya