Konten dari Pengguna

Guru Honorer Mengabdi, tetapi Cukupkah Gajinya untuk Hidup?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fathuramzy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi gambar seorang guru honorer terlihat tengah menghitung penghasilannya di dalam ruang kelas yang sederhana, dengan tumpukan tugas siswa di sampingnya.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gambar seorang guru honorer terlihat tengah menghitung penghasilannya di dalam ruang kelas yang sederhana, dengan tumpukan tugas siswa di sampingnya.

Setiap hari, guru datang ke sekolah untuk mengajar, memeriksa tugas, menyiapkan materi, dan membimbing siswa memahami pelajaran. Di balik tanggung jawab tersebut, ada kebutuhan hidup yang tetap harus dipenuhi: membeli bahan makanan, membayar tempat tinggal, memenuhi kebutuhan keluarga, hingga menyiapkan biaya transportasi. Bagi sebagian guru honorer, persoalannya bukan hanya bagaimana menjalankan tugas sebagai pendidik, melainkan juga bagaimana mencukupi kebutuhan hidup dari penghasilan yang diterima.

Di sinilah muncul persoalan yang patut mendapat perhatian. Pengabdian kepada dunia pendidikan sering kali mendapat penghargaan secara moral, tetapi penghargaan tersebut belum tentu sejalan dengan kondisi ekonomi yang dihadapi setiap guru. Padahal, menjalankan profesi sebagai pendidik dan memenuhi kebutuhan hidup bukanlah dua hal yang seharusnya dipertentangkan.

Penghasilan Guru Honorer dalam Angka

Persoalan kesejahteraan guru honorer bukan sekadar pembicaraan tanpa dasar. Survei kesejahteraan guru yang dilakukan Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) bersama GREAT Edunesia Dompet Dhuafa pada pekan pertama Mei 2024 memberikan gambaran mengenai kondisi penghasilan guru di Indonesia.

Survei daring tersebut melibatkan 403 responden guru dari 25 provinsi. Dari jumlah itu, terdapat 117 guru honorer atau kontrak. Hasil survei menunjukkan bahwa sekitar 74,3 persen responden dalam kelompok guru honorer atau kontrak memperoleh penghasilan di bawah Rp2 juta per bulan. Bahkan, 20,5 persen di antaranya menerima penghasilan kurang dari Rp500.000 per bulan. Data ini diberitakan oleh "IDEAS"pada Mei 2024.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa penghasilan rendah menjadi persoalan nyata bagi sebagian responden guru honorer. Meski demikian, hasil survei ini tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh guru honorer di Indonesia karena jumlah respondennya terbatas dan pengumpulan datanya dilakukan secara daring.

Lantas, apa artinya penghasilan tersebut ketika berhadapan dengan kebutuhan hidup sehari-hari? Uang yang diterima setiap bulan harus dibagi untuk berbagai keperluan, mulai dari makanan, transportasi, tempat tinggal, hingga kebutuhan kesehatan dan pendidikan anggota keluarga. Ketika penghasilan terbatas, memenuhi satu kebutuhan bisa berarti harus mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lainnya.

Biaya Hidup Tidak Bisa Menunggu

Kebutuhan hidup berjalan setiap hari, terlepas dari besar atau kecilnya penghasilan seseorang. Beras, telur, minyak goreng, ongkos perjalanan, dan tagihan rumah tangga tetap membutuhkan biaya. Bagi guru honorer yang memiliki tanggungan keluarga, penghasilan bulanan bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi.

Perubahan harga juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyediakan data inflasi dan indeks harga konsumen, termasuk untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Data tersebut dapat digunakan untuk menelusuri perubahan harga dari waktu ke waktu, meskipun dampaknya terhadap setiap rumah tangga tidak selalu sama. Data resminya dapat diakses melalui BPS.

Dalam situasi seperti ini, penghasilan yang terbatas dapat mempersempit pilihan ekonomi seseorang. Pengeluaran untuk kebutuhan dasar harus diprioritaskan, sedangkan kebutuhan lain, seperti mengikuti pelatihan, membeli buku, atau mengembangkan kompetensi profesional, mungkin perlu ditunda.

Namun, penting untuk tidak menyamaratakan keadaan semua guru honorer. Kondisi ekonomi mereka berbeda-beda, bergantung pada besarnya penghasilan, jumlah tanggungan, tempat tinggal, dan sumber pendapatan lain. Persoalan yang perlu diperhatikan adalah apakah penghasilan yang diterima cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar secara layak.

Pengabdian Bukan Alasan untuk Mengabaikan Kesejahteraan

Guru kerap disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan tersebut menggambarkan penghargaan terhadap peran guru dalam mendidik generasi penerus. Akan tetapi, ungkapan yang bermakna positif ini dapat menjadi persoalan ketika pengabdian seolah-olah menuntut guru untuk selalu menerima keadaan tanpa mempertimbangkan kebutuhan hidupnya sendiri.

Mengajar memang membutuhkan komitmen, kesabaran, dan kepedulian. Namun, profesionalisme tidak berarti seseorang harus mengabaikan kebutuhan ekonominya. Guru tetap memiliki kebutuhan yang sama dengan pekerja lainnya, termasuk kebutuhan akan penghasilan yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari.

Dari sudut pandang sosiologi pendidikan, persoalan ini berkaitan dengan kedudukan sosial dan penghargaan terhadap profesi guru. Masyarakat mengharapkan guru menjalankan peran penting dalam membentuk pengetahuan, karakter, dan kemampuan siswa. Di sisi lain, kondisi ekonomi guru dapat memengaruhi kesempatan mereka untuk memenuhi kebutuhan pribadi maupun mengembangkan kemampuan profesional.

Hal tersebut bukan berarti penghasilan rendah secara otomatis membuat kualitas mengajar menurun. Kualitas pendidikan dipengaruhi banyak faktor, seperti kompetensi guru, lingkungan sekolah, fasilitas belajar, dukungan keluarga, dan kondisi siswa. Meski begitu, kesejahteraan guru tetap layak diperhatikan sebagai salah satu bagian dari lingkungan yang mendukung proses pendidikan.

Karena itu, narasi pengabdian perlu ditempatkan secara proporsional. Menghargai guru tidak cukup hanya melalui ucapan terima kasih atau peringatan Hari Guru. Penghargaan juga perlu tercermin dalam kondisi kerja dan penghasilan yang memungkinkan mereka menjalankan profesinya tanpa terus-menerus dibayangi persoalan ekonomi.

Menempatkan Kesejahteraan Guru sebagai Bagian dari Pendidikan

Membicarakan kesejahteraan guru honorer tidak harus berhenti pada kritik. Langkah pertama adalah memperkuat keterbukaan informasi mengenai penghasilan, beban kerja, dan kondisi ekonomi guru dari berbagai wilayah. Data yang lebih luas dan diperbarui secara berkala akan membantu masyarakat memahami persoalan ini secara lebih utuh, tanpa hanya mengandalkan pengalaman individual atau cerita yang viral di media sosial.

Sekolah dan penyelenggara pendidikan juga perlu memberi perhatian terhadap kejelasan kesepakatan kerja, ketepatan pembayaran honor, serta kesesuaian tanggung jawab dengan kompensasi yang diberikan. Pembahasan mengenai standar penghasilan yang layak perlu mempertimbangkan kondisi daerah, beban kerja, dan kebutuhan hidup, dengan dasar perhitungan yang transparan.

Selain itu, masyarakat dapat mengambil peran dengan mendengarkan pengalaman guru secara langsung, menyebarkan informasi yang terverifikasi, dan mendukung pembicaraan publik yang berlandaskan data. Pengalaman seorang guru dapat menjadi gambaran penting, tetapi perlu disandingkan dengan bukti lain sebelum ditarik menjadi kesimpulan yang lebih luas.

Pada akhirnya, pendidikan yang baik tidak hanya berbicara tentang apa yang diterima siswa di ruang kelas, tetapi juga tentang bagaimana orang-orang yang mendidik mereka menjalani kehidupan. Guru honorer bukan sekadar sosok yang dituntut untuk terus mengabdi, melainkan manusia yang memiliki kebutuhan, keluarga, dan masa depan.