Limiting Beliefs: Menembus Batas Diri

Pegiat literasi Rumah Baca Komunitas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari M Hengki Pradani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ini adalah kisah tentang seekor burung kecil dan mimpi yang lama terkubur.

Di sebuah hutan yang jauh dari riuh manusia, saat sinar mentari menembus celah dedaunan, menyingkirkan kabut tipis yang menggantung di udara. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang baru saja disapu kabut. Suasana hutan terasa damai, seolah semua makhluk sedang menunggu sesuatu yang baru dimulai.
Di antara rimbun pepohonan itu, hiduplah seekor burung pipit bernama Piko. Tubuhnya mungil, bulunya cokelat kusam, suaranya lirih nyaris tak terdengar. Sehari-hari Piko hanya terbang rendah, melompat dari satu ranting ke ranting lain. Ia jarang mengangkat kepala menatap langit biru, seolah takut pada ketinggian yang menantang.
Burung-burung lain sering mencibir, “Piko itu burung aneh. Sayapnya ada, tapi tak pernah ia gunakan untuk terbang jauh.”
Namun, Piko tidak pernah marah. Ia percaya memang sudah takdirnya begitu. Sejak kecil, ibunya sering berkata,
“Kita burung kecil, Nak. Kita hanya bisa terbang rendah. Jangan bermimpi terbang tinggi. Di atas sana hanya ada bahaya.”
Kata-kata itu menancap di benak Piko. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya lemah, bahwa terbang tinggi hanyalah milik burung-burung besar seperti Elang atau Gagak. Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, ia kadang bertanya lirih pada dirinya sendiri,
“Bagaimana rasanya terbang tinggi? Bagaimana rasanya melihat dunia dari atas sana?”
Badai yang Mengubah Segalanya
Hari itu, langit tiba-tiba menghitam. Badai besar datang mengguncang hutan. Angin menerbangkan dedaunan, hujan mengguyur tanpa henti. Sarang Piko yang rapuh diterjang angin hingga hancur berantakan. Tubuh kecilnya terhempas dan terbawa arus sungai, terseret hingga akhirnya terdampar di sebuah tebing tinggi di ujung hutan.
Di sanalah, di antara kabut tipis tebing, Piko melihat seekor burung besar. Bulunya berwarna cokelat tua, paruhnya kokoh, sayapnya lebar namun satu sayap tampak rusak, seperti pernah patah. Burung itu adalah Elgo, Elang tua yang dahulu dikenal sebagai penjaga langit hutan.
“Kenapa kau ada di sini, Pipit kecil?” tanya Elgo dengan suara berat.
“Aku terseret badai,” jawab Piko gemetar.
Elgo menatapnya lama, lalu tersenyum samar. “Lalu kenapa kau tidak terbang pulang?”
“Aku tidak bisa. Aku terlalu kecil. Sayapku lemah. Aku tidak dilahirkan untuk terbang tinggi.” jawab Piko.
Elgo tertawa pelan, suaranya menggema di tebing.
“Siapa yang bilang kau tidak bisa?”
“Nyaris semua teman-teman disekelilingku, bahkan diriku sendiri,” jawab Piko lirih.
Elang tua itu mendekat, menatapnya dengan mata yang seolah mampu menembus jiwanya.
“Dengar, Piko. Terbang bukan soal kuat atau tidaknya sayap. Terbang adalah keberanian untuk melompat meski kau belum tahu apakah bisa mengepakkan sayap dengan benar.”
Belajar Terbang
Malam itu, di bawah langit berbintang, Elgo mengajarkan Piko cara merasakan angin. Ia mengajari Piko mengepakkan sayap perlahan, bukan untuk langsung terbang tinggi, tetapi untuk memahami kekuatan tubuhnya sendiri.
“Rasakan,” kata Elgo, “Angin itu temanmu, bukan musuhmu. Dengarkan napasnya. Biarkan ia mengangkatmu, bahkan saat kau merasa tidak mampu.”
Piko mengepakkan sayapnya perlahan, gugup.
“Kau tak harus menjadi elang,” kata Elgo, “cukup terbang lebih tinggi dari ketakutanmu sendiri.”
Keesokan paginya, Piko berdiri di tepi tebing. Di bawah sana, hutan membentang seperti samudra hijau. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tercekat.
Suara Elgo terngiang di telinganya,
“Terbang itu bukan hanya soal sayap, tapi soal keberanian untuk melompat.”
Piko menarik napas dalam-dalam. Dengan gemetar, Piko mengepakkan sayap kecilnya dan melompat. Angin menerpa tubuhnya, membuatnya hampir jatuh. Namun perlahan, sayap mungil itu menemukan iramanya. Sedikit demi sedikit, ia melayang, merasakan udara yang selama ini hanya ia pandang dari bawah.
Piko terbang. Tidak setinggi elang, tidak secepat Gagak. Tapi cukup untuk melihat dunia dari sudut pandang baru.
Ketika ia mendarat di cabang pohon yang tinggi, matanya berkaca-kaca. Ia tahu, ia bukan lagi burung pipit yang sama.
Di kejauhan, Elgo tersenyum bangga dan berbisik pada angin,
“Selamat datang, Pipit kecil. Kau telah menembus batas dirimu.”
