Konten dari Pengguna

Anak SMK Tidak Cukup Bisa Posting, Harus Mampu Berpikir sebagai Digital Marketer

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Credit Foto : Dokumentasi Pribadi Ahmad Madani bersama siswa siswi SMK Dharma Karya
zoom-in-whitePerbesar
Credit Foto : Dokumentasi Pribadi Ahmad Madani bersama siswa siswi SMK Dharma Karya

Apa yang terlintas ketika mendengar istilah digital marketing? Sebagian orang mungkin langsung membayangkan media sosial, konten video, iklan Instagram, atau penjualan melalui marketplace. Gambaran tersebut tidak salah, tetapi belum menjelaskan keseluruhan keterampilan yang dibutuhkan seorang digital marketer.

Digital marketing bukan hanya tentang kemampuan menggunakan aplikasi. Di balik konten yang menarik, terdapat proses memahami konsumen, menentukan target pasar, menyusun pesan, memilih media komunikasi, dan mengevaluasi hasil pemasaran. Tanpa memahami proses tersebut, seseorang mungkin mampu membuat banyak konten, tetapi belum tentu mengetahui tujuan dan manfaatnya bagi bisnis.

Pemahaman inilah yang menjadi dasar pelatihan digital marketing bertema "Ide Kreatif, Konten Aktif, Bisnis Produktif!" bagi 46 siswa kelas XI SMK Dharma Karya Melawai, Jakarta Selatan, pada 28–30 Oktober 2026. Kegiatan menghadirkan Ahmad Madani sebagai narasumber dan penguji dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek.

Memulai dengan Cara Berpikir Bisnis

Pelatihan dimulai dengan mengajak siswa mengamati masalah dan kebutuhan konsumen. Mereka kemudian mengembangkan ide bisnis serta menyusun Business Model Canvas agar dapat memahami hubungan antara produk, target pelanggan, nilai unik, kegiatan operasional, biaya, dan sumber pendapatan.

Tahapan ini penting karena banyak pemula terlalu cepat berpikir mengenai promosi sebelum memastikan produk yang ditawarkan memiliki manfaat yang relevan. Padahal, strategi pemasaran akan lebih mudah disusun ketika seseorang memahami siapa calon konsumennya dan mengapa mereka membutuhkan produk tersebut.

Belajar Membuat Konten yang Mempunyai Tujuan

Setelah memahami ide bisnis, siswa mempelajari social media marketing, SEO, content marketing, storytelling, dan public speaking. Pembelajaran diarahkan pada kemampuan mengemas manfaat produk menjadi pesan yang mudah dipahami, kemudian mengomunikasikannya melalui konten digital.

Kemampuan berbicara di depan kamera menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Siswa diajak memahami bahwa digital marketer tidak cukup hanya bisa menggunakan aplikasi penyuntingan video. Mereka juga perlu mempunyai keberanian menjelaskan gagasan dan keterampilan menyampaikan pesan secara terstruktur.

Portofolio dan Jejak Profesional

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah penggunaan LinkedIn sebagai media portofolio. Bagi siswa yang memenuhi persyaratan platform, LinkedIn dapat menjadi sarana mendokumentasikan proyek, pengalaman belajar, dan kontribusi individual. Siswa lainnya tetap dapat menggunakan portofolio privat sebagai bukti keterampilan.

Pengenalan portofolio ini bertujuan menumbuhkan pemahaman bahwa reputasi profesional sebaiknya dibangun melalui karya, bukan sekadar klaim kemampuan. Pengalaman menyusun BMC, membuat strategi pemasaran, dan menghasilkan konten merupakan contoh kegiatan yang dapat dijelaskan secara jujur dalam portofolio pembelajaran.

Mengukur Hasil, Bukan Hanya Popularitas

Pada tahap akhir, siswa juga mempelajari digital marketing analytics dan mengikuti pengujian melalui presentasi serta praktik komunikasi individual. Analisis data diperkenalkan agar siswa memahami bahwa banyaknya penayangan atau likes tidak selalu sejalan dengan keberhasilan penjualan.

Dalam dunia pemasaran, kreativitas perlu berjalan bersama kemampuan membaca data. Konten harus dinilai berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, bukan semata-mata seberapa ramai respons yang diperoleh.

Pembelajaran digital marketing bagi siswa SMK seharusnya tidak berhenti pada pengenalan teknologi. Tujuan yang lebih penting adalah membantu mereka memahami cara menciptakan nilai, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tersedia.

Ketika siswa mampu menjelaskan ide bisnis, membuat konten dengan tujuan yang jelas, serta mempertanggungjawabkan strategi pemasarannya, mereka sedang membangun fondasi kemampuan digital marketing yang sesungguhnya.