Konten dari Pengguna

ISEF 2026 dan Pelajaran Penting tentang Ekonomi yang Dibangun Bersama

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maflindo Butar Butar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 resmi ditutup, perhatian publik mungkin tertuju pada satu hal: besarnya angka yang tercipta selama penyelenggaraan. Lebih dari 93 ribu pengunjung hadir, transaksi retail mencapai Rp13,8 miliar, dan kesepakatan bisnis menembus Rp3,2 triliun.

Angka-angka tersebut memang mengesankan. Namun, menurut saya, ada cerita yang jauh lebih menarik daripada sekadar statistik.

ISEF tahun ini memperlihatkan bahwa ekonomi syariah Indonesia mulai memasuki fase baru. Jika sebelumnya isu ekonomi syariah lebih sering dibicarakan sebagai potensi, kini kita mulai melihat wujud konkretnya di lapangan.

ilustrasi oleh Maflindo Butar Butar. Sumber: Buatan AI.

Selama bertahun-tahun, kita kerap mendengar bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Jumlah penduduk muslim terbesar, pasar domestik yang luas, ribuan pesantren, dan pertumbuhan ekonomi digital yang cepat sering disebut sebagai keunggulan utama.

Sayangnya, potensi tidak selalu otomatis berubah menjadi kekuatan ekonomi.

Banyak pelaku UMKM halal masih kesulitan mendapatkan akses pembiayaan. Tidak sedikit yang belum memperoleh sertifikasi halal. Sebagian lainnya memiliki produk yang baik, tetapi belum mampu menembus pasar yang lebih luas. Akibatnya, potensi besar tersebut sering kali berhenti menjadi bahan presentasi dan laporan tahunan.

Karena itu, saya melihat ISEF 2026 membawa pesan yang penting: ekonomi syariah tidak bisa bertumpu pada satu sektor saja.

Ekonomi syariah bukan hanya tentang perbankan syariah. Ia juga berbicara mengenai industri halal, fesyen muslim, pariwisata ramah muslim, kewirausahaan generasi muda, pemberdayaan perempuan, hingga transformasi digital. Semua bagian itu saling terhubung dalam satu ekosistem yang sama.

Inilah yang membuat tema ISEF tahun ini terasa relevan. Di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin digital, ekonomi syariah tidak cukup hanya hadir melalui kantor cabang atau forum diskusi. Ia harus hadir di ruang tempat masyarakat beraktivitas setiap hari: marketplace, aplikasi pembayaran, platform investasi, dan ekosistem digital lainnya.

Generasi muda menjadi kunci dalam proses tersebut.

Anak muda saat ini tidak melihat batas tegas antara ekonomi konvensional dan ekonomi syariah. Mereka lebih tertarik pada layanan yang mudah diakses, cepat, aman, dan memberikan manfaat. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai syariah dapat dikemas dalam inovasi yang menjawab kebutuhan generasi tersebut.

Di sinilah transformasi digital menjadi sangat penting.

Digitalisasi bukan sekadar memindahkan layanan ke aplikasi. Digitalisasi memungkinkan pelaku usaha kecil memperluas pasar, mempermudah akses pembiayaan, sekaligus memperkuat inklusi keuangan. Jika dilakukan dengan tepat, teknologi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan potensi ekonomi syariah dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Pesan lain yang saya tangkap dari ISEF 2026 adalah pentingnya kolaborasi.

Tidak ada institusi yang dapat membangun ekonomi syariah sendirian. Bank Indonesia, pemerintah, OJK, industri keuangan, akademisi, pesantren, pelaku usaha, hingga komunitas memiliki peran masing-masing. Ketika seluruh pihak bergerak dalam arah yang sama, dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan bekerja sendiri-sendiri.

Karena itu, penutupan ISEF seharusnya tidak dipandang sebagai berakhirnya sebuah festival. Justru sebaliknya. Ini adalah pengingat bahwa pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai.

Nilai Rp3,2 triliun dalam kesepakatan bisnis memang penting. Namun yang lebih penting adalah memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan pelaku usaha, membuka lapangan kerja baru, dan memperkuat perekonomian masyarakat di berbagai daerah.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukanlah seberapa sering kita membicarakannya, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dan jika ada satu pelajaran yang bisa diambil dari ISEF 2026, pelajaran itu sederhana: ekonomi yang kuat bukan dibangun oleh satu pihak yang bekerja paling keras, melainkan oleh banyak pihak yang bergerak bersama ke arah yang sama.