Siapa yang Didengar Anak Hari Ini: Orang Tua atau Influencer

mahasiswa UIN Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Maisharoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era digital, anak-anak dan remaja hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu orang tua, guru, dan tokoh masyarakat menjadi sumber utama pengetahuan serta panutan dalam kehidupan sehari-hari, kini peran tersebut mulai berbagi ruang dengan para influencer di media sosial. Melalui layar ponsel, anak-anak dapat menghabiskan waktu berjam-jam mengikuti konten kreator favorit mereka, mendengarkan pendapat mereka, bahkan meniru gaya hidup yang ditampilkan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan yang layak direnungkan bersama: siapa yang sebenarnya lebih didengar oleh anak hari ini, orang tua atau influencer?
Ketika Influencer Menjadi Panutan Baru
Tidak dapat dimungkiri bahwa media sosial telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Berbagai platform digital memungkinkan seseorang memperoleh informasi, hiburan, dan inspirasi hanya dengan beberapa sentuhan jari. Dalam kondisi tersebut, influencer hadir sebagai figur yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Banyak anak merasa lebih mudah memahami pesan yang disampaikan oleh influencer karena menggunakan bahasa yang sederhana, visual yang menarik, dan pendekatan yang sesuai dengan tren. Akibatnya, tidak sedikit anak yang lebih mengenal nama konten kreator favorit mereka daripada tokoh-tokoh yang berjasa dalam sejarah atau bahkan figur yang berada di lingkungan terdekat mereka.
Masalahnya bukan terletak pada keberadaan influencer itu sendiri. Banyak influencer yang menyebarkan edukasi, motivasi, bahkan nilai-nilai keagamaan yang positif. Persoalan muncul ketika anak menjadikan semua informasi yang diterima dari media sosial sebagai kebenaran tanpa proses penyaringan yang memadai.
Berkurangnya Ruang Dialog dalam Keluarga
Di sisi lain, kehidupan modern menghadirkan tantangan tersendiri bagi keluarga. Kesibukan pekerjaan, aktivitas sekolah, dan rutinitas harian sering kali membuat waktu berkumpul menjadi semakin terbatas. Tidak sedikit orang tua yang merasa telah memenuhi kewajibannya dengan menyediakan kebutuhan materi, tetapi tanpa sadar kehilangan kesempatan untuk membangun komunikasi yang hangat dengan anak.
Akibatnya, anak mencari ruang lain untuk memperoleh perhatian, hiburan, dan jawaban atas berbagai pertanyaan yang mereka miliki. Dunia digital kemudian menjadi pilihan yang paling mudah diakses.
Padahal, hubungan yang kuat antara orang tua dan anak tidak dibangun melalui kehadiran fisik semata. Anak membutuhkan percakapan, pendampingan, serta teladan yang dapat mereka lihat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ruang tersebut semakin sempit, pengaruh pihak luar akan semakin besar dalam membentuk cara pandang anak terhadap kehidupan.
Perspektif Islam tentang Pendidikan Anak
Dalam Islam, orang tua memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap pendidikan anak. Keluarga dipandang sebagai madrasah pertama yang menjadi tempat anak belajar tentang akidah, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan. Karena itu, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.
Rasulullah saw. memberikan teladan bahwa pendidikan terbaik lahir dari kasih sayang, komunikasi, dan keteladanan. Anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tua, tetapi juga memperhatikan apa yang dilakukan oleh mereka setiap hari.
Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, prinsip tersebut tetap relevan. Orang tua tidak mungkin sepenuhnya menjauhkan anak dari media sosial. Namun, orang tua dapat menjadi pendamping yang membantu anak memahami mana informasi yang bermanfaat dan mana yang perlu dihindari.
Menjadi Pengaruh Terbesar bagi Anak
Realitas digital memang tidak dapat dihindari. Influencer akan terus hadir dan menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Karena itu, yang perlu dilakukan bukan memusuhi teknologi, melainkan memperkuat peran keluarga di tengah perubahan zaman.
Orang tua perlu membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak melalui komunikasi yang terbuka dan penuh empati. Anak yang merasa didengar akan lebih mudah menerima nasihat daripada anak yang hanya menerima perintah. Selain itu, pendidikan agama dan akhlak perlu ditanamkan sejak dini agar anak memiliki pegangan dalam menghadapi berbagai pengaruh yang datang dari dunia digital.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang siapa yang lebih didengar oleh anak hari ini sebenarnya bergantung pada seberapa besar kehadiran orang tua dalam kehidupan mereka. Jika keluarga mampu menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan ruang dialog yang sehat, maka pengaruh positif dari orang tua akan tetap menjadi fondasi utama bagi tumbuh kembang anak. Sebaliknya, ketika ruang itu kosong, dunia digital akan dengan mudah mengisinya.
Di era ketika setiap orang dapat menjadi influencer, tantangan terbesar bagi keluarga bukanlah melawan teknologi, melainkan memastikan bahwa anak tetap memiliki panutan yang tepat. Dan panutan pertama itu seharusnya selalu dimulai dari rumah.
