Konten dari Pengguna

Crash di Tikungan Terakhir

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah menonton MotoGP, ketika seorang pembalap jatuh sesaat sebelum finish? Ada pula pembalap melaju mulus tanpa highside crash tepat setelah garis akhir ia merayakan kemenangan, tapi ternyata masih ada satu putaran lagi. Adegan yang konyol bukan?

Nah, membayangkan kalau kita menjadi pembalapnya, ada cara cepat untuk menghibur diri. Ada pepatah Arab populer yang sering menjadi semacam sistem pertahanan diri. Seperti iron dome, banyak orang merasa aman berlindung di dalamnya. Al-insānu mahallul khatha’i wan-nisyān. Manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Dalam bahasa Jawa, konon, menungsa adalah kependekan dari menus-menus panggonane dosa. Manusia adalah makhluk tempatnya dosa. Terlepas benar secara bahasa atau sekadar permainan kata, ada kerendahan hati yang menarik di sana. Kita menyediakan ruang untuk memaklumi kesalahan orang lain. Pada saat yang sama, kita juga menyediakan sedikit ruang untuk memaafkan diri sendiri ketika gagal.

Masalahnya, kalimat “manusia tempatnya salah dan lupa” kadang terlalu nyaman digunakan sebagai bantal. Ketika lupa dan salah, ya sudah. Namanya juga manusia. Padahal dalam pekerjaan, kesalahan kecil kadang datang bukan di awal. Justru ketika pekerjaan sudah hampir selesai.

Ibarat balapan MotoGP, kita sudah memimpin sejak awal. Tikungan demi tikungan berhasil dilewati. Tinggal sedikit lagi menuju garis finish. Penonton sudah bersiap melihat kemenangan. Lalu, crash. Jatuh di tikungan terakhir.

Ilustrasi Crash di Tikungan Terakhir dibuat dengan AI

Kegagalan seperti ini terasa lebih menyakitkan. Bukan karena kita tidak mampu menyelesaikan pekerjaan, tetapi karena kita gagal ketika sebenarnya tinggal selangkah lagi. Barangkali sebabnya kita terlalu percaya diri, konsentrasi menurun atau mungkin otak sudah menganggap pekerjaan selesai sebelum pekerjaan itu benar-benar selesai.

Dalam buku Nudge, Richard H. Thaler dan Cass R. Sunstein menyebut apa yang disebut post-completion error. Sederhananya, manusia memiliki kecenderungan melakukan kesalahan setelah tugas utama selesai.

Kita mengambil uang di ATM, tetapi lupa mengambil kartunya. Selesai menggunakan mesin fotokopi, dokumen asli tertinggal. Pekerjaan utama sudah beres, tetapi satu langkah kecil yang seharusnya dilakukan justru terlupakan.

Ini bukan sesuatu yang aneh. Kesalahan semacam itu bahkan dapat diprediksi. Maka muncullah reminder. ATM mengingatkan kita mengambil kartu. Mobil memberi tanda ketika pintu belum tertutup atau sabuk pengaman belum terpasang. Panel kendaraan dipenuhi berbagai simbol kecil yang mengingatkan banyak hal sebelum kaki kita menginjak pedal gas.

Menariknya, kita tidak merasa dihina oleh semua pengingat itu. Sistem tidak sedang menuduh kita bodoh. Sistem memahami satu kelemahan manusia: kita mudah lupa. Barangkali kehidupan juga membutuhkan lebih banyak reminder.

Memori manusia terbatas. Kita tidak mungkin menyimpan semua hal dalam kepala. Itulah sebabnya kita membuat catatan, kalender, alarm, daftar pekerjaan, rambu-rambu, prosedur, bahkan aturan. Semakin banyak yang harus dilakukan, semakin banyak pula yang perlu diingatkan.

Dalam kehidupan beragama pun demikian. Ada banyak do’s and don’ts. Tampaknya boleh kalau kita artikan bahwa bukan karena manusia tidak pernah tahu, tetapi karena manusia mudah lupa.

Kita tahu berbohong itu tidak baik, tetapi tetap perlu diingatkan. Kita tahu harus bersyukur, tetapi tetap perlu diingatkan. Kita tahu hidup ini sementara, tetapi tetap perlu diingatkan. Mungkin karena itu pula salat hadir berulang kali dalam sehari. Manusia tidak cukup diberi tahu sekali. Kita perlu diingatkan lagi. Lagi dan lagi.

Jadi, salat menjadi semacam reminder yang memanggil kita kembali kepada Allah di tengah kesibukan. Ketika perhatian kita terseret oleh pekerjaan, uang, keluarga, ambisi, dan berbagai kebisingan dunia, ada waktu-waktu tertentu ketika kita diminta berhenti sejenak. Mengingat lagi bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kesibukan hari ini.

Barangkali karena manusia memang mudah lupa. Di sinilah istiqamah menjadi penting. Istiqamah bukan perkara melakukan sesuatu sekali lalu selesai. Ia tentang melakukan sesuatu berkali-kali, bahkan ketika tidak ada yang bertepuk tangan. Sedikit, tetapi terus. Tidak selalu cepat, tetapi tidak berhenti.

Kita sering membayangkan keberhasilan seperti balapan: siapa yang paling cepat sampai, dialah pemenangnya. Padahal hidup tidak sesederhana itu. Kita tidak sedang mengikuti MotoGP. Tidak ada gunanya menjadi yang paling cepat jika kemudian kehilangan kendali di tikungan terakhir.

Di zaman yang serba cepat, kita memang membutuhkan kecepatan. Internet harus cepat. Pelayanan harus cepat. Pekerjaan harus cepat. Tetapi hidup tidak selalu membutuhkan kita untuk terus menekan gas.

Kadang kita perlu mengurangi kecepatan agar tetap berada di jalur. Bergerak, tetapi tidak kehilangan arah. Menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak lupa memeriksa bagian kecil yang mungkin tertinggal.

Sebab pekerjaan belum tentu benar-benar selesai hanya karena tugas utamanya sudah beres. Dan perjalanan belum tentu aman hanya karena kita sudah dekat dengan tujuan. Barangkali itulah mengapa manusia membutuhkan sistem, pengingat, kebiasaan, dan istiqamah. Bukan karena kita lemah. Tetapi karena kita manusia. Kita bisa lupa. Kita bisa lengah. Kita bisa terpeleset. Bahkan bisa jatuh ketika tinggal sedikit lagi sampai.

Namun jatuh bukan berarti perjalanan selesai. Selama masih diberi waktu, kita bisa bangkit. Memeriksa kembali apa yang salah. Mengambil napas. Memperbaiki langkah. Kemudian berjalan lagi. Sebab pada akhirnya, yang kita harapkan bukan sekadar cepat sampai. Kita berharap sampai dengan selamat.

Semoga kita tidak hanya pandai memulai dengan baik, tetapi juga diberi kekuatan untuk melewati tikungan terakhir dengan baik.

Itulah barangkali makna sederhana dari husnul khatimah: akhir yang baik. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah tikungan yang sedang kita lewati ini masih menyisakan banyak jalan atau justru merupakan tikungan terakhir.

Maka jangan terlalu cepat merasa sudah selesai. Periksa lagi. Ingat lagi. Berhenti sejenak jika perlu. Lalu lanjutkan perjalanan. Sebab kadang-kadang yang membuat kita gagal bukan karena tidak mampu mencapai garis finish, melainkan karena terlalu cepat merasa sudah menang sebelum benar-benar melewatinya.