Indonesia: Apakah Kita Benar-Benar Aman dalam Lensa Hubungan Internasional?

Seorang Mahasiswa UIN Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari malika putri azkia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam diskursus global, Indonesia sering kali diposisikan sebagai jangkar stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Peran aktif dalam diplomasi regional ASEAN, kontribusi dalam forum multilateral, hingga pertumbuhan ekonomi yang terjaga kerap melahirkan citra bahwa negeri ini berada dalam posisi yang aman dan terkendali. Namun, jika ditarik ke dalam diskursus Hubungan Internasional (HI) modern, konsep "keamanan" tidak lagi sekadar merujuk pada ketiadaan perang terbuka atau invasi militer antarnegara.
Pakar HI klasik, Arnold Wolfers, pernah membedah bahwa keamanan memiliki dua dimensi penting: objective security (ketiadaan ancaman faktual terhadap kelangsungan hidup negara) dan subjective security (ketiadaan rasa takut bahwa nilai-nilai yang dianut masyarakat akan terancam). Pertanyaannya kemudian, apakah Indonesia benar-benar dapat dikategorikan sebagai negara yang aman jika diukur dari kacamata kedua dimensi tersebut, terutama ketika dihadapkan pada realitas domestik seperti kesehatan, lingkungan, dan spektrum ancaman non-militer?
Membedah Keamanan Objektif dan Subjektif Indonesia
Secara teoretis, objective security Indonesia dari ancaman militer konvensional terbilang cukup terjaga. Posisi geografis yang strategis serta landasan politik luar negeri bebas-aktif membuat potensi ancaman agresi militer dari negara lain berada pada tingkat yang rendah.
Kendati demikian, lanskap berubah ketika dimensi keamanan digeser ke ranah domestik. Di sinilah subjective security atau rasa aman masyarakat diuji secara nyata. Sering kali, secara peran di panggung internasional, Indonesia tampak kokoh dan disegani. Akan tetapi, di dalam negeri, berbagai kerentanan struktural masih menjadi pekerjaan rumah yang mendesak. Rasa aman warga negara tidak hanya ditentukan oleh kuatnya pertahanan perbatasan, melainkan juga oleh jaminan keselamatan mereka terhadap ancaman sehari-hari yang bersifat multidimensional.
Ujian Nyata: Kesehatan, Lingkungan, dan 5 Ancaman Non-Militer
Jika merujuk pada spektrum lima ancaman non-militer yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan kerentanan negara modern kerap kali berakar dari sektor yang lebih senyap, seperti kesehatan dan lingkungan.
Pertama, dari segi kesehatan masyarakat dan makhluk hidup, rasa aman warga kerap diuji oleh disparitas akses layanan kesehatan dasar, kesiapan infrastruktur medis di berbagai daerah, hingga mitigasi risiko krisis kesehatan. Ketika layanan kesehatan belum sepenuhnya merata dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, konsep keamanan manusia (human security) mengalami deviasi. Warga, dan secara lebih luas makhluk hidup yang bergantung pada ekosistem sekitar, berada dalam posisi yang rentan terhadap ancaman biologis dan lingkungan.
Kedua, dari sudut pandang lingkungan, krisis ekologis seperti pencemaran udara perkotaan, alih fungsi lahan, hingga kerentanan terhadap dampak perubahan iklim menyumbang risiko eksistensial. Kerusakan lingkungan bukan lagi sekadar isu pelestarian alam semata, melainkan sudah bergeser menjadi ancaman langsung terhadap keselamatan dan keberlangsungan hidup manusia (survival). Ketika masyarakat dihadapkan pada ketidakpastian ekologis dan tekanan hidup yang beririsan dengan kesehatan, subjective security publik secara otomatis menurun.
Menyelaraskan Peran Global dan Realitas Domestik
Fenomena ini menunjukkan bahwa ukuran ketahanan nasional tidak boleh hanya dilihat secara makro dari kacamata pertahanan teritorial semata. Ada urgensi yang sama besarnya untuk memperkuat ketahanan dari bawah (bottom-up), yakni melalui perlindungan terhadap manusia itu sendiri.
Indonesia tentu memiliki modal diplomasi yang kuat untuk terus berkontribusi di kancah global. Namun, agar legitimasi keamanan itu utuh, penguatan di sektor domestik khususnya pembenahan kualitas lingkungan, ketahanan sistem kesehatan, dan mitigasi ancaman non-militer harus berjalan beriringan dengan ambisi luar negeri.
Pada akhirnya, predikat negara yang "aman" bukan hanya tentang nihilnya konflik bersenjata dengan pihak luar. Lebih dari itu, keamanan sejati baru akan tercapai tatkala setiap warga negara di dalam negeri merasakan kehadiran negara dalam melindungi kesehatan, keselamatan lingkungan, dan kepastian hidup mereka sehari-hari.
