Konten dari Pengguna

Tekan Hama PBKo di Gunung Puntang: IPB University Gandeng Petani Terapkan PHT

Marich Nur Maqsalina

Marich Nur Maqsalina

Student at IPB University

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Marich Nur Maqsalina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

GUNUNG PUNTANG, KABUPATEN BANDUNG — IPB University terus memperkuat komitmennya dalam menghilirisasi ilmu pengetahuan dan teknologi langsung ke tengah masyarakat. Melalui program Dosen Pulang Kampung yang digagas Lembaga Pengembangan Agribisnis dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I), tim pakar agribisnis dan perlindungan tanaman IPB turun ke kebun-kebun kopi di kawasan Gunung Puntang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung pada 22 Agustus 2026.

Berkolaborasi dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Bukit Amanah, kegiatan edukatif ini mengusung fokus utama “Penguatan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) Penggerek Buah Kopi (PBKo)” untuk meningkatkan kapasitas petani dalam mendeteksi, memantau, hingga mengendalikan serangan PBKo, Hypothenemus hampei.

Tim Dosen Pulang kampung IPB beserta Para Petani Kopi Gunung Puntang, Bandung
zoom-in-whitePerbesar
Tim Dosen Pulang kampung IPB beserta Para Petani Kopi Gunung Puntang, Bandung

Dominasi Petani Perempuan: Garda Depan Menjaga Mutu Kopi

Ada pemandangan menarik dalam pelaksanaan program kali ini. Lebih dari separuh peserta yang hadir didominasi oleh para petani perempuan. Kehadiran mereka tak sekadar sebagai pendengar, melainkan juga aktif terlibat dalam diskusi, menyampaikan kendala di lapangan, hingga berbagi pengalaman empiris tentang dinamika perawatan kebun kopi.

Fenomena ini menegaskan bahwa keterlibatan perempuan memiliki porsi vital dalam rantai pengelolaan kebun, menjaga mutu pascapanen, hingga memperkuat ekonomi keluarga berbasis komunitas perkopian di Gunung Puntang.

Ancaman Nyata Hama PBKo dan Pendekatan Agrokosistem Holistik

Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) masih menjadi salah satu kendala utama produksi. Serangga betina menggerek dan bertelur di dalam buah, menyebabkan larva merusak biji kopi hingga memicu kerontokan sebelum panen serta penurunan mutu biji secara drastis. Meski demikian, tim pakar IPB University mengingatkan bahwa pengelolaan kebun kopi tidak bisa dilakukan secara parsial. Kebun kopi harus dipandang sebagai satu kesatuan agroekosistem. Petani diajak untuk memantau dan memitigasi kompleksitas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lainnya yang kerap melanda kawasan Gunung Puntang, antara lain: penyakit akibat cendawan dan jamur: karat daun kopi (Hemileia vastatrix), antraknosa (Colletotrichum spp.), bercak daun (Cercospora coffeicola), busuk buah, dan jamur akar, serta nematoda parasit: nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) dan nematoda lesio akar (Pratylenchus coffeae).

Antusiasme peserta terlihat saat mengamati karakter fisik Penggerek Buah Kopi (PBKo) secara langsung menggunakan mikroskop lapang

Tiga Pilar Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) pada Hama PBKo

Untuk menekan potensi kerugian secara berkelanjutan, IPB University mengenalkan pendekatan PHT berbasis pencegahan dan pengamatan berkala:

1. Pencegahan dan Sanitasi Kebun: Melakukan pemangkasan rutin, sanitasi buah yang terserang, pemupukan berimbang, serta pengaturan naungan dan jarak tanam.

2. Pengendalian Biologis (Agens Hayati): Memanfaatkan musuh alami dan jamur entomopatogen seperti Beauveria bassiana untuk menekan populasi PBKo tanpa merusak ekosistem kebun dan meminimalkan ketergantungan pada pestisida sintetis.

3. Kultur Teknis: Menjaga kesehatan kebun secara menyeluruh melalui tata kelola pemeliharaan dan pemanenan yang teratur.

Sinergi Akademisi dan Komunitas untuk Kopi Gunung Puntang Sustainable

Tim akademisi IPB yang menerjunkan Prof. Dr. Purnama Hidayat, Dr. Ruly Anwar, Dr. Dewi Sartiami, Dr. Fitrianingrum Kurniawati, serta dibantu oleh mahasiswa, yaitu Marich Nur Maqsalina, M.Si., dan Acylla Malsya Tiffanie, berharap program ini dapat memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, mahasiswa, LMDH, dan kelompok tani.

Melalui program Dosen Pulang Kampung, IPB University membuktikan bahwa transfer pengetahuan ilmiah dapat dipadukan secara harmonis dengan kearifan lokal petani di lapangan. Penguatan kapasitas petani dalam mendiagnosis gejala dini PBKo dan OPT lainnya diharapkan dapat meningkatkan kemandirian masyarakat tani. Sinergi erat antara IPB University, LMDH Bukit Amanah, dan masyarakat petani Gunung Puntang ini menjadi pijakan kuat untuk mewujudkan agroekosistem kopi yang sehat, produktivitas bernilai tambah tinggi, serta keberlanjutan lingkungan yang lestari.