Jebakan Gula dan Standar Tubuh Remaja Masa Kini

Siswi kelas XII SMA Santa Ursula Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Marcha Zefania Jojormataruli Nadeak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tren Dubai chewy cookie sedang menarik perhatian remaja karena teksturnya yang lembut, isi pistachio kunafa yang melimpah, dan sensasi lumer yang begitu menggoda. Camilan seperti ini tidak lagi sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tren media sosial yang membuat banyak orang ingin ikut mencoba. Sayangnya, di balik tren dan kenikmatannya, orang-orang lupa akan kandungan gula yang ada dalam camilan tersebut.
Kementerian Kesehatan menganjurkan konsumsi gula maksimal sekitar 50 gram per hari. Sementara itu, satu Dubai chewy cookie dapat mengandung sekitar 30 gram gula. Dengan kata lain, satu buahnya saja sudah menyumbang lebih dari separuh batas konsumsi gula harian. Belum lagi gula dari minuman, makanan penutup, dan makanan lainnya yang dikonsumsi pada hari yang sama.
Banyak orang membeli Dubai chewy cookie bukan karena benar-benar lapar, melainkan terpengaruh unggahan media sosial yang membuat makanan terlihat jauh lebih menggiurkan. Tampilan pistachio kunafa hingga berbagai ulasan populer sukses membangun impresi bahwa camilan tersebut adalah hal yang "wajib" dicoba. Namun, tidak semua remaja mudah tergiur oleh tren ini; konten ASMR makanan manis, misalnya, belum tentu cukup untuk menarik minat semua orang.
Meski tidak terpengaruh oleh konten di media sosial, daya tarik rasa tetap menjadi alasan utama seseorang rela merogoh kocek lebih dalam untuk membeli Dubai chewy cookie. Bahkan ketika menyadari tingginya kandungan gula di dalamnya, dorongan untuk terus menikmatinya tidak serta-merta berkurang. Prinsip you only live once (YOLO) sering kali menjadi alasan untuk tetap menikmati makanan enak selagi bisa. Keputusan konsumsi memang sepenuhnya merupakan pilihan pribadi, tetapi kebebasan memilih idealnya tetap disertai dengan kesadaran akan kesehatan dan apa yang dikonsumsi.
Ada pula anggapan bahwa tren makanan viral tidak perlu terlalu dipermasalahkan karena camilan ini hanya dikonsumsi sesekali. Selain itu, meningkatnya popularitas makanan viral dapat membantu penjual kecil dan UMKM mendapatkan keuntungan. Pendapat tersebut memang ada benarnya. Menikmati satu camilan manis sesekali bukanlah masalah dan tren kuliner dapat memberi peluang ekonomi bagi banyak orang.
Satu hal yang perlu dipersoalkan adalah ketika “sesekali” berubah menjadi kebiasaan. Konsumsi makanan manis yang terlalu sering, terutama jika tidak diimbangi pola makan seimbang dan aktivitas fisik, dapat meningkatkan risiko kelebihan asupan energi dan kenaikan berat badan. Parahnya lagi, perubahan tubuh dapat berdampak juga pada psikologis seseorang ketika remaja terus membandingkan dirinya dengan standar tubuh ideal yang banyak ditampilkan di sosial media.
Ironisnya, media sosial dapat menciptakan dua hal sekaligus: membuat kita ingin makan lebih banyak dan membuat kita merasa buruk terhadap tubuh setelahnya. Kita tergoda mencoba makanan karena tampilannya, kemudian merasa minder ketika tubuh berubah dan tidak sesuai dengan gambaran ideal yang beredar. Pada titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar sebuah cookie, melainkan bagaimana kita mengambil keputusan di tengah tekanan tren dan standar sosial.
Oleh karena itu, edukasi mengenai kandungan gula dan pola makan seimbang perlu diperkuat, terutama bagi remaja yang menjadi kelompok aktif pengguna media sosial. Remaja perlu membiasakan diri membaca informasi gizi dan mempertimbangkan frekuensi konsumsi makanan manis. Orang tua dan guru juga dapat membantu dengan membangun kebiasaan makan sehat tanpa menghakimi bentuk tubuh, sedangkan teman sebaya dapat saling mengingatkan tanpa menjadikan berat badan sebagai bahan ejekan.
Tren makanan akan terus bermunculan, tetapi kesehatan tidak seharusnya mengikuti setiap tren yang datang. Menikmati Dubai chewy cookie boleh, mengikuti tren juga boleh, tetapi keputusan untuk mengonsumsinya tetap harus didasarkan pada kesadaran, bukan sekadar perasaan Fear of Missing Out (FOMO). Dengan begitu, remaja tetap dapat menikmati makanan yang disukai tanpa terjebak dalam konsumsi berlebihan maupun standar tubuh yang tidak realistis.
