Konten dari Pengguna

Anjing Malang: Kasih hanya Bersinggah, Luka yang Tertinggal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maria Felisya Simarmata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anjing Golden Retriver Menangis, Source: AI
zoom-in-whitePerbesar
Anjing Golden Retriver Menangis, Source: AI

Tanah hitam di sisi kuburan itu masih tampak lembap meski hujan terakhir sudah lewat seminggu. Rumput-rumput liar melilit nisan batu yang belum sepenuhnya kering dari semen baru. Aroma tanah basah bercampur dengan amis daging busuk menguar samar.

Seekor anjing kurus terbujur kaku di samping gundukan tanah. Bulu cokelat keemasannya sudah mulai rontok, matanya terpejam seakan sedang tidur. Tak ada tanda gigitan liar lain, hanya tubuh yang kurus, lunglai, dan perut kosong. Orang-orang yang lewat di pemakaman sontak kaget, tetapi banyak yang berbisik singkat “mungkin sudah mati tiga hari yang lalu."

Namun, tidak ada yang tahu bagaimana anjing itu bisa berakhir di sana.

Di sebuah penampungan hewan di pinggir kota, suara gonggongan mendominasi dalam ruangan tersebut. Bau karat dari jeruji bercampur dengan makanan kaleng basi memenuhi ruangan. Lampu redup menggantung di langit-langit, berayun setiap kali angin masuk dari celah dinding. Ruangan itu lebih mirip gudang yang terlupakan daripada tempat penampungan.

Di salah satu ruangan, hiduplah seekor anjing golden retriever betina muda dengan mata sayu dan kepala menunduk seakan kehilangan harapan untuk hidup. Di saat anjing lain menyambut orang datang dengan tubuh yang berputar-putar dan ekor bergoyang, ia memilih untuk memojokkan diri ke ujung tembok di balik jeruji itu. Ia belum punya nama, di buku catatan hanya tertulis “Betina, 1 tahun, sehat.”

Suatu hari datang seorang pria. Wajahnya dingin, kacamata hitam menutupi matanya. Ia mulai berjalan mengelilingi ruangan sambil melihat isi hewan dari balik jeruji itu.

“Sudah pasti aku yang terpilih. Aku ini cantik, sehat, dan bugar banget,” ucap seekor anjing pudel di ruangan tersebut.

“Ya iyalah, kamu pasti jadi incaran manusia buat diadopsi. Beda banget sama dia. Bulunya rontok, matanya sayu, dan kakinya aja pincang. Siapa sih yang mau adopsi anjing kayak gitu?” sindir seekor anjing chihuahua tajam sambil melirik si anjing golden retriever yang sedang menunduk di pojok jerujinya.

Anjing golden retriever itu tidak menanggapi, karena ia tahu bahwa itu kenyataannya. Dia menyadari bahwa tidak ada satu pun orang yang ingin mengadopsinya dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu.

Namun, tanpa banyak bicara ia menunjuk anjing betina itu.

“Aku mau anjing itu,” ucapnya.

Anjing pudel dan chihuahua kaget dan tidak menyangka dengan pilihan pria itu. Anjing golden retriever juga tidak terlepas dari rasa kaget. Namun, ia bahagia dan bersyukur karena akhirnya ada seseorang yang ingin mengadopsinya.

Relawan menyerahkan tanpa ada rasa curiga bahkan mengira ia calon majikan yang sangat penyayang.

Namun, tempat barunya bukanlah “rumah” seperti yang dibayangkannya. Ruangan itu memiliki dinding yang lembap, catnya mengelupas, dan aroma tajam obat kimia menusuk hidung. Udaranya dingin, tapi bukan dingin yang menenangkan, melainkan dingin yang mencekik pernafasan, mencengkeram kulit, seolah setiap embusannya membawa ancaman.

Meja-meja baja berjajar rapi seperti barisan tak berperasaan, penuh dengan tabung kaca berisi cairan keruh dan alat-alat logam yang berkilau di bawah cahaya lampu neon pucat.

Anjing itu menggeram. Suara langkah sepatu pria itu menggema, tegas dan datar.

“Diamlah. Kalau berontak, nanti semakin sakit,” gumam pria itu tanpa menatap, suaranya dingin seperti besi di tangannya.

Ia tak paham dengan maksud perkataan pria itu, tetapi nada suaranya membuat bulu ditengkuknya berdiri. Jarum menembus kulitnya rasa panas menyebar dari titik suntikan, menjalar ke dada, lalu ke kepala. Pandangannya berputar, telinganya berdengung. Ia menggonggong pelan, lebih sebagai keluhan daripada keberanian.

Waktu terasa berhenti di tempat itu. Siang dan malam tak punya arti, hanya suara tetes cairan dan desis listrik yang memecah kesunyian. Di pojok ruangan, ada seekor anjing lain dengan tubuh yang kaku, matanya terbuka tanpa cahaya. Bau amis dan logam memenuhi udara. Ia menatap lama, berusaha memahami kenapa temannya tidak lagi bergerak.

“Tenang saja, besok giliranmu lagi,” terdengar suara pria itu, tetapi tidak tahu kepada siapa

Hatinya berdebar. Ia mulai belajar mengenali suara kunci, langkah, dan momen-momen hening yang menandakan pria itu keluar.

Malam itu, hujan turun deras di luar. Petir menyambar, mengguncang kaca jendela. Di tengah gemuruh, ia menyadari sesuatu bahwa pintu besi itu tak tertutup rapat. Mungkin karena terburu-buru, atau karena kelalaian kecil yang bagi makhluk sepertinya adalah harapan besar.

Dengan napas tersengal, ia menyeret tubuhnya mendekat. Luka di kakinya masih basah, tetapi nalurinya lebih kuat dari rasa sakit. Hidungnya menempel pada celah pintu, udara luar terasa asing tapi segar, membawa aroma tanah basah dan kebebasan.

“Kau mau kabur?” bisik seekor anjing kecil di kandang sebelah, suaranya serak dan lemah.

“Aku... aku harus coba,” jawabnya pelan, antara takut, tetapi ia berniat nekat.

“Kalau berhasil… jangan lupa kami,” kata suara itu, sebelum batuknya menelan sisa kalimat.

Ia menekan pintu itu dengan moncongnya. Engsel berderit lirih, tetapi suara hujan menelan segalanya. Satu langkah keluar, dua langkah menuju dunia yang dulu ia kenal kini terasa asing. Namun udara malam menusuk paru-parunya dengan kebebasan yang tak pernah ia cicipi lagi sejak hari pertama “adopsi” itu.

Kakinya gemetar, bulunya basah, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak mencium bau obat atau darah. Ia mencium tanah. Ia mencium hidup.

Dan di kejauhan, di balik suara hujan, terdengar lolongan panjang, mungkin dari anjing lain,.

Namun, itu pertanda kecil bahwa masih ada jiwa yang bertahan.

Di jalan sepi itu, lampu kota satu per satu padam seperti bintang yang kelelahan. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan yang memantulkan cahaya bulan. Dari balik tembok basah, seekor anjing muncul. Tubuhnya kurus, bulunya kotor, matanya menyala karena lapar dan takut. Setiap langkahnya gemetar, setiap suara membuatnya menunduk.

Di sisi jalan, seorang lelaki berjalan tertatih membawa kantong plastik berisi roti murah.

Wajahnya tirus, dengan kerutan yang dalam di sekitar mata. Napasnya berat, tangannya gemetar ringan. Saat melihat anjing itu yang menatap dengan tatapan penuh waspada, ia berhenti. Ia tidak mengusir seperti manusia lain. Lelaki itu justru berjongkok, mengeluarkan sepotong roti dari plastik bening itu.

“Lapar, ya?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar di antara desiran angin.

Anjing itu mendekat perlahan. Bau roti basi bercampur dengan aroma tanah dan air hujan.

Langkahnya ragu, tapi matanya penuh harap. Ia mengambil roti itu dengan hati-hati, lalu memakannya perlahan di depan lelaki itu. Lelaki itu tersenyum kecil, meski wajahnya masih menampakkan lelah yang dalam.

Malam itu tidak menjanjikan apa pun, namun di bawah langit kelabu, dua makhluk yang sama-sama kehilangan menemukan kehangatan yang sama. Lelaki itu menatap anjing itu lama, lalu berbisik pelan.

“Kamu butuh nama.”

Ia terdiam sejenak sebelum tersenyum.

“Anna. Aku akan memanggilmu Anna.”

Sejak malam itu, mereka hidup bersama. Hari-hari berikutnya diisi kehangatan sederhana.

Anna tidur di atas tikar lusuh di sudut rumah reyot itu, tetapi untuknya, tempat itu terasa lebih hangat dari istana mana pun. Ada tangan yang selalu membelai bulunya dengan lembut, ada suara yang memanggil namanya setiap pagi, dan ada tawa kecil yang menjadi musik sehari-hari.

Kadang, di sore hari, mereka duduk berdua di beranda yang miring, memandangi langit senja yang berwarna jingga pudar. Lelaki itu sering berbicara pada Anna, seolah anjing itu mengerti setiap kata.

“Aku ini tentara, Anna. Saat dibutuhkan aku akan dipanggil, tetapi saat tidak diperlukan akan dilupakan. Namun kamu… kamu teman yang takkan pergi, kan?”

Anna menatap wajah tuannya. Setiap kali namanya disebut, ekornya bergoyang, matanya berbinar. Ia belajar percaya lagi pada manusia. Luka-luka masa lalu yang tertinggal di tubuh dan hatinya mulai memudar, digantikan oleh rasa aman yang baru.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Suatu pagi, matahari belum tinggi ketika suara ketukan keras datang dari luar rumah. Lelaki itu membuka pintu dan menerima sebuah surat bersampul cokelat. Tangannya sedikit bergetar saat membaca isi surat itu. Wajahnya yang semula tenang berubah muram, matanya seolah memikul sesuatu yang berat.

Ia tahu apa artinya surat itu. Panggilan tugas. Dan bukan tugas biasa, melainkan garis terdepan, tempat di mana banyak orang tidak kembali.

Lelaki itu duduk lama di beranda. Anna mendekat, menaruh kepalanya di pangkuan tuannya.

Lelaki itu mengusapnya perlahan, matanya menerawang jauh.

“Aku harus pergi, Anna. Mungkin agak lama.”

Beberapa jam kemudian, ia mengetuk pintu tetangganya.

“Tolong jaga Anna. Aku mungkin pergi dalam waktu yang lama.”

Tetangga itu mengangguk tanpa benar-benar memahami arti kata “lama” bagi seorang tentara.

Anna ditinggalkan di halaman rumah yang asing. Lelaki itu berjongkok di depannya, mengusap kepala anjing itu seperti biasa.

“Aku pergi sebentar, Anna. Tunggu aku pulang.”

Senyumnya lembut, seolah janji itu sungguh nyata.

Anna menjilat tangannya, percaya penuh. Ia tidak tahu apa arti perang, ia hanya tahu bahwa tuannya berjanji akan kembali.

Hari berganti minggu. Berita kematian para tentara dari garis depan menyebar ke kampung itu, tetapi tidak pernah sampai ke telinga Anna. Ia tetap menunggu. Setiap sore, ia menatap jalan yang sama, berharap sosok itu muncul dari balik debu dan cahaya.

Di rumah tetangga, Anna diberi makan, tapi tanpa cinta. Rantai menahan langkahnya, suara kasar menggantikan kelembutan. Malam-malam terasa panjang, dan udara yang dulu membawa bau kopi kini hanya membawa dingin.

Suatu malam, ketika bulan menggantung redup di langit, Anna tidak tahan lagi. Rindu yang menumpuk menjadi keberanian. Ia menggigit tali lehernya hingga putus, lalu berlari keluar dari halaman itu. Napasnya memburu, kakinya lecet, tapi nalurinya memimpin langkahnya.

Ia berlari menembus jalan setapak, melewati rumah-rumah sepi, menembus kabut pagi.

Dalam hatinya, satu suara terus berulang:

“Tunggu aku pulang.”

Dan Anna berlari untuk menemukan makna dari janji itu.

Hari demi hari ia menelusuri jalanan kota, hutan kecil, bahkan tepi sungai. Tubuhnya semakin kurus dan kusam, serta bulunya yang mulai lepas. Ia hampir tidak makan, hanya minum genangan air hujan dan air sungai. Satu bulan penuh ia mencari, hanya berbekal ingatan akan bau tubuh lelaki itu, suara lembutnya, dan keyakinan bahwa tuannya menunggu.

Sampai suatu sore, langkahnya terhenti di pemakaman yang sepi. Angin berhembus membawa aroma dupa dan bunga melati layu. Anna mendekati sebuah gundukan tanah yang baru. Ada helm tentara kecil diletakkan di atas nisan batu dan secarik kain kusam yang pernah ia kenali yaitu kain yang biasa dipakai lelaki itu untuk membalut pergelangan tangannya.

Anna berhenti. Ia mengendus tanah itu. Aroma samar tuannya masih tertinggal, bercampur tanah basah. Tidak ada keraguan, ia yakin bahwa ini tempat lelaki itu beristirahat.

Sejak hari itu, Anna tak pergi lagi. Ia duduk di samping nisan, menatap hening. Tidak ada gonggongan, tidak ada rengekan. Hanya diam panjang seolah seluruh dunianya runtuh.

Hari-hari berikutnya tubuhnya semakin lemah. Ia menolak makanan yang kadang dilempar peziarah, memilih berbaring di tanah yang sama. Matanya yang dulu bulat dengan penuh harapan, kini layu menandakan sebuah kekosongan hampa.

Akhirnya, pada malam ketiga setelah ia berhenti bergerak, Anna kaku sepenuhnya. Napasnya menghilang, tubuhnya tenang. Ia mati di sisi majikan yang ia cintai, di tempat yang ia yakini sebagai rumah terakhir.

Kini yang tersisa hanyalah kisah seekor anjing bernama Anna, yang pernah dikhianati, tetapi memiliki jalan selanjutnya untuk dicintai. Kemudian memilih untuk setia hingga akhir.

Di pemakaman itu, jika angin malam berembus, terkadang terdengar lirih seolah bisikan berisi janji yang tidak pernah terpenuhi, tapi selalu dijaga. Peristiwa ini menunjukkan bahwa cinta pada seekor anjing, bisa bertahan melampaui hidup dan mati.