Gula Merah Pocong: Kisah Inspiratif Sahrul, Pemuda Sukses Kreatif Usia 24 Tahun

Undergraduate University Padjadjaran, Communication Studies
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Maria Felisya Simarmata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gula merah pocong, sebutan untuk gula merah yang berbalut plastik tipis lalu dilapisi oleh daun kelapa segar yang dibentuk menyerupai pocong. Angin Pantai Pangandaran berhembus pelan membawa aroma manis gula merah seakan menggoda orang orang yang lewat untuk membelinya. Di kios bertuliskan Nur Hasanah, Sahrul, pemuda berusia 24 tahun yang lincah dalam menganyam tiga helai daun di lapisan dalam dan dua helai di lapisan luar.
Sahrul lahir di tanah dengan suara tenang deruan ombak yang sama dengan tempat ia mulai merintis dan mengembangkan ide-ide kreatifnya, Pangandaran, tepatnya di Desa Babakan. Pangandaran baginya bukan hanya sekedar tempat tinggal, tetapi tempat yang mengajarkan arti kehidupan sebenarnya. Ayahnya dulu sukses besar sebagai supplier oleh-oleh seperti dodol Garut dan brem Madiun, serta mempunyai dua truk distribusi antar kota. Keluarga nya hidup layak, bahkan ia bercita-cita masuk SMP elit. Namun, roda kehidupan berputar, mabuk dan judi menjadi penyebab yang merenggut segalanya. Ayahnya runtuh, sehingga menyebabkan mimpinya pupus. Akibatnya, ia bersekolah di sebuah pesantren.
Ia melanjutkan pendidikan ke SMK Putra dengan menempuh jurusan Multimedia. Awalnya ia merasa kesulitan sehingga mendapat urutan 23 dikelas, diremehkan guru karena malas, serta dihindari saat tugas kelompok. Namun, titik baliknya datang yang membuatnya memutuskan untuk fokus seperti menghindari pacaran, memaksakan diri untuk belajar mata pelajaran yang dibencinya, dan mulai mendengar nasihat guru. Ia menerapkan prinsip “ATM” yaitu “Amati, Tiru, Modifikasi.” Hasilnya yang dari ranking 23 naik menjadi ranking 4.
Melanjut di Universitas Multimedia Nusantara adalah impiannya. Namun akhirnya, ia memilih untuk terjun langsung ke dunia kerja. “Saya menyadari cara kerja otak saya rata-rata, jadi ga cocok sekolah lagi” ucapnya. Ia memulai pengalamannya dengan bekerja sebagai Office Boy (OB) di sebuah villa di sekitar pantai dengan gaji Rp1,2-3 juta. Namun, Ia memutuskan berhenti karena tidak suka dikontrol dengan waktu ketat dan banyak tekanan dengan gaji yang cukup untuk beli rokok saja.
Akhirnya, Ia membantu ayahnya keliling menggunakan motor berjualan camilan seperti sale pisang, sale sisir, kerupuk cumi, dan teri. Pasca-pandemi dagang ramai, omzet mingguan besar padahal dari berjualan keripik saja. Bahkan, ia bisa menyewa tanah dan memasang gazebo sederhana dengan atap anyaman sendiri. Namun, para pesaing bermunculan dengan meniru tanpa menggunakan trik benar, harga anjlok, bahan naik, omzet menurun parah, bahkan di hari libur yang biasa ramai jadi sepi total. Ia coba menjadi nelayan dengan rezeki seperti air laut ombak, jika banyak ikan untung emas, tetapi sepi akan pulang dengan tangan kosong. Sahrul berpikir keras, “Cari kerja apa lagi? Tapi saya gak mau menyerah begitu saja,” pikirnya.
Ia menikah muda di usia 24 tahun. Beberapa minggu kemudian, Ia melihat ibu mertua yang sedang membungkus gula aren kecil dari petani gunung, tempat istrinya berasal. Gula merah biasa dicetak dengan untung yang sedikit. Ia berpikir untuk memodifikasi dengan membungkus menggunakan plastik tipis anti lengket, lalu dilapisi daun kelapa muda sebanyak tiga helai di dalam dan dua helai diluar. Daun kelapa diperoleh dari kebun mertua yang dipetik sendiri. Selain itu, ia juga mengganti ikat tali bambu yang rumit dengan karet.
Inovasinya menarik banyak pembeli. “Saya jual 30% gula, 70% kemasan uniknya yang cocok sebagai oleh-oleh, kado, ataupun pajangan,” katanya. Dari berdagang gula merah pocong, Ia dapat menghasilkan keuntungan yang besar yakni sebanyak Rp4-6 juta per bulan. Ia memanfaatkan keuntungan itu untuk membeli motor, rumah, dan keperluan rumah.
Kini, Sahrul mampu menyewa dua kios untuk berdagang cemilan oleh-oleh dan kelontong serta sembako. Ia sewa seharga Rp 3-6,5 juta setahun. Hari Senin hingga Kamis digunakan untuk berkebun sebagai tambahan, sedangkan hari Sabtu dan Minggu digunakan untuk berdagang dengan pembagian shift yang adil. Namun, Sahrul tidak memiliki niatan untuk membuka cabang ke pantai lain, karena memiliki pedagang lokal dengan aturan yang ketat.
Sahrul memiliki kenangan cerita lucu saat menghadapi pembeli. Pembeli tersebut memberi tawaran yakni dengan harga 10 ribu mendapat tiga buah. “Mau daunnya saja? Atau cari di kios sebelah!” jawabnya sambil tertawa. Baginya, pembeli adalah nomor satu yang harus selalu dilayani dengan ramah. “Capek? Dagang mudah ditiru kalau tidak ada inovasi” ucapnya bijak.
Sahrul memiliki pesan kepada orang-orang yang masih suka bingung. “Pilih satu hal yang kamu yakin, paksa suka meski sedang malas. Omongan yang nyebelin dari orang lain? Biarin lewat bagaikan angin. Fokus untuk memberi bukti lewat hasil. Bangun semangat dalam diri!” tegasnya. Selain itu, Ia juga berpesan untuk berhenti mengutamakan gengsi dan mengingatkan bahwa berdagang bukan hal yang memalukan.
Sahrul mengambil makna perjuangan dari pepatah Arab yang dia suka, “Man jadda wajada” yakni siapa yang berusaha bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil, dan “Man sabara zhafira” yang berarti siapa yang sabar, dia pasti beruntung. Intinya, berjuang itu adalah usaha sungguh-sungguh disertai dengan sabar menghadapi yang membuat bosan atau gagal sementara. “Jangan grumbling, hidup terlalu singkat buat ragu akan arah,” tambahnya.
Sahrul memberi analogi: “Omongan orang yang hina kia anggap seperti cambuk buat kuda. Kalau kudanya dicambuk, larinya semakin kencang.” Jadi cercaan atau ejekan jadikan sebagai bahan bakar untuk selalu maju menuju kesuksesan di bidang apapun.
Kisah Sahrul menjadi inspirasi nyata yang dari pesantren singkat, SMK susah, tetapi jadi pengusaha sukses.
