Angklung sebagai Cara Melenyapkan Sepi

Mahasiswa Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Maria Quartha Aprilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada hari Kamis sore, terdengar lantunan merdu dan nyaring musik dari angklung-angklung yang digoyangkan. Para orang tua yang merupakan pensiunan itu berdiri dan berbaris serupa dengan bentuk setengah lingkaran. Setiap pasang tangan membawa satu angklung dan mata mereka terlihat begitu fokus untuk memperhatikan pemandu lagu. Tangan mereka dengan lembut menggoyangkan angklungnya sesuai arahan, menghasilkan juga setiap alunan musik yang menggema di ruangan itu. Para lansia itu bukanlah kelompok pemusik angklung profesional. Mereka hanyalah kelompok lansia pensiunan yang rutin bermain angklung setiap hari Kamis Sore di kantor Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI). Kita mungkin melihat perkumpulan ini hanyalah sebuah perkumpulan pensiunan biasa. Namun, bagi mereka inilah pengusir rasa sepi. “Kegiatan ini belum lama ada, tetapi sudah disyukuri. Karena dapat mengurangi rasa sepi.” ujar salah satu anggota yang sering dipanggil Ibu Lia. Ujarnya lagi, kegiatan ini diawali dari ajakan seorang anggota perkumpulan pensiunan ini untuk menambah kegiatan. Kebanyakan pensiunan ini telah tinggal sendirian atau tinggal berdua tanpa ada anak ataupun sanak saudara. Ini membuat suasana hati yang buruk dan kejenuhan yang semakin menumpuk seiring waktu. “Saya kesepian sekali kalau hanya di rumah. Ramai hanya kalau anak-anak ke rumah.” ungkap Ibu Lia sambil tersenyum sendu dalam wawancara. Kegiatan yang dilakukan oleh para pensiunan ini tentu saja menjadi makna yang mendalam bagi mereka. Bertemu dengan orang lain yang seumuran bisa membuat perasaan mereka kembali senang dan mengurangi rasa kesepian. Meski usia para pensiunan ini tak lagi muda. Usia mereka telah berkisar 60 tahun hingga 82 tahun. Namun semangat mereka ketika bermain angklung dapat diberi apresiasi. Setiap nada dari musik yang dibawakan itu terjalin dengan urut sesuai dengan yang seharusnya. Setiap lansia yang ikut tersebut berlatih dengan serius walau juga memiliki sesi santai disertai candaan. Perkumpulan lansia ini juga telah dipanggil untuk tampil bermain angklung pada beberapa kegiatan. Hal ini juga menjadi penyemangat bagi setiap anggotanya agar lebih rajin ikut dalam latihan bermain angklung di setiap minggunya. Bahkan penampilan kecil-kecilan juga sudah membanggakan bagi kelompok ini. Kegiatan ini juga tak terhindari dengan tantangan di dalamnya. Terdapat beberapa anggota kelompok ini yang merupakan lansia beberapa kali tidak dapat hadir dalam latihan. Alasannya hanya seputar karena sakit dan harus mengurusi cucu. Tapi itulah yang menjadikan semuanya keluarga. Saling memberi kabar dan menjenguk jika ada anggota yang sakit. Bagi para lansia ini, angklung bukanlah sekadar alat musik. Angklung juga menjadi teman, penghibur, pemersatu kala kesepian di hari tua. Dari sebuah alat musik yang dianggap biasa saja, dapat menjadi menghilang sepi bagi lansia yang telat hidup sendirian dan kesepian. Hari semakin gelap, jalanan pun mulai sepi. Akhirnya lantunan musik itu perlahan menjadi ramai suara berpamitan para lansia itu. Senyuman yang terukir di wajah mereka adalah gambaran dari kelegaan dan syukur dari lenyapnya rasa kesepian.
