Konten dari Pengguna

Apakah Sistem Pengendalian Internal Sudah Cukup untuk Mencegah Fraud?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maria Angie Sianturi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: AI Generate
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: AI Generate

Bayangkan sebuah perusahaan yang memiliki prosedur persetujuan transaksi, pemeriksaan dokumen, pembagian tugas, hingga sistem pencatatan keuangan yang terkomputerisasi. Secara administratif, semuanya terlihat tertata. Setiap transaksi memiliki alur, setiap dokumen harus diperiksa, dan setiap pembayaran membutuhkan persetujuan pihak yang berwenang.

Namun, bagaimana jika kecurangan justru terjadi di tengah sistem yang terlihat begitu lengkap?

Pertanyaan ini menarik karena selama ini pengendalian internal sering dianggap sebagai salah satu cara utama untuk mencegah kecurangan atau fraud. Perusahaan membangun berbagai prosedur agar transaksi dapat diawasi dan kesalahan bisa diminimalkan. Akan tetapi, keberadaan aturan saja tidak selalu menjamin bahwa seluruh proses akan berjalan sebagaimana mestinya.

Menurut saya, persoalannya bukan hanya apakah perusahaan sudah memiliki sistem pengendalian internal, tetapi apakah sistem tersebut benar-benar dijalankan, diawasi, dan dipatuhi oleh orang-orang di dalamnya.

Sistem yang Rapi Belum Tentu Berjalan dengan Baik

Pengendalian internal merupakan bagian penting dalam pengelolaan perusahaan. Sistem ini membantu menjaga aset, meningkatkan keandalan pelaporan keuangan, mendukung efektivitas operasional, serta memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.

Dalam praktiknya, pengendalian internal dapat berupa pemisahan tugas, otorisasi transaksi, pemeriksaan dokumen pendukung, rekonsiliasi, hingga pembatasan akses terhadap sistem keuangan. Tujuannya adalah mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan dan penyalahgunaan wewenang.

Namun, ada perbedaan antara memiliki prosedur dan benar-benar menerapkannya.

Misalnya, perusahaan mewajibkan setiap pembayaran diperiksa berdasarkan invoice, purchase order, dan bukti penerimaan barang. Prosedur ini dirancang agar pembayaran dilakukan sesuai transaksi yang sebenarnya. Akan tetapi, jika pemeriksaan hanya dilakukan untuk memenuhi persyaratan administrasi, tanpa mencocokkan dokumen secara cermat, prosedur tersebut kehilangan sebagian besar manfaatnya.

Dokumen mungkin terlihat lengkap, tanda tangan mungkin tersedia, dan transaksi mungkin sudah disetujui. Namun, kelengkapan administratif tidak otomatis membuktikan bahwa transaksi tersebut benar-benar sah.

Di sinilah pengendalian internal dapat berubah menjadi formalitas. Perusahaan merasa telah memiliki perlindungan, padahal pelaksanaannya belum tentu efektif.

Celah Terbesar Bisa Datang dari Orang yang Menjalankan Sistem

Sistem pengendalian internal dirancang dan dijalankan oleh manusia. Karena itu, efektivitasnya tidak hanya bergantung pada prosedur, tetapi juga pada integritas, kompetensi, dan kedisiplinan orang-orang yang terlibat.

Salah satu risiko muncul ketika seseorang memiliki kewenangan terlalu besar tanpa pengawasan yang memadai. Misalnya, seorang karyawan dapat membuat transaksi, mengubah data, sekaligus menyetujui pembayaran tanpa pemeriksaan independen. Kondisi seperti ini membuka kesempatan terjadinya penyalahgunaan wewenang.

Risiko juga muncul ketika karyawan merasa tidak nyaman mempertanyakan keputusan atasan. Dalam lingkungan kerja yang terlalu mengutamakan kepatuhan kepada pimpinan, pegawai mungkin memilih mengikuti instruksi meskipun terdapat kejanggalan pada suatu transaksi.

Bahkan, sistem yang sebenarnya baik dapat menjadi kurang efektif ketika manajemen mengabaikan prosedur yang berlaku. Jika aturan hanya berlaku bagi karyawan tertentu, sementara pihak yang memiliki jabatan lebih tinggi dapat melewatinya, perusahaan sedang membangun budaya yang melemahkan pengendalian internalnya sendiri.

Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa pencegahan fraud bukan semata-mata persoalan teknologi atau kelengkapan dokumen. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa tidak ada pihak yang berada di atas mekanisme pengawasan.

Mengapa Fraud Masih Bisa Terjadi?

Salah satu alasan kecurangan tetap dapat terjadi adalah karena pengendalian internal memiliki keterbatasan. Kesalahan manusia, kolusi antara beberapa pihak, dan pengabaian prosedur oleh manajemen dapat membuat pengendalian yang sudah dirancang dengan baik menjadi tidak efektif.

Sebagai contoh, pemisahan tugas dapat mengurangi risiko penyalahgunaan wewenang. Namun, jika beberapa karyawan bekerja sama untuk memanipulasi transaksi, pemeriksaan yang mengandalkan pembagian tugas saja mungkin tidak cukup untuk mengungkap kecurangan tersebut.

Begitu pula dengan penggunaan sistem digital. Otomatisasi dapat membantu mencatat transaksi, membatasi akses, dan menyimpan jejak aktivitas. Akan tetapi, teknologi tetap membutuhkan pengaturan yang tepat, pengawasan, dan pemeriksaan berkala. Sistem yang canggih tidak akan banyak membantu apabila hak akses diberikan secara berlebihan atau anomali transaksi tidak pernah ditindaklanjuti.

Artinya, pengendalian internal lebih tepat dipandang sebagai upaya mengurangi risiko, bukan jaminan bahwa fraud tidak akan terjadi.

Karena itu, ketika kecurangan terungkap, perusahaan sebaiknya tidak hanya mencari siapa yang melakukannya. Perusahaan juga perlu mengevaluasi bagaimana pelanggaran tersebut bisa terjadi, kontrol apa yang gagal, dan apakah ada prosedur yang selama ini hanya dijalankan di atas kertas.

Peran Auditor: Memeriksa Lebih dari Sekadar Kelengkapan Dokumen

Dalam konteks auditing, pengendalian internal menjadi salah satu hal yang perlu dipahami auditor ketika menilai risiko dan merancang prosedur pemeriksaan. Auditor perlu mempertimbangkan apakah pengendalian yang relevan telah dirancang dan diterapkan dengan tepat, serta menentukan prosedur audit yang sesuai dengan risiko yang dihadapi.

Namun, auditor bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pencegahan fraud. Manajemen bertanggung jawab atas penyusunan laporan keuangan dan pengendalian internal perusahaan, sedangkan auditor melaksanakan pemeriksaan sesuai standar profesional.

Menurut saya, perusahaan juga perlu menghindari anggapan bahwa seluruh risiko kecurangan akan selesai setelah audit dilakukan. Audit dapat membantu mengidentifikasi risiko dan menemukan salah saji material, tetapi tidak memberikan jaminan mutlak bahwa semua kecurangan akan terdeteksi.

Oleh karena itu, pengendalian internal harus tetap berjalan dalam kegiatan operasional sehari-hari, bukan hanya diperhatikan ketika jadwal audit semakin dekat.

Pengendalian yang Efektif Dimulai dari Budaya Kerja

Lalu, apa yang perlu dilakukan agar pengendalian internal tidak berhenti sebagai formalitas?

Pertama, perusahaan perlu memastikan adanya pemisahan tugas dan persetujuan transaksi yang sesuai dengan tingkat risikonya. Kedua, akses terhadap sistem keuangan harus dibatasi berdasarkan tanggung jawab masing-masing pihak. Ketiga, pemeriksaan dokumen harus dilakukan secara substantif, bukan sekadar memastikan bahwa semua kolom telah terisi.

Selain itu, perusahaan perlu menyediakan saluran pelaporan yang aman bagi karyawan yang menemukan indikasi kecurangan. Laporan tersebut harus ditindaklanjuti secara objektif tanpa menimbulkan ketakutan terhadap pihak yang menyampaikan informasi dengan itikad baik.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah keteladanan manajemen. Aturan akan sulit dihormati apabila pimpinan sendiri sering mengabaikannya. Sebaliknya, budaya kerja yang menjunjung integritas dapat memperkuat pelaksanaan pengendalian yang telah dirancang.

Pengendalian internal yang efektif bukan berarti perusahaan harus mencurigai setiap karyawan. Tujuannya adalah membangun sistem yang memungkinkan pekerjaan berjalan dengan baik sekaligus mengurangi kesempatan terjadinya penyalahgunaan.

Jadi, Apakah Pengendalian Internal Sudah Cukup?

Menurut saya, sistem pengendalian internal sangat penting, tetapi tidak cukup jika hanya dipahami sebagai kumpulan prosedur. Keberhasilannya bergantung pada bagaimana sistem tersebut dirancang, diterapkan, dievaluasi, dan didukung oleh budaya kerja yang sehat.

Perusahaan tidak cukup hanya memiliki SOP, aplikasi keuangan, atau dokumen persetujuan. Semua itu perlu didukung oleh pengawasan yang konsisten, pembagian tanggung jawab yang jelas, serta keberanian untuk menindaklanjuti kejanggalan tanpa memandang jabatan seseorang.

Pada akhirnya, fraud tidak selalu terjadi karena perusahaan tidak memiliki aturan. Terkadang, aturan sudah tersedia, tetapi pelaksanaannya dapat dilemahkan oleh kelalaian, kepentingan pribadi, kolusi, atau keputusan manajemen yang mengabaikan pengawasan.

Sistem pengendalian internal yang baik bukanlah sistem yang sekadar terlihat ketat, melainkan sistem yang tetap berfungsi ketika ada pihak yang mencoba melewatinya. Sebab, pencegahan fraud tidak cukup dibangun melalui aturan tertulis. Ia membutuhkan pengawasan yang nyata dan integritas dari setiap orang yang menjalankannya.

Referensi

COSO (2013), Internal Control—Integrated Framework. Menjelaskan komponen dan prinsip pengendalian internal. Cocok untuk mendukung bagian tentang rancangan sistem, pelaksanaan, dan pengawasan.

Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), Occupational Fraud 2024: A Report to the Nations. Bisa digunakan sebagai sumber tambahan untuk membahas bentuk kecurangan di lingkungan kerja dan pentingnya upaya pencegahan.

IAASB, International Standard on Auditing (ISA) 315. Membahas identifikasi dan penilaian risiko salah saji material serta pemahaman auditor atas entitas dan pengendalian internal yang relevan. Cocok untuk bagian peran auditor.