Konten dari Pengguna

Saat IHSG Tertekan dan Rupiah Melemah, Sektor Ini Dinilai Masih Punya Peluang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kontrak Hukum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

IHSG Tertekan dan Rupiah melemah, Beberapa Sektor masih Punya Peluang.
zoom-in-whitePerbesar
IHSG Tertekan dan Rupiah melemah, Beberapa Sektor masih Punya Peluang.

Gejolak di pasar keuangan tidak selalu berarti seluruh sektor bisnis kehilangan peluang. Tekanan pada IHSG dan pelemahan rupiah memang dapat menaikkan biaya impor serta menekan margin perusahaan, tetapi dampaknya berbeda-beda tergantung struktur bisnis masing-masing sektor.

Pada 16 Oktober 2026, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp18.052 per dolar AS. Pada 19 Oktober, IHSG kembali tertekan di tengah kekhawatiran investor terhadap kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Dalam kondisi seperti ini, bisnis yang bergantung pada impor cenderung menghadapi tekanan biaya. Sebaliknya, perusahaan dengan pendapatan dalam valuta asing, bahan baku lokal, atau produk yang membantu efisiensi operasional dapat memiliki ruang pertumbuhan.

Eksportir dan agribisnis

Sektor agribisnis dan produk ekspor menjadi salah satu yang paling perlu dicermati. Pelemahan rupiah dapat membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional, terutama bagi eksportir yang biaya produksinya dalam rupiah tetapi pendapatannya dalam dolar AS.

Produk seperti kopi, kakao, rempah-rempah, perikanan, furnitur, alas kaki, dan produk pertanian olahan berpotensi memperoleh manfaat. Namun, keuntungan kurs perlu dihitung bersama biaya logistik, bahan baku impor, sertifikasi, dan dokumen ekspor.

Substitusi impor

Kenaikan harga barang impor juga membuka peluang bagi manufaktur lokal. Industri makanan olahan, furnitur, komponen, tekstil, dan produk kebutuhan industri dapat memperkuat posisinya jika mampu menjaga kualitas, harga, dan pasokan bahan baku.

Peluang ini bukan otomatis menguntungkan. Manufaktur yang sangat bergantung pada mesin atau komponen impor tetap perlu menghitung ulang struktur biayanya.

Teknologi dan efisiensi

Ketika perusahaan berusaha menekan biaya, layanan teknologi dan digital berpotensi meningkat. Penyedia perangkat lunak, otomatisasi, pemasaran digital, dan jasa profesional dapat membantu bisnis beroperasi lebih efisien.

Peluang ini juga dapat diperluas ke pasar luar negeri, asalkan perusahaan menyiapkan kontrak kerja sama, perlindungan kekayaan intelektual, kepatuhan pajak, dan pengelolaan data pelanggan.

Kebutuhan konsumen dan pariwisata

Sektor FMCG cenderung memiliki permintaan yang lebih rutin dibandingkan barang tersier. Namun, daya beli yang tertekan dapat mengubah preferensi konsumen ke produk dengan harga lebih terjangkau. Strategi inovasi kemasan, efisiensi distribusi, dan pengendalian stok menjadi penting.

Sementara itu, rupiah yang melemah berpotensi membuat perjalanan di Indonesia lebih menarik bagi wisatawan asing. Destinasi lokal, akomodasi, kuliner, dan pengalaman budaya dapat menangkap peluang tersebut, meskipun tetap bergantung pada permintaan wisata dan kondisi perjalanan.

Gejolak ekonomi tidak otomatis menciptakan pemenang. Peluang hanya akan berubah menjadi pertumbuhan jika pelaku usaha mampu menjaga arus kas, mengendalikan biaya, memperkuat pemasok lokal, dan menyiapkan fondasi legal seperti perizinan, kontrak, merek, serta kewajiban pajak.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi.