Konten dari Pengguna

Kok Bisa Betah Dengerin Cerita Orang yang Nggak Kita Kenal?

marsia

marsia

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pancasakti Tegal

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari marsia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI

Kalau sering main YouTube, nama Nadia Omara mungkin sudah nggak asing lagi.

Begitu kita melihat thumbnail dengan ekspresi dan judul cerita yang bikin penasaran, tangan langsung gatal buat klik.

Media sosial memang sudah jadi bagian dari keseharian banyak orang. Menurut laporan Digital 2026, jumlah identitas pengguna media sosial di Indonesia mencapai 180 juta, atau sekitar 62,9% dari total populasi. Jumlah tersebut tumbuh 26% dibandingkan tahun sebelumnya. Nggak heran kalau berbagai macam konten, termasuk storytelling, begitu mudah menarik perhatian kita.

Awalnya mungkin cuma mau lihat sebentar. Tapi begitu Nadia mulai bercerita, muncul satu masalah baru: susah berhenti.

“Terus gimana, Wak?”

“Terus akhirnya apa?”

Akhirnya kita menonton video itu sampai selesai, yang padahal niat awalnya hanya ingin menemani saat makan saja.

Orang yang sedang bercerita di depan layar itu sebenarnya bukan teman kita, bukan keluarga kita, bahkan mungkin nggak pernah kita temui.

Tapi kok bisa terasa dekat?

Menurut saya, salah satu jawabannya ada pada cara bercerita.

Bukan cuma soal cerita, tapi cara menyampaikannya

Nadia Omara punya gaya bercerita yang ekspresif dan khas. Cara berbicaranya terasa seperti sedang mengajak ngobrol bukan seperti sedang membaca teks.

Mulai dari intonasi dan ekspresi ketika bercerita membuat suasana terasa lebih hidup. Kita jadi nggak cuma mendengar ceritanya, tetapi seperti diajak mengikuti kejadian dari awal sampai akhir.

Hal yang sama juga bisa dilihat dari Hirotada Radifan.

Kalau Nadia punya pembawaan yang ekspresif, Hirotada lebih seperti teman yang sedang duduk dan menceritakan sesuatu kepada kita. Gaya bicaranya santai, tetapi bisa membangun suasana.

Apalagi ada segmen seperti Teman Cerita yang menghadirkan kisah dari para penontonnya. Jadi, bukan hanya mendengarkan cerita dari kreatornya, kita juga seperti ikut mendengarkan pengalaman orang lain.

Dari sini kelihatan bahwa storytelling bukan cuma soal ceritanya apa, tetapi juga bagaimana cerita itu disampaikan.

Cerita yang sebenarnya sederhana bisa terasa menarik kalau pembawaannya pas. Sebaliknya, cerita yang bagus juga bisa terasa membosankan kalau disampaikan terlalu datar.

Kita bukan cuma penasaran, tapi ikut masuk ke ceritanya

Saat menonton storytelling, kita sebenarnya nggak hanya mendengarkan.

Kita membayangkan tempat kejadiannya, membayangkan orang-orang yang ada di dalam cerita, bahkan kadang ikut merasakan emosinya.

Kalau ceritanya seram, kita ikut merinding.

Kalau ceritanya lucu, kita ikut ketawa.

Kalau ceritanya menyedihkan, kita bisa ikut merasa kasihan.

Padahal semuanya terjadi hanya melalui layar.

Mungkin inilah salah satu alasan kenapa storytelling begitu menarik. Kita nggak harus mengenal orang yang bercerita untuk bisa merasa tertarik dengan kisahnya.

Yang membuat kita bertahan bukan siapa orangnya, tetapi cerita yang berhasil membuat kita penasaran.