Konten dari Pengguna

Terjebak Gozami dan Pinjol? Saatnya Gen Z Lirik Ekonomi Syariah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Marsya Kaila Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber gambar ilustrasi : freepik
zoom-in-whitePerbesar
sumber gambar ilustrasi : freepik

Fenomena Gone Zero Ahead of Month-End atau yang kini akrab disapa "Gozami" menjadi realitas pahit yang dihadapi banyak generasi muda (Gen Z) saat ini. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana tabungan atau gaji harian/bulanan sudah ludes bahkan jauh sebelum akhir bulan tiba. Dipadu dengan gempuran budaya konsumerisme, kemudahan akses paylater, dan pinjaman online (pinjol) ilegal yang hanya berjarak satu klik di smartphone, Gen Z kian rentan terjebak dalam krisis keuangan pribadi sejak usia muda.

​Fenomena ini tentu tidak boleh dianggap remeh. Ketika pemuda yang menjadi tumpuan bonus demografi Indonesia justru terbelit utang konsumtif dan tidak memiliki ketahanan finansial, kemandirian ekonomi nasional pun turut dipertaruhkan. Di sinilah Literasi dan Prinsip Ekonomi Syariah hadir bukan sekadar sebagai doktrin keagamaan, melainkan solusi finansial yang logis, rasional, dan transformatif.

​Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Gozami?

​Ada dua faktor utama yang memicu krisis keuangan di kalangan Gen Z:

1. ​Ilusi Kemudahan Kredit Konsumtif: Fitur buy now pay later dan pinjol sering kali dikemas dengan narasi "solusi praktis". Padahal, di baliknya terdapat beban skema bunga berbunga (riba) dan denda akumulatif yang mencekik. Keuangan yang belum stabil makin tertekan oleh beban cicilan yang melebihi kemampuan.

​2. Gaya Hidup di Atas Kebutuhan (FOMO & Lifestyle): Dorongan untuk selalu tampil sesuai tren media sosial membuat prioritas pengeluaran bergeser dari haajiyat (kebutuhan dasar) menjadi tahsiniyat (kelengkapan/gaya hidup) yang berlebihan.

​Solusi Ekonomi Syariah: Dari Konsumtif Menuju Mandiri

​Ekonomi Syariah menawarkan kerangka kerja keuangan yang sangat relevan untuk mengatasi fenomena Gozami melalui tiga langkah utama:

​1. Reorientasi Konsep Rezeki dan Skala Prioritas

​Dalam Islam, pengeluaran diatur berdasarkan hirarki kebutuhan: Dharuriyaat (pokok), Haajiyat (sekunder), dan Tahsiniyat (tersier). Keuangan Syariah mengajarkan pengelolaan arus kas yang disiplin: dahulukan kebutuhan pokok dan lunasi kewajiban sebelum memenuhi keinginan gaya hidup.

​2. Menjauhi Riba dan Beban Utang Non-Produktif

​Ekonomi Syariah secara tegas melarang skema ribawi dan pembiayaan yang bersifat spekulatif (gharar). Prinsip ini mengajarkan Gen Z untuk tidak mengonsumsi barang yang belum mampu dibeli secara tunai. Utang hanya diperbolehkan untuk hal yang benar-benar darurat atau bersifat produktif, bukan untuk menopang lifestyle.

​3. Keberkahan Melalui Instrumen Ziswaf dan Investasi Halal

​Alih-alih menyalurkan sisa uang untuk hal konsumtif, Keuangan Syariah mendorong anak muda untuk mengalokasikan dananya pada instrumen produktif. Melalui Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf), Gen Z dilatih memiliki empati sosial sekaligus menyucikan harta. Selain itu, hadirnya instrumen reksa dana syariah, saham syariah, atau sukuk tabungan memberikan wadah bagi Gen Z untuk membiakkan uang secara halal dan aman dari jerat investasi bodong.

​Penutup: Menuju Generasi Muda yang Mandiri Secara Finansial

​Fenomena Gozami dan krisis keuangan Gen Z adalah alarm keras bagi kita semua. Untuk mencapai kemandirian ekonomi, Gen Z tidak hanya butuh penghasilan yang cukup, tetapi juga pemahaman yang benar tentang cara mengelola uang.

​Ekonomi Syariah menyajikan fondasi yang kokoh: mengajarkan keseimbangan antara konsumsi, ketahanan finansial masa depan, dan kepedulian sosial. Jika Gen Z mampu mempraktikkan gaya hidup finansial yang syar'i—bijak, bebas utang ribawi, dan produktif—maka "Gozami" bukan lagi ancaman, dan kemandirian ekonomi Indonesia bukan lagi sekadar impian.