Dunia Kerja Belum Inklusif: Problematika Rekrutmen bagi Pelamar Tuli

Manajemen, fakultas Bisnis dan Ekonomi, Mahasiswa aktif, Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Maulana Hasanuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mari tengok bursa kerja kita. Riuh, penuh harapan, tapi menyimpan satu realitas yang ironis. Bayangkan Anda menjadi pelamar Tuli. Puluhan lamaran disebar, puluhan kali pula ditolak. Alasannya bukan karena portofolio buruk atau minim keterampilan, melainkan tereliminasi semata-mata karena mentok di sesi wawancara. Perusahaan jarang menyediakan Juru Bahasa Isyarat (JBI). HRD pun enggan beradaptasi, padahal tanya jawab bisa diakali dengan mudah lewat ketikan teks di ponsel. Hasilnya? Fenomena gugur wawancara terjadi massal. Akar masalahnya sangat jelas: bukan pada kondisi disabilitas pelamar, melainkan pada dunia kerja kita yang masih gagap merespons budaya komunikasi visual.
Hambatan ini bahkan sudah dimulai jauh sebelum wawancara, tepatnya di lembar syarat lowongan. Ada satu kebiasaan HRD yang tanpa sadar membangun tembok tebal diskriminasi, yakni jurus salin-tempel syarat klasik: "mampu berkomunikasi lisan dan tulisan dengan baik". Satu kalimat itu berakibat fatal karena langsung menutup pintu rapat-rapat bagi pelamar Tuli. Ironisnya, syarat kaku ini sering dipaksakan untuk posisi back-office (seperti desainer grafis, programmer IT, atau staf admin data) yang murni bertumpu pada keterampilan teknis, bukan kemampuan vokal setiap saat.Kesalahan Fatal HRD yang Jarang Disadari
Kesalahan Fatal HRD di Dunia Kerja yang Jarang Disadari
Jika pun pelamar Tuli berhasil lolos seleksi berkas, ujian di meja wawancara justru sering kali lebih bias. Minimnya kepekaan terhadap budaya Tuli membuat pewawancara salah tingkah, seperti berbicara sambil menutupi mulut atau menilai kandidat Tuli pasif hanya karena pola kontak matanya berbeda. HRD sering lupa bahwa menilai cara komunikasi orang Tuli dengan standar orang dengar adalah hal yang tidak adil dan langsung mematikan potensi mereka.
Sudut pandang bias ini harus segera diubah. Perusahaan perlu menyadari bahwa Tuli bukanlah sekadar kekurangan medis yang butuh dikasihani. Teman-teman Tuli memiliki identitas budayanya sendiri dengan bahasa ibu berupa bahasa isyarat. Meminta akomodasi teks atau kehadiran JBI saat rekrutmen bukanlah bentuk permintaan belas kasihan, melainkan pemenuhan hak kesetaraan. Sama halnya seperti menyediakan jalan landai bagi pengguna kursi roda, kehadiran JBI adalah fasilitas dasar agar semua kandidat bisa bersaing di garis start yang sama.
Untuk itu, standar operasional rekrutmen yang usang harus berani dibongkar lewat langkah-langkah praktis:
Menyediakan opsi wawancara teks: Perusahaan bisa memanfaatkan ketikan langsung di laptop atau layar tablet untuk sesi tanya jawab yang lebih aksesibel.
Membuka ruang untuk JBI: Secara terbuka mempersilakan dan mengakomodasi kandidat yang membawa Juru Bahasa Isyarat (JBI) pendamping saat sesi wawancara berlangsung.
Beralih ke tes berbasis proyek riil: Alih-alih mengandalkan tanya jawab lisan yang normatif, HRD bisa merancang studi kasus agar kandidat membuktikan kemampuannya lewat hasil kerja nyata.
Membawa Keunikan Budaya Tuli ke Dalam Dunia Kerja
Kini, coba posisikan diri Anda di kursi pelamar tersebut. Duduk di ruang wawancara lalu ditatap oleh HRD dengan rasa kasihan, bingung, atau canggung tentu terasa menyesakkan. Betapa lelahnya batin mereka ketika setiap kali melamar kerja, mereka harus merasa sungkan atau terpaksa memohon agar pewawancara mau mengetik pertanyaan di layar. Meminta hak komunikasi ini sering kali membuat mereka merasa seperti sedang mengemis belas kasihan.
Rasa frustrasi ini akan terus berulang jika industri enggan menurunkan ego mayoritasnya. Perusahaan sering takut bahwa mengakomodasi budaya Tuli berarti menurunkan standar kerja. Itu salah besar. Sebuah tim yang inklusif justru akan tumbuh menjadi lebih peka, kreatif, dan tangguh. Sangat disayangkan jika talenta-talenta hebat harus tersingkir hanya karena pihak perekrut malas mencari cara untuk berinteraksi.
Perubahan sistemik ini harus diterapkan hingga ke cara perusahaan mengelola karyawan sehari-hari melalui dua prinsip utama:
Menghargai Kapasitas, Bukan Mengasihani: Berhentilah bersikap seolah sedang melakukan amal sosial. Pekerjakan dan libatkan kandidat Tuli murni karena kompetensinya. Hargai ketajaman visual mereka dalam menyelesaikan tugas. Rasa dihargai sebagai sesama profesional inilah yang akan memicu loyalitas kerja yang luar biasa.
Evaluasi Berbasis Hasil Nyata: Ubah tolak ukur penilaian. Jangan jadikan kelancaran berbicara sebagai standar keberhasilan. Fokuslah pada bukti nyata pencapaian target proyek dan kualitas pekerjaan teknisnya.
Yuk, Wujudkan Dunia Kerja yang Lebih Inklusif!
Kualitas hasil kerja jelas lebih berharga daripada sekadar kelancaran basa-basi saat wawancara. Impian mewujudkan dunia kerja yang inklusif hanya akan menjadi slogan kosong jika pintu masuk utamanya masih digembok rapat oleh ketidaktahuan. Industri tidak akan pernah mendapatkan talenta terbaik jika sistem seleksinya masih membuang mereka yang potensial. Saatnya membuka pikiran. Berhentilah memaksakan standar usang yang kaku. Sudah waktunya ekosistem profesional kita belajar untuk mendengar dengan mata.
